Blog

  • Dimulai dari Syamsudin Noor: Banjarbaru Street Art Festival Menjadi Simbol Sinergi Budaya dan Ekonomi Kreatif Menuju Banjarbaru Kota Kreatif dan Tuan Rumah ICCF 2027

    Dimulai dari Syamsudin Noor: Banjarbaru Street Art Festival Menjadi Simbol Sinergi Budaya dan Ekonomi Kreatif Menuju Banjarbaru Kota Kreatif dan Tuan Rumah ICCF 2027

    BANJARBARUEMAS.COM — Di balik laju pembangunan kota yang kian dinamis, denyut kebudayaan warga Banjarbaru justru tumbuh dari ruang-ruang sederhana di tingkat kelurahan. Salah satunya tampak di Kelurahan Syamsudin Noor, Kecamatan Landasan Ulin, yang melalui gerakan “Syam Noor BerSatu – BerKreasi” bersama Tim Banjarbaru Street Art Festival (BSAF) tengah menyiapkan festival budaya berbasis partisipasi warga.

    Pada Senin sore (10/11/2025), aula kelurahan Syamsudin Noor menjadi pusat semangat kolaborasi. Lurah Syamsudin Noor, Panitia inti, tokoh masyarakat, dan tim BSAF berkumpul dalam rapat pemantapan menjelang Karnaval Hari Pahlawan Syamsudin Noor 2025.

    Pada rapat sebelumnya, Ketua Panitia Zainul menegaskan, kegiatan ini bukan sekadar festival tahunan, melainkan simbol persatuan warga. “Dari semangat kecil di tingkat kelurahan, kini berkembang menjadi gerakan budaya kecamatan. Ini bukti bahwa kreativitas warga bisa menjadi energi sosial yang menggerakkan Banjarbaru,” ujarnya.

    Festival yang mengusung tema “Dari Warga untuk Warga” ini akan mencapai puncaknya pada Sabtu, 15 November 2025, dengan perhelatan Karnaval Hari Pahlawan Syamsudin Noor 2025. Mengambil rute sepanjang 3,88 kilometer, karnaval dimulai dari Ruang Terbuka Hijau (RTH) Wella Mandiri dan berakhir di Kantor Kelurahan Syamsudin Noor.

    Ratusan peserta dari berbagai kelompok warga, pelajar, komunitas seni, dan UMKM akan menampilkan harmoni antara seni jalanan, kostum tematik, musik tradisional, hingga teatrikal perjuangan. Tema besar tahun ini—“Meneladani Jiwa Juang Pahlawan untuk Menumbuhkan Semangat Syamsudin Noor Bersatu dan Berkreasi dalam Pembangunan Menuju Era Banjarbaru Emas”—menjadi benang merah yang memadukan nilai patriotisme dan kreativitas lokal.

    Penilaian dilakukan berdasarkan tiga kategori utama: kreativitas (40%), harmoni (30%), dan entertain (30%). Aspek visual seperti kostum, properti, dan orisinalitas ide menjadi tolok ukur utama. “Kami ingin melihat bagaimana warga menafsirkan nilai perjuangan dengan gaya mereka sendiri, yang sopan, kreatif, dan tetap berakar pada budaya Banjarbaru,” kata Zainul.

    Untuk memacu semangat partisipasi, panitia menyediakan hadiah total Rp15 juta, terdiri atas Rp7 juta untuk juara pertama, Rp5 juta untuk juara kedua, dan Rp3 juta untuk juara ketiga.

    Selain menjadi ajang ekspresi budaya, kegiatan ini juga sejalan dengan visi besar Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby dalam mewujudkan Banjarbaru Emas (Elok, Maju, Adil, Sejahtera).
    Zainul menyebut, festival ini sekaligus mendukung strategi One District One Product (ODOP) yang dicanangkan Pemko Banjarbaru. “Setiap kelurahan menampilkan potensi unggulannya. Ada yang memamerkan produk UMKM, kuliner, hingga seni tradisional. Semua berangkat dari semangat kemandirian warga,” ucapnya.

    Art Director Banjarbaru Street Art Festival, Isur Loeweng, menilai kegiatan di Syamsudin Noor ini merupakan bagian penting dari perjalanan Banjarbaru menuju kota kreatif yang berkelanjutan. “BSAF adalah wadah untuk menumbuhkan kesadaran budaya yang berpijak pada lokalitas. Banjarbaru memiliki kekayaan ekonomi geografis, budaya, dan kreativitas yang luar biasa. Festival ini menjadi cara untuk menampilkannya ke ruang publik, agar warga bukan hanya penonton pembangunan, tapi juga pencipta nilai budaya,” ujarnya.

    Isur menambahkan, potensi setiap kecamatan di Banjarbaru sangat beragam dan saling melengkapi. “Landasan Ulin menjadi embrio gerakan budaya ini. Tahun depan, kegiatan serupa akan digelar bergiliran di Liang Anggang, Cempaka, Banjarbaru Utara, dan Banjarbaru Selatan, setiap tiga bulan sekali, sehingga ritme kegiatan budaya dan ekonomi kreatif tetap hidup di seluruh wilayah. Semua ini akan bermuara pada satu panggung besar, Banjarbaru Street Art Festival,” katanya.

    Lebih jauh, Isur menilai bahwa kegiatan warga seperti ini selaras dengan semangat Indonesia Creative Cities Festival (ICCF) 2025, yang baru saja digelar di Gedung Malang Creative Center (MCC), Sabtu (8/11/2025). Forum nasional tersebut mempertemukan para kepala daerah, pelaku industri kreatif, dan tokoh budaya dari berbagai kota untuk memperkuat jejaring kota kreatif se-Indonesia. Tahun ini ICCF mengusung tema besar “Nusantaraya: Dari Malang Raya untuk Kreatif Nusantara”, sebuah gerakan lintas budaya, generasi, dan kota yang menegaskan bahwa kreativitas adalah fondasi utama pembangunan berkelanjutan Indonesia.

    Dalam ajang bergengsi itu, Kota Banjarbaru kembali mencuri perhatian nasional melalui kehadiran Wali Kota Hj. Erna Lisa Halaby yang memaparkan konsep Aero City Banjarbaru—sebuah visi pembangunan kota yang kreatif, berdaya saing, dan berkelanjutan. “Apa yang kita lakukan di tingkat kelurahan hari ini adalah fondasi kecil dari visi besar itu. Kalau ICCF mempertemukan jejaring kota kreatif se-Indonesia, maka festival ini memperkuat jejaring sosial dan budaya di akar rumput,” ujar Isur.

    Ia menegaskan, semangat Banjarbaru Street Art Festival harus dipahami sebagai gerakan strategis untuk mempersiapkan Banjarbaru menjadi tuan rumah ICCF 2027. “Kita belajar dari Malang yang sukses menjadi pusat perhatian nasional lewat kreativitas warganya. Banjarbaru harus punya cerita sendiri—cerita yang lahir dari partisipasi warga, dari spirit ‘Dari Warga untuk Warga’,” tegasnya.

    Selain memperkuat posisi Banjarbaru dalam jejaring kota kreatif nasional, kegiatan ini juga diharapkan mampu mempercepat implementasi program One District One Product (ODOP). Melalui festival yang bergilir di setiap kecamatan, potensi ekonomi kreatif lokal—mulai dari kerajinan, kuliner, hingga seni pertunjukan—akan mendapatkan panggung yang lebih luas.

    “Ketika budaya dan ekonomi kreatif berjalan beriringan, maka Banjarbaru tak hanya menjadi kota yang elok secara visual, tapi juga kuat secara sosial dan ekonomi. Dari sinilah Banjarbaru melangkah menuju masa depan sebagai kota kreatif berkelas nasional,” pungkas Isur Loeweng.(be)

  • Momentum Hari Pahlawan di Banjarbaru: Sirajoni, Perjuangan Kini dengan Ilmu dan Empati

    Momentum Hari Pahlawan di Banjarbaru: Sirajoni, Perjuangan Kini dengan Ilmu dan Empati

    BANJARBARUEMAS.COM — Di bawah langit cerah Kota Banjarbaru, suasana khidmat menyelimuti Lapangan Doktor Murdjani pada Senin (10/11/2025) pagi. Pemerintah Kota Banjarbaru menggelar Upacara Peringatan Hari Pahlawan 2025, sebuah momentum untuk meneguhkan kembali semangat juang yang diwariskan para pendiri bangsa.

    Dengan mengusung tema “Pahlawan Teladanku, Terus Bergerak Melanjutkan Perjuangan”, upacara ini dipimpin oleh Sekretaris Daerah Kota Banjarbaru, Sirajoni, dan dihadiri jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), para Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), ASN, serta personel TNI dan Polri.

    Dalam amanatnya, Sirajoni mengajak seluruh peserta untuk menundukkan kepala dan mengenang jasa para pahlawan yang telah berkorban demi kemerdekaan bangsa.

    “Mereka bukan sekadar nama yang terukir di batu nisan, melainkan cahaya yang menerangi jalan kita hingga hari ini. Dari Surabaya hingga Banda Aceh, dari Ambarawa hingga Biak, mereka berjuang bukan demi dirinya sendiri,” ucapnya penuh haru.

    Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa di masa kini, bentuk perjuangan telah berubah. Jika dulu bambu runcing menjadi simbol perlawanan, maka kini perjuangan diwujudkan melalui ilmu pengetahuan, empati, dan pengabdian.

    “Namun semangatnya tetap sama: membela yang lemah, memperjuangkan keadilan, dan memastikan tidak ada satu pun anak bangsa yang tertinggal dari arus kemajuan. Inilah semangat yang terus dihidupkan melalui Asta Cita Presiden Prabowo Subianto,” tambahnya.

    Momentum Hari Pahlawan ini menjadi refleksi bagi jajaran Pemerintah Kota Banjarbaru untuk memperkuat komitmen dalam melanjutkan perjuangan para pendahulu. Pemerintah kota menegaskan tekad untuk membangun Banjarbaru yang berkeadilan, berkelanjutan, dan berdaya saing, sejalan dengan semangat nasionalisme dan nilai-nilai pengabdian yang diwariskan para pahlawan.(be)

  • Wali Kota Hj. Erna Lisa Halaby Hadiri High Level Meeting TP2DD Provinsi Kalsel di Bali

    Wali Kota Hj. Erna Lisa Halaby Hadiri High Level Meeting TP2DD Provinsi Kalsel di Bali

    BANJARBARUEMAS.COM — Pemerintah Kota Banjarbaru menegaskan komitmennya untuk mempercepat transformasi digital tata kelola keuangan daerah. Hal ini disampaikan Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby setelah menghadiri High Level Meeting dan Capacity Building Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) wilayah Kalimantan Selatan di Bali, Jumat (7/11/2025).

    Kegiatan yang diinisiasi oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan tersebut dihadiri oleh Gubernur Kalsel Muhidin, Ketua TP PKK Provinsi Fathul Jannah Muhidin, Ketua DPRD Provinsi Kalsel Supian HK, serta unsur Forkopimda dan Danlanud Syamsudin Noor. Forum strategis ini menjadi sarana memperkuat koordinasi dan sinergi antardaerah dalam memperluas implementasi transaksi keuangan berbasis digital di seluruh wilayah Kalimantan Selatan.
    Dalam arahannya, Wali Kota Lisa menegaskan bahwa transformasi digital merupakan kebutuhan strategis dalam membangun pemerintahan yang transparan, efisien, dan berorientasi pelayanan publik.

    “Pemerintah Kota Banjarbaru terus berperan aktif mendukung program digitalisasi daerah yang diinisiasi oleh Pemerintah Pusat melalui Bank Indonesia dan OJK. Kami berkomitmen memperkuat sistem keuangan daerah berbasis digital untuk meningkatkan transparansi, efisiensi, dan kualitas pelayanan publik kepada masyarakat,” ujar Lisa.

    Lebih lanjut, Lisa menilai bahwa digitalisasi keuangan daerah tidak hanya mempercepat layanan publik, tetapi juga menjadi pondasi dalam menciptakan ekosistem fiskal yang lebih sehat dan terpercaya.

    “Langkah nyata Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan dalam mempercepat dan memperluas digitalisasi daerah ini sangat penting untuk mewujudkan tata kelola keuangan yang transparan, efisien, dan modern. Semoga melalui sinergi dan kolaborasi lintas sektor ini, transformasi digital di Kalimantan Selatan semakin kuat — membawa pelayanan publik yang lebih cepat, akurat, dan berdampak langsung bagi masyarakat,” ucap Wali Kota Lisa.

    Menurutnya, transformasi digital tidak hanya soal teknologi, tetapi juga soal perubahan budaya kerja birokrasi menuju pemerintahan yang lebih adaptif dan responsif.

    “Momentum ini harus menjadi penguat solidaritas seluruh daerah di Kalimantan Selatan dalam mendorong transformasi digital yang berkelanjutan,” tambahnya.

    Langkah yang ditempuh Banjarbaru sejalan dengan visi Banjarbaru Emas, yang menempatkan efisiensi, inovasi, dan integritas sebagai pilar utama tata kelola pemerintahan modern. Pemerintah Kota Banjarbaru telah mengimplementasikan berbagai inisiatif digital seperti pembayaran pajak dan retribusi secara elektronik, sistem e-budgeting, serta optimalisasi layanan publik berbasis aplikasi.

    Keberadaan TP2DD di tingkat provinsi dan kabupaten/kota menjadi instrumen penting dalam menyinergikan kebijakan fiskal daerah dengan arah transformasi ekonomi digital nasional. Selain memperkuat penerimaan daerah, digitalisasi transaksi juga diharapkan mampu menekan kebocoran anggaran dan mempercepat layanan publik yang akurat serta akuntabel.

    High Level Meeting TP2DD di Bali adalah simbol kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat tata kelola keuangan daerah yang cerdas dan berkelanjutan.
    Dengan semangat tersebut, Banjarbaru menegaskan diri sebagai kota yang siap menghadapi era pemerintahan digital — pemerintahan yang cerdas dalam sistem, bersih dalam pengelolaan, dan berkeadaban dalam melayani.(be)

  • Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby Kunjungi Asrama Mahasiswa di Malang

    Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby Kunjungi Asrama Mahasiswa di Malang

    BANJARBARUEMAS.COM – Dalam rangkaian kunjungan kerjanya di Kota Malang, Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby pada Sabtu (8/11/2025) menyempatkan diri mengunjungi Asrama Mahasiswa Idaman Banjarbaru yang berlokasi di Jalan Candi Panggung No.3C, Mojolangu, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Kehadiran Wali Kota disambut hangat oleh para mahasiswa dan mahasiswi asal Banjarbaru yang tengah menempuh pendidikan di kota pendidikan tersebut.

    Kunjungan itu berlangsung penuh keakraban. Wali Kota Lisa tampak berbincang santai sekaligus mendengarkan secara langsung aspirasi, kebutuhan, serta perkembangan akademik para mahasiswa. Ia menegaskan pentingnya menjaga semangat belajar dan integritas selama berada di perantauan.

    “Kalian adalah duta Banjarbaru di Kota Malang. Jaga nama baik kota kita, fokuslah pada studi, dan setelah lulus, kembalilah dengan ilmu untuk membangun Banjarbaru yang lebih maju,” ujar Wali Kota Lisa dalam pesannya kepada mahasiswa.

    Selain berdialog, Wali Kota juga meninjau kondisi fisik asrama. Ia memeriksa sejumlah fasilitas seperti kamar, ruang belajar, serta area umum untuk memastikan kelayakan dan kenyamanan tempat tinggal mahasiswa. Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota meminta kepada Bagian Umum Pemerintah Kota Banjarbaru untuk segera melakukan perbaikan terhadap beberapa fasilitas yang rusak dan tidak lagi memadai.

    Menurut Lisa, perhatian terhadap asrama mahasiswa merupakan bagian dari komitmen Pemerintah Kota Banjarbaru dalam mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia, terutama bagi generasi muda yang sedang menempuh pendidikan di luar daerah.

    “Asrama ini bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga ruang tumbuh dan belajar. Pemerintah harus hadir memastikan anak-anak Banjarbaru bisa belajar dengan nyaman dan aman,” katanya.

    Sebagai bentuk dukungan moral dan motivasi, Wali Kota Lisa juga menyerahkan bantuan pribadi yang diterima langsung oleh perwakilan pengurus asrama. Bantuan tersebut akan digunakan untuk mendukung kegiatan mahasiswa Banjarbaru di Malang, baik dalam bidang akademik maupun sosial kemasyarakatan.

    Para mahasiswa menyambut kunjungan tersebut dengan penuh antusias dan rasa haru. Mereka menilai kehadiran langsung Wali Kota menjadi bukti nyata kepedulian Pemerintah Kota Banjarbaru terhadap warganya di perantauan.

    Ketua Asrama Idaman Putra, Fadil, menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas perhatian dan kepedulian yang ditunjukkan Wali Kota Banjarbaru.

    “Kami sangat berterima kasih karena Ibu Wali telah meluangkan waktu untuk datang dan melihat langsung kondisi kami di sini. Kehadiran beliau menjadi penyemangat sekaligus bukti nyata perhatian Pemerintah Kota Banjarbaru terhadap mahasiswa di perantauan,” ujarnya.

    Sementara itu, Ahmad Faruk, Bendahara Asrama Idaman, turut menyampaikan terima kasih atas bantuan pribadi yang diberikan Wali Kota.

    “Kami benar-benar berterima kasih kepada Ibu Wali atas bantuan sebesar Rp 25 juta yang diberikan dari dana pribadi beliau. Bantuan ini sangat berarti bagi kami untuk menunjang kebutuhan dan kegiatan mahasiswa Banjarbaru di Malang,” ungkapnya.

    Hal serupa diungkapkan Elma, salah satu mahasiswi asal Banjarbaru yang berkuliah di Malang.
    “Rasanya senang sekali karena kami diperhatikan dan dikunjungi langsung. Ini menjadi motivasi bagi kami agar semakin semangat belajar dan tetap membawa nama baik Banjarbaru,” katanya.

    Menutup pertemuan tersebut, Wali Kota Erna Lisa berharap agar para mahasiswa Banjarbaru yang sedang menimba ilmu di luar daerah dapat terus berprestasi dan menjaga kekompakan.

    “Saya titip pesan agar tetap menjaga nama baik Banjarbaru, belajar dengan sungguh-sungguh, dan terus menjalin kebersamaan di antara sesama mahasiswa Banjarbaru,” pungkasnya.

    Di bawah kepemimpinan Wali Kota Hj. Erna Lisa Halaby, Banjarbaru sedang terus menumbuhkan nilai, karakter, serta rasa kebersamaan antara pemerintah dan warganya. Kehadiran Wali Kota Lisa di tengah mahasiswa perantau menjadi wujud nyata investasi sosial jangka panjang, yakni upaya menyiapkan generasi muda Banjarbaru yang berilmu, berkarakter, dan siap menjadi penggerak utama kemajuan kota di masa depan.(be)

  • Banjarbaru dan “Tiga Gula” di Meja Resto: Kuliah Singkat tentang Identitas dan Welas Asih Kota Kreatif

    Banjarbaru dan “Tiga Gula” di Meja Resto: Kuliah Singkat tentang Identitas dan Welas Asih Kota Kreatif

    BANJARBARUEMAS.COM– Malam di Malang turun perlahan. Sepulang dari kunjungan ke Asrama Idaman Banjarbaru mendampingi Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby, Prof. Husaini menawari kami singgah menikmati secangkir kopi khas Malang di resto hotel tempat rombongan menginap.


    Awalnya hanya niat melepas lelah setelah hari panjang mengikuti rangkaian Indonesia Creative Cities Festival (ICCF) 2025, namun suasana di meja panjang itu justru berubah hangat dan penuh makna.
    Bukan sekadar obrolan santai selepas acara, melainkan perbincangan padat gagasan antara Prof. Husaini, anggota Tim Percepatan Pembangunan Daerah, dengan kawan-kawan Banjarbaru Emas Creative Centre (BECC). Dalam waktu singkat, suasana menjelma menjadi kelas terbuka tentang arah dan identitas kota kreatif Banjarbaru.
    “Rasanya seperti kuliah tiga SKS langsung dari sang profesor,” ujar Narwanto, koordinator BECC, tersenyum. “Setiap kalimatnya daging semua.”


    Pertemuan itu berlangsung di sela-sela Indonesia Creative Cities Festival (ICCF) 2025, ajang tahunan yang mempertemukan para penggerak kota kreatif se-Indonesia. Di balik gemerlap panggung utama Malang Creative Center, diskusi kecil inilah yang justru menyalakan api baru: bagaimana Banjarbaru menemukan identitas kreatifnya sendiri.
    Sejak Deklarasi 10 Prinsip Kota Kreatif tahun 2015, Indonesia Creative Cities Network (ICCN) menjadi ruang kolaborasi lintas daerah. Di sanalah konsep Hexahelix—kolaborasi antara pemerintah, akademisi, bisnis, komunitas, media, serta unsur hukum—menjadi fondasi pembangunan kreatif yang inklusif dan berkelanjutan.
    Kehadiran Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby pada ICCF 2025 menjadi momen yang telah lama dinanti. “Sudah hampir lima tahun ICCN menunggu Banjarbaru hadir,” kata Narwanto. “Dan tahun ini, di bawah kepemimpinan Ibu Lisa, Banjarbaru datang dengan energi baru.”
    Wali kota yang dikenal berkarakter lembut namun tegas itu memperkenalkan konsep Aero City—sebuah visi kota yang berpijak pada kreativitas, keberlanjutan, dan kemanusiaan. Konsep ini bukan hanya tentang tata ruang dan infrastruktur, tetapi tentang jiwa kota: bagaimana Banjarbaru menjadi tempat hidup yang menumbuhkan kebahagiaan warganya.


    Dalam diskusi itu, Prof. Husaini melemparkan pertanyaan yang menggugah:
    “Kalau ditanya, apa yang khas dari Banjarbaru, seperti kuliner dan budaya khas apa jawab kita?”
    Hening sejenak. Lalu ia menunjuk tiga wadah gula di atas meja: gula jawa, gula pasir, dan gula rendah kalori.
    “Banjarbaru itu seperti tiga gula ini,” ujarnya. “Ada Banjar, Jawa, Dayak, Bugis, Batak, Melayu—semuanya hidup berdampingan. Kalau mau menjadi khas Banjarbaru, campurkan semua jadi satu rasa baru. Itulah Banjarbaru.”

    Metafora itu menjadi renungan mendalam bagi tim BECC. Kota ini memang lahir dari perpaduan—bukan sekadar demografi, tapi juga semangat keterbukaan. Banjarbaru tidak menolak perbedaan, justru merayakannya.
    Menurut Prof. Husaini, Banjarbaru perlu menemukan titik tolak sejarah untuk membangun identitas kulturalnya.
    “Mulailah dari Cempaka,” katanya, merujuk pada wilayah legendaris tempat ditemukannya Intan Trisakti pada 26 Agustus 1965—batu mulia 166,75 karat yang dinamai Presiden Soekarno.

    “Intan Trisakti bukan hanya batu permata. Ia simbol tentang ketekunan, harapan, dan kebanggaan lokal,” ujarnya.

    Gagasan ini kemudian berkembang menjadi ide living museum yang diusulkan BECC—sebuah “museum hidup” yang melibatkan masyarakat Cempaka sebagai pelaku utama dalam merawat sejarah dan budaya mereka.

    “Cempaka bisa menjadi ikon kota kreatif yang bernilai kemanusiaan dan edukatif,” kata Narwanto. “Kita ingin orang datang bukan sekadar melihat, tapi mengalami kehidupan dan semangat warga Banjarbaru.”

    Dalam berbagai kesempatan, Wali Kota Hj. Erna Lisa Halaby menunjukkan bahwa kreativitas tidak bisa tumbuh tanpa welas asih. Kepemimpinannya sering menonjol dalam merespons cepat berbagai peristiwa sosial dan kemanusiaan di Banjarbaru—mulai dari penanganan korban kebakaran, bantuan bagi warga terdampak musibah, hingga pemberdayaan kelompok rentan dan lansia.
    Lisa meyakini, kota yang maju juga diukur dari tingkat empati warganya. “Kota yang kuat adalah kota yang saling peduli,” ujarnya dalam satu kesempatan.

    Pandangan ini sejalan dengan gagasan “Kota Welas Asih” (Compassionate City)—sebuah gerakan global yang dipelopori Compassion Action International. Kota yang bergabung dalam jejaring ini berkomitmen menumbuhkan empati, kasih sayang, dan solidaritas sosial sebagai fondasi pembangunan.

    Jika Banyuwangi menjadi kota pertama di Indonesia yang menandatangani Piagam Welas Asih, maka Banjarbaru perlahan menapak ke arah yang sama—dengan semangat keterbukaan dan kepedulian yang telah menjadi budaya warganya sejak lama.

    Banjarbaru adalah kota yang ramah terhadap siapa pun yang datang. Tidak ada garis batas yang tegas antara pendatang dan warga lama. Semua diterima sebagai bagian dari keluarga besar Banjarbaru. Itulah sebabnya, sebut Prof. Husaini, “Banjarbaru bukan hanya kota kreatif, tapi juga kota welas asih.”
    Di panggung besar ICCF 2025, Wali Kota Lisa menegaskan bahwa Aero City adalah panggilan untuk menata kehidupan kota yang berpihak pada manusia.
    “Banjarbaru ingin terbang tinggi, tapi dengan hati yang tetap membumi,” katanya.

    Dari meja resto di Malang hingga mimbar konferensi kreatif nasional, semangat itu terasa sama: kolaboratif, humanis, dan penuh kasih. Banjarbaru sedang membangun  ruang batin—ruang tempat empati dan kreativitas tumbuh berdampingan.

    Seperti tiga gula di meja resto itu—berbeda jenis namun ketika disatukan manisnya menjadi khas—itulah Banjarbaru: kota yang sedang menyiapkan diri menjadi ruang hidup yang ramah, inklusif, dan berwelas asih.
    Di bawah kepemimpinan Wali Kota Hj. Erna Lisa Halaby, Banjarbaru tumbuh sebagai kota yang menumbuhkan empati dan kebersamaan warganya.
    Kota ini kini berdiri tegak di simpang jalan masa depan, siap menjadi bagian penting dalam jejaring kota-kota kreatif Indonesia, dan memberi warna tersendiri dengan manisnya yang khas: manisnya kolaborasi, kreativitas, dan kasih.(be)

  • Wali Kota Banjarbaru Membawa Konsep Aero City ke ICCF 2025

    Wali Kota Banjarbaru Membawa Konsep Aero City ke ICCF 2025

    Erna Lisa Halaby Tegaskan Banjarbaru Siap Jadi Bagian Jaringan Kota Kreatif Indonesia

    BANJARBARUEMAS.COM — Kota Banjarbaru kembali mencuri perhatian di tingkat nasional. Dalam ajang bergengsi Indonesia Creative Cities Festival (ICCF) 2025, Wali Kota Hj. Erna Lisa Halaby hadir dalam membawa konsep Aero City sebagai wajah baru pembangunan Banjarbaru yang kreatif, berdaya saing, dan berkelanjutan.

    Forum yang digelar di Gedung Malang Creative Center (MCC), Sabtu (8/11/2025), ini menjadi wadah bertemunya para kepala daerah, pelaku industri kreatif, dan tokoh nasional dalam rangka memperkuat jejaring kota kreatif se-Indonesia. Tahun ini, ICCF mengusung tema besar “Nusantaraya: Dari Malang Raya untuk Kreatif Nusantara” — sebuah gerakan lintas budaya, generasi, dan kota untuk menegaskan bahwa kreativitas adalah fondasi utama pembangunan berkelanjutan Indonesia.

    Dalam International Conference ICCF 2025, Wali Kota Lisa tampil bersama Wakil Bupati Sumedang, Wakil Bupati Jeneponto, dan Bupati Blitar dalam sesi kedua panel.

    Di hadapan peserta konferensi, Lisa menegaskan bahwa Banjarbaru siap menjadi bagian dari jejaring Kota Kreatif Indonesia. Ia menyoroti bagaimana kreativitas warga dan inovasi tata ruang menjadi kunci utama arah pembangunan daerah.

    “Banjarbaru siap menjadi bagian dari jaringan Kota Kreatif Indonesia. Kami membawa semangat inovasi dari masyarakat, bukan hanya untuk mempercantik kota, tetapi untuk menciptakan ruang hidup yang berdaya, berkelanjutan, dan membahagiakan warganya,” tegas Lisa.

    Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Aero City Banjarbaru mencakup kawasan seluas 7.216 hektare di Kecamatan Landasan Ulin dan Kecamatan Liang Anggang. Kawasan ini didesain sebagai simpul transportasi dan pusat ekonomi baru yang terhubung langsung dengan Bandara Internasional Syamsudin Noor.

    “Arus penumpang di bandara yang tinggi membuka peluang besar bagi sektor transportasi, logistik, perdagangan, dan pariwisata. Kami ingin menjadikan kawasan ini sebagai ekosistem kreatif yang menghubungkan ide, industri, dan inovasi,” ujar Lisa.

    “Aero City merupakan strategi membangun masa depan. Kami ingin Banjarbaru tumbuh sebagai kota kreatif berbasis ekologi dan ekonomi pengetahuan,” tambahnya.

    Paparan Wali Kota Lisa mendapat sambutan hangat dari sesama narasumber, Wakil Bupati Sumedang M. Fajar Aldila, yang secara terbuka memberikan apresiasi terhadap kemajuan pesat Banjarbaru dalam bidang pembangunan dan ekonomi kreatif.

    “Saya lihat tadi Banjarbaru sudah keren, itu kan sudah Aero City. Tinggal nanti ke depannya, khususnya di bawah kepemimpinan Wali Kota yang baru, bisa lebih kreatif lagi dan lebih inovatif,” ujar Fajar Aldila.

    Menurutnya, langkah Banjarbaru yang terus berinovasi dalam pembangunan kota menjadi inspirasi bagi daerah lain. Ia menilai konsep Aero City sebagai terobosan yang cerdas karena mampu mengintegrasikan fungsi ekonomi, sosial, dan lingkungan dalam satu rancangan tata ruang yang futuristik.

    “Kalau secara keseluruhan tadi Banjarbaru sudah memuaskan. Ke depan, tinggal bagaimana anak-anak mudanya bisa tercerahkan, lebih terbuka wawasannya, dan menyadari bahwa kita punya banyak potensi ekonomi kreatif yang bisa dikolaborasikan,” tambahnya.

    Fajar berharap, semangat kolaboratif antara pemerintah daerah dan generasi muda Banjarbaru terus diperkuat. Ia meyakini, jika dikelola dengan baik, Banjarbaru akan menjadi kota rujukan nasional dalam pembangunan berbasis ekonomi kreatif dan inovasi lokal.

    “Kolaborasi antara pemerintah dan anak muda itu kunci. Kreativitas tidak boleh berhenti di kota besar saja. Daerah seperti Banjarbaru justru bisa menjadi laboratorium masa depan Indonesia kreatif,” tandas Fajar.

    Selain membawa konsep tata ruang inovatif, Wali Kota Lisa juga menegaskan langkah Banjarbaru memperluas jejaring ekonomi kreatif hingga ke luar negeri. Ia menceritakan bagaimana pihaknya mengundang Minister Counsellor/Ekonomi KBRI Kuala Lumpur, Malaysia untuk berdialog dengan pelaku UMKM Banjarbaru, membuka peluang kerja sama dan akses ekspor produk lokal.

    Pertemuan tersebut menjadi momentum penting untuk memperkenalkan potensi ekonomi kreatif Banjarbaru ke pasar ASEAN.

    “Kami ingin produk-produk Banjarbaru—dari kriya, kuliner, hingga busana—menjadi bagian dari rantai nilai global. Malaysia menjadi mitra strategis karena kedekatan budaya dan semangat serumpun,” tutur Lisa.

    KBRI Kuala Lumpur pun diajak meninjau langsung pameran UMKM di Mess L Banjarbaru, di mana berbagai produk unggulan ditampilkan. Kualitas dan desain produk Banjarbaru dinilai telah memenuhi standar ekspor, memperlihatkan kematangan ekosistem industri kreatif di kota ini.

    ICCF 2025 juga dihadiri oleh tokoh nasional seperti Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Rifky, Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha Djumaryo, dan Ketua Umum ICCN Tubagus Fiki Satari. Dalam forum tersebut, Banjarbaru memantapkan diri sebagai kota kreatif baru di Kalimantan dengan arah pembangunan berbasis inovasi dan kolaborasi.

    Dengan konsep Aero City dan jejaring ekonomi kreatif lintas negara, Banjarbaru di bawah kepemimpinan Erna Lisa Halaby menunjukkan arah baru pembangunan kota di Indonesia — kota yang membangun peradaban dari ide, kolaborasi, dan semangat inovasi warga.

  • Banjarbaru Menata Ulang Denyut Posyandu: Revitalisasi Layanan Dasar dalam Enam Bidang Strategis

    Banjarbaru Menata Ulang Denyut Posyandu: Revitalisasi Layanan Dasar dalam Enam Bidang Strategis

    BANJARBARUEMAS.COM — Di sela kegiatan di Kota Malang, Prof. Dr. Husaini, SKM., M.Kes — Staf Ahli Tim Penggerak PKK dan Tim Pengerak Posyandu Kota Banjarbaru — berbagi pandangan yang menukik tentang arah baru penguatan Posyandu di Banjarbaru.
    Dalam percakapan santai namun bernas, ia menyebut Posyandu sebagai “nadi sosial” yang selama ini kerap berdenyut pelan di tengah hiruk pikuk pembangunan kota.

    “Kalau ingin membangun manusia Banjarbaru yang sehat, cerdas, dan berdaya, kita harus mulai dari keluarga. Dan Posyandu adalah pintu masuk paling strategis,” ujarnya.

    Posyandu di masa lalu hanya dikenal sebagai Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat (UKBM). Ia berfokus pada pelayanan ibu dan anak, bersifat swadaya, dan sering kali menjadi “objek” berbagai program sektoral. Namun kini, melalui kebijakan nasional dan arah pembangunan Banjarbaru, Posyandu bergerak ke tahap baru: menjadi lembaga layanan terpadu lintas bidang.

    Revitalisasi kelembagaan Posyandu di Banjarbaru diarahkan untuk mendukung enam bidang pelayanan dasar (Standar Pelayanan Minimal/SPM) yang menjadi indikator utama kualitas hidup masyarakat kota, yaitu:

    1. Kesehatan — mencakup pelayanan gizi balita, kesehatan ibu dan remaja, pemeriksaan penyakit tidak menular, dan pemantauan lansia.
    2. Pendidikan — sebagai sarana literasi keluarga, tempat penyuluhan PAUD, parenting, dan stimulasi tumbuh kembang anak.
    3. Sosial — sebagai simpul deteksi dini kesejahteraan keluarga, penanganan anak rentan, dan penguatan solidaritas sosial.
    4. Pemberdayaan Masyarakat dan Ekonomi Keluarga — Posyandu mendorong pelatihan keterampilan rumah tangga dan akses ekonomi produktif berbasis keluarga.
    5. Lingkungan dan Ketahanan Pangan — integrasi kegiatan urban farming, pemanfaatan pekarangan, dan edukasi pengelolaan sampah rumah tangga.
    6. Perlindungan dan Ketahanan Keluarga — memperkuat peran keluarga sebagai lingkungan aman, inklusif, dan tangguh terhadap perubahan sosial.

    “Enam bidang inilah yang menjadi acuan baru. Posyandu bukan hanya tempat timbang balita, tetapi mini hub pelayanan publik berbasis keluarga,” jelas Prof. Husaini.

    Menurut data tahun 2024, Kota Banjarbaru memiliki 164 Posyandu Balita dan 42 Posyandu Lansia, total 206 Posyandu aktif. Namun pada 2025, setelah proses penataan dan integrasi dilakukan, jumlahnya menjadi 179 Posyandu — terdiri dari 145 Posyandu umum dan 34 Posyandu ILP (Integrasi Layanan Primer).

    “Data tersebut merupakan wujud penataan kelembagaan agar layanan lebih fokus dan efektif,” ungkapnya.

    Kendati demikian, sejumlah tantangan struktural dan teknis masih perlu ditangani:

    • Kelembagaan dan Legalitas: Masih terdapat Posyandu yang belum memiliki dasar pengesahan sebagai lembaga pelayanan di tingkat kelurahan.
    • Fasilitas dan Infrastruktur: Tidak semua Posyandu memiliki gedung tetap dan sarana pendukung yang layak. Banyak kegiatan masih meminjam ruang publik atau fasilitas RT/RW.
    • Kualitas SDM Kader: Dari sisi kuantitas dan kompetensi, masih perlu peningkatan. “Kader adalah ujung tombak pelayanan sosial kita. Mereka butuh pembinaan berkelanjutan,” kata Husaini.
    • Koordinasi Lintas Sektor: Sinergi antara Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, Dinas Pemberdayaan Perempuan, dan Tim Penggerak PKK perlu diperkuat dalam satu sistem koordinatif.
    • Dukungan Anggaran: Pembiayaan kegiatan dan peningkatan kapasitas kader masih bergantung pada program tahunan, belum terlembaga dalam budgeting lintas dinas.

    Di era H. Riandy Hidayat sebagai Ketua TP Posyandu Kota Banjarbaru ditandai babak baru dalam penguatan kelembagaan Posyandu. Pemerintah Kota Banjarbaru tengah merancang peta jalan revitalisasi Posyandu 2025–2030, dengan tiga arah strategis utama:

    1. Penguatan Layanan Enam Bidang SPM – Melalui sinergi antara PKK, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, Dinas PU, Dinas Perumahan dan Pemukiman, Dinas terkait ketertiban umum, serta sosial dan kelurahan, Posyandu akan menjadi pusat layanan terpadu berbasis keluarga.
    2. Peningkatan Kapasitas dan Insentif Kader – Pelatihan kader diarahkan tidak hanya pada kesehatan, tetapi juga literasi digital, ekonomi keluarga, dan advokasi sosial.
    3. Integrasi Digital dan Data Keluarga Terpadu – Posyandu akan menjadi bagian dari sistem informasi kesehatan kota, memungkinkan pemantauan data gizi, penyakit, dan intervensi sosial secara real-time.

    Menurut Prof. Husaini, langkah-langkah ini selaras dengan pendekatan human-centered governance, di mana setiap kebijakan kota berorientasi pada kesejahteraan manusia melalui pemberdayaan keluarga.

    Posyandu kini tidak lagi sekadar ruang kecil di lingkungan RT yang berisi meja timbang dan buku KMS. Ia sedang ditata ulang menjadi ruang sosial baru — tempat warga belajar hidup sehat, mengenal literasi gizi, berbagi keterampilan, dan membangun solidaritas keluarga urban.

    “Banjarbaru harus menjadi model kota yang menempatkan keluarga sebagai pusat pembangunan. Dan Posyandu adalah instrumen paling efektif untuk mencapainya,” tegas Husaini.

    Revitalisasi Posyandu bukan sekadar penyesuaian kelembagaan, tetapi pergeseran paradigma pembangunan kota.
    Kota yang sehat diantaranya ditentukan kuatnya jaringan sosial keluarga yang saling menopang.

    “Ketika Posyandu kuat, keluarga terlayani dengan baik. Ketika keluarga kuat, maka kota pun tumbuh sehat,” tutup Prof. Husaini.

    Banjarbaru kini tengah merajut harapan itu — menata denyut Posyandu bukan sekadar sebagai ruang pelayanan, melainkan pusat peradaban kecil yang menjaga keseimbangan antara kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan sosial warganya.(be)

  • Hari Kedua ICCF 2025: Dari Kebun Apel hingga Pasar Induk Among Tani, Kota Batu Menjadi Laboratorium Ekonomi Kreatif Nusantara

    Hari Kedua ICCF 2025: Dari Kebun Apel hingga Pasar Induk Among Tani, Kota Batu Menjadi Laboratorium Ekonomi Kreatif Nusantara

    BANJARBARUEMAS.COM — Hari kedua pelaksanaan Indonesia Creative Cities Festival (ICCF) 2025, Jumat (7/11/2025), menghadirkan perjalanan penuh inspirasi yang mempertemukan tradisi, inovasi, dan kolaborasi lintas kota di bawah tema besar “Nusantaraya Senyawa Malang Raya: Dari Malang Raya untuk Kreatif Nusantara.”

    Rangkaian kegiatan hari itu merupakan pembelajaran kolektif tentang bagaimana ekonomi kreatif tumbuh dari keseharian masyarakat, dari sawah dan kebun hingga ruang digital dan festival budaya.

    Pagi hari dimulai di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu — hamparan kebun apel yang rapi menjadi laboratorium terbuka bagi ratusan peserta ICCF dari seluruh Indonesia. Di sinilah konsep agro kreatif diwujudkan: menggabungkan sektor pertanian dengan wisata edukatif dan industri olahan lokal.

    Peserta tak hanya menikmati pengalaman petik apel langsung dari pohon, tetapi juga menyaksikan proses produksi kripik apel, kripik sayur, dan olahan khas Batu yang kini menembus pasar nasional.

    “Pertanian tidak hanya menghasilkan bahan pangan, tapi juga pengalaman ekonomi kreatif yang bernilai budaya,” ujar seorang pelaku UMKM lokal yang menjadi narasumber tur.

    Usai tur agro, peserta bergerak menuju beberapa titik unggulan Kota Batu: Masjid Agung An-Nur sebagai titik nol kota, KUD Susu Batu, dan Alun-Alun Kota Batu yang menjadi ruang publik penuh aktivitas. Di sana, peserta menikmati jajanan kaki lima khas Batu — dari susu segar hingga sate kelinci — sembari mendokumentasikan momen kebersamaan lintas komunitas kreatif.

    City tour ini juga menjadi bagian dari upaya memperkenalkan konsep kota wisata yang berpihak pada kesejahteraan warga, di mana budaya, ekologi, dan ekonomi saling menyatu.

    Selepas salat Jumat, rombongan ICCF diarahkan menuju Pasar Induk Among Tani, pusat distribusi terbesar dan termodern di Indonesia Timur. Terletak di Jalan Dewi Sartika, Kelurahan Temas, pasar ini menjadi ikon kebanggaan Kota Batu sekaligus model ideal pengelolaan pasar daerah yang berdaya saing dan ramah lingkungan.

    Bangunan megah tiga lantai ini menaungi ratusan pedagang dan petani lokal. Di lantai dasar, transaksi grosir berlangsung cepat berkat sistem logistik digital. Di lantai tiga, tersedia area kuliner, atraksi budaya Bantengan, serta co-working space untuk pelaku UMKM muda.

    Panitia ICCF memperkenalkan pendekatan unik: setiap peserta dan pengunjung mendapat voucher belanja senilai Rp30.000, yang dapat digunakan langsung di pasar.

    “Konsep seperti ini sederhana tapi efektif. Voucher menjadi cara kreatif menarik warga datang ke pasar, sekaligus memacu pembeli untuk berbelanja lebih banyak. Skema ini bisa diadaptasi di Banjarbaru,” ujar Isur Loeweng dari Banjarbaru Emas Creative Centre (BECC).

    Menurutnya, Pasar Among Tani membuktikan bahwa pasar tradisional bisa tampil bersih, modern, dan berbasis komunitas tanpa kehilangan ruh sosialnya. Inovasi kecil seperti voucher belanja menciptakan perputaran ekonomi lokal yang sehat, meningkatkan daya saing UMKM, dan memperkuat jejaring antarwarga.

    Perjalanan dilanjutkan ke Kampung Tempe Rejoso, tempat produksi tempe legendaris yang kini menjadi bagian dari kampung ekonomi kreatif Batu. Di sana, para peserta belajar bagaimana tradisi produksi tempe diwariskan dan dikemas dengan pendekatan branding modern.

    Tak jauh dari sana, kunjungan berlanjut ke Situs Prasasti Sangguran — peninggalan sejarah era Mataram Kuno — yang menjadi simbol harmoni antara budaya dan ekonomi kreatif masa kini.

    Menjelang sore, seluruh rombongan menuju Balai Kota Batu untuk menghadiri Produk Lokal Fest #7 dan Festival Mbois XII, dua acara puncak yang mempertemukan para pelaku kreatif lintas kota.

    Talkshow bertema “Creativepreneurship & Sustainability” menghadirkan perwakilan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta Kementerian Koperasi dan UKM, yang menegaskan bahwa keberlanjutan menjadi kunci masa depan ekonomi kreatif Indonesia.

    “Festival Mbois bukan sekadar perayaan, tapi ruang ekspresi dan jejaring bisnis yang mempertemukan pelaku kreatif dari berbagai kota di Indonesia,” ujar perwakilan ICCN (Indonesia Creative Cities Network).

    Bagi Banjarbaru, keikutsertaan dalam ICCF 2025 dalam rangka menyerap semangat dan praktik terbaik dari kota-kota kreatif lainnya.

    Pengalaman di Pasar Among Tani, Kampung Tempe, hingga Festival Mbois memberi gambaran konkret bagaimana pemerintah, komunitas, dan sektor swasta dapat bersinergi membangun ekonomi lokal yang inklusif.

    “Banjarbaru memiliki potensi serupa. Dengan jejaring yang kuat dan kolaborasi lintas komunitas, kita bisa membangun pasar rakyat modern, memperkuat UMKM, dan menumbuhkan kota kreatif yang berpihak pada kesejahteraan warganya,” tambah Isur Loeweng.

    Hari kedua ICCF 2025 menegaskan bahwa ekonomi kreatif bukanlah wacana, melainkan gerakan yang lahir dari ruang-ruang sosial — dari kebun apel, dapur tempe, hingga pasar rakyat. Dari Batu untuk Nusantara, dan dari Nusantara untuk Banjarbaru yang lebih kreatif dan berkelanjutan.(be)

  • Dari Malang Raya ke Banjarbaru: Menyemai Semangat Nusantaraya di Jejaring Kota Kreatif Indonesia

    Dari Malang Raya ke Banjarbaru: Menyemai Semangat Nusantaraya di Jejaring Kota Kreatif Indonesia

    BANJARBARUEMAS.COM – Suasana sejuk di Taman Rekreasi Selecta, Kota Batu, Kamis malam (6/11/2025), berubah menjadi hangat oleh semangat ratusan insan kreatif yang hadir dari berbagai penjuru Indonesia. Mereka datang untuk satu tujuan: merayakan kreativitas dan memperkuat kolaborasi dalam Indonesia Creative Cities Festival (ICCF) 2025, ajang tahunan jejaring kota kreatif terbesar di Tanah Air.

    Kota Banjarbaru menjadi salah satu peserta yang menonjol lewat kehadiran Banjarbaru Emas Creative Centre (BECC). Tim dating dengan semangat kolaborasi dan misi membangun jejaring antar daerah. “Acara ini luar biasa. Bagi kami, yang paling berharga bukan sekadar hadir, tapi bertemu dan belajar langsung dari para penggerak kota kreatif di seluruh Indonesia,” ujar Isur Loeweng, perwakilan BECC.

    Ia menambahkan, hasil dari forum ini akan segera diimplementasikan di Banjarbaru, terutama dalam membangun sistem kolaboratif antara komunitas kreatif, pemerintah, dan pelaku usaha. “Kami ingin membawa semangat yang sama agar Banjarbaru bisa tumbuh sebagai kota kreatif dengan identitasnya sendiri,” katanya.

    Dalam sambutan pembukaannya, Wali Kota Batu, Nurochman, yang akrab disapa Cak Nur, menyampaikan rasa bangganya atas kepercayaan menjadikan Kota Batu tuan rumah ICCF 2025. Dengan penuh semangat ia menyapa, “Selamat datang manusia-manusia kreatif se-Indonesia di Kota Batu.”

    Menurutnya, Taman Rekreasi Selecta dipilih bukan tanpa alasan. Di lokasi inilah pada tahun 1944, Presiden Soekarno pernah menancapkan tonggak wisata modern pertama di Indonesia. “Selecta ini unik, karena satu-satunya perusahaan wisata di Indonesia yang dimiliki masyarakat dan masih bertahan hingga kini. Malam ini, kami resmikan Selecta sebagai Living Museum, simbol hidup sejarah pariwisata Indonesia,” ujarnya disambut tepuk tangan peserta.

    Cak Nur berharap pelaksanaan ICCF 2025 menjadi momentum untuk memperkuat posisi Malang Raya—yang terdiri dari Kota Batu, Kota Malang, dan Kabupaten Malang—sebagai simpul utama pariwisata dan ekonomi kreatif nasional. “Kreativitas bukan hanya soal karya, tetapi tentang keberanian menjaga budaya dan menanamkan nilai-nilai lokal dalam pembangunan,” tegasnya.

    Mengusung tema besar “Nusantaraya”, ICCF 2025 yang digagas oleh Indonesia Creative Cities Network (ICCN) menjadi pertemuan gagasan lintas generasi dan lintas budaya. Festival ini berlangsung lima hari, 6–10 November 2025, di tiga wilayah Malang Raya, dengan kegiatan yang tersebar di berbagai titik strategis.

    Acara pembukaan di Selecta dihadiri oleh Wakil Gubernur Garut, Hj. Luthfianisa Putri Karlina, M.BA, serta ratusan delegasi ICCN, pelaku UMKM, akademisi, komunitas seni, dan perwakilan kementerian. Rangkaian kegiatan dibuka dengan City Tour Agro Kreatif dan Produk Lokal Fest, menampilkan inovasi pertanian, kuliner, hingga kriya unggulan khas Batu.

    Menurut Sujud Hariadi, Direktur Utama Taman Rekreasi Selecta, konsep Living Museum yang diangkat dalam pembukaan festival menjadi simbol kesadaran kolektif untuk melestarikan sejarah melalui kreativitas. “Selecta lahir dari semangat gotong royong warga sejak tahun 1930. Kami ingin generasi muda memahami bahwa kreativitas tumbuh dari sejarah dan kolaborasi,” ujarnya.

    Sementara itu, Ketua Umum ICCN, TB Fiki C. Satari, menekankan bahwa ICCF bukan hanya festival, tetapi wadah penguatan sinergi Hexa Helix — kolaborasi antara pemerintah, akademisi, bisnis, komunitas, media, dan lembaga keuangan. “Kami ingin menegaskan kembali nilai Catha Ekadasa, yaitu 11 prinsip pembangunan kreatif berkelanjutan yang menjadi panduan ICCN sejak 2015,” kata Fiki.

    “Dari Malang Raya, kita rayakan persaudaraan lintas kota kreatif. Kita ingin menjadikan Indonesia bangsa kreatif yang mendunia pada tahun 2045,” tambahnya.

    Kehadiran Banjarbaru Emas Creative Centre dalam ICCF 2025 menjadi bagian penting dari perjalanan Banjarbaru menuju kota kreatif. BECC hadir mewakili semangat kolaboratif generasi muda dan komunitas lintas bidang—dari seni pertunjukan, desain, hingga digital ekonomi.

    Menurut Isur Loeweng, momentum ICCF 2025 merupakan wadah konkret untuk membangun jembatan kolaborasi. “Kami bertemu banyak penggerak yang berhasil menghidupkan ruang publik melalui kegiatan kreatif, dan itu menginspirasi. Dari mereka kami belajar bagaimana merawat ekosistem kota yang memberi ruang bagi warga untuk tumbuh bersama,” ungkapnya.

    Banjarbaru, lanjut Isur, memiliki potensi besar untuk menjadi simpul kreatif di Kalimantan Selatan, terutama dengan dukungan pemerintah kota dan komunitas muda yang aktif. “Kami ingin meniru semangat kota seperti Batu dan Malang yang mampu menjadikan pariwisata dan ekonomi kreatif sebagai kekuatan baru daerah. Kami tidak ingin hanya hadir, tapi juga pulang membawa rencana nyata,” katanya.

    Melalui partisipasinya di ICCF 2025, Banjarbaru menegaskan komitmennya untuk menjadi bagian dari gerakan nasional kota kreatif yang berdaya saing. BECC hadir bukan hanya sebagai delegasi, tetapi sebagai mitra yang siap membangun jejaring dan menyerap inspirasi untuk memperkuat ekosistem kreatif Banjarbaru.

    Kolaborasi yang terjalin di Batu akan menjadi fondasi bagi pengembangan ruang-ruang kreatif di Banjarbaru — dari kegiatan komunitas, pengembangan UMKM kreatif, hingga penciptaan festival lokal yang mengangkat identitas budaya Banjarbaru.

    “Yang kami bawa pulang bukan oleh-oleh, tapi semangat. Kami ingin energi kolaborasi ICCF ini hidup di Banjarbaru,” tutup Isur dengan senyum optimistis.

    Dengan semangat Nusantaraya, Banjarbaru melangkah bersama jejaring kota kreatif Indonesia menuju masa depan yang inklusif, inovatif, dan berkelanjutan — dari Batu untuk Indonesia kreatif yang mendunia.(be)

  • Banjarbaru Emas Creative Centre Perkuat Jejaring Kota Kreatif Indonesia di ICCF 2025

    Banjarbaru Emas Creative Centre Perkuat Jejaring Kota Kreatif Indonesia di ICCF 2025

    BANJARBARUEMAS.COM – Kota Banjarbaru menapaki babak baru dalam kiprahnya sebagai kota kreatif yang sedang bertumbuh pesat. Melalui Banjarbaru Emas Creative Centre (BECC), kota ini resmi berpartisipasi dalam ajang Indonesia Creative Cities Festival (ICCF) 2025 Nusantaraya, yang digelar di Malang Raya pada 6–10 November 2025. Wali Kota Banjarbaru, Hj. Erna Lisa Halaby, dijadwalkan hadir dalam puncak kegiatan International Conference – Digital Culture & Creative Cities: Building Sustainable Future Through Collaboration, Sabtu (8/11/2025) di Malang Creative Center (MCC).

    Partisipasi ini menjadi langkah strategis Banjarbaru untuk memperkuat posisinya dalam jejaring kota kreatif nasional dan global. BECC hadir membawa semangat kolaborasi dan inovasi, sekaligus menegaskan visi Banjarbaru Emas—kota yang berdaya saing, berkarakter, dan berkelanjutan.

    Tahun ini, ICCF mengusung tema Nusantaraya: Senyawa Malang Raya, yang menggambarkan sinergi lintas daerah sebagai kekuatan bersama menuju Indonesia kreatif. Kegiatan ini menjadi wadah perjumpaan gagasan, pertukaran pengetahuan, dan perayaan keberagaman lintas kota, budaya, dan generasi.

    Bagi Banjarbaru, ajang ini menjadi ruang pembelajaran dan jejaring yang sangat penting. Kehadiran Banjarbaru Emas Creative Centre (BECC) dalam ICCF 2025 merupakan wujud keterlibatan aktif kota ini dalam ekosistem kreatif nasional. Melalui partisipasi tersebut, Banjarbaru menegaskan diri sebagai kota yang terbuka untuk berkolaborasi, belajar, dan berbagi gagasan dalam mengembangkan kreativitas berbasis budaya lokal.

    Kehadiran BECC di Malang mencerminkan semangat Banjarbaru untuk memperkuat fondasi ekonomi kreatif yang tumbuh dari nilai-nilai masyarakat dan lingkungan. Bagi Banjarbaru, kreativitas bukan hanya perkara seni atau desain, melainkan pola pikir yang menjadi dasar pembangunan manusia dan kota—sebuah upaya untuk menjadikan inovasi sebagai bahasa bersama dalam membangun kota yang berkelanjutan dan harmonis.

    Koordinator BECC Banjarbaru, Narwanto, menjelaskan bahwa ruang ini merupakan sarana untuk memperkuat jejaring dan belajar langsung dari praktik terbaik kota-kota kreatif lain di Indonesia. “Kami datang untuk membangun hubungan, memperluas wawasan, dan meneguhkan posisi Banjarbaru di antara jejaring kota kreatif Indonesia. Dulu, di era Wali Kota Nadjmi Adhani, Banjarbaru dikenal dengan citra Food, Fun, and Fashion. Kini, di bawah kepemimpinan Wali Kota Hj. Erna Lisa Halaby, ada keinginan besar agar Banjarbaru memiliki identitas kuat sebagai kota kreatif yang menempatkan budaya dan inovasi sebagai fondasi pembangunan,” ujar Narwanto.

    Kemeriahan ICCF 2025 dimulai sejak Kamis (6/11) dengan pembukaan Festival Mbois X di Malang Creative Center. Gedung berlantai delapan ini disulap menjadi arena multidisiplin yang menampilkan pameran seni, fashion, film lokal, talkshow ekonomi kreatif, dan sesi inspirasi dari pelaku lintas sektor.

    Ketua Panitia, Gedeon Soerja Ardi Nugraha, menyebut festival ini sebagai Lebaran bagi insan kreatif Indonesia.

    “Ini adalah perayaan ke-10 kami, dan kami ingin menunjukkan bahwa kreativitas bisa menjadi jembatan antara budaya, teknologi, dan masa depan,” ujarnya.

    Acara pembukaan turut dihadiri CEO BNI Soesetyo Priharjanto dan Kepala Dinas Koperindag Kota Malang, Eko Sri Yuliadi. Soesetyo menegaskan komitmen BNI dalam mendukung pembiayaan dan ekspor produk kreatif ke pasar global—mulai dari Tokyo hingga Amsterdam.

    Sementara itu, Eko Sri Yuliadi yang mewakili Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menyampaikan rasa bangganya atas terpilihnya Malang sebagai salah satu Kota Kreatif Dunia versi UNESCO.

    “Malang menjadi ruang belajar, dan kami menyambut teman-teman dari seluruh Indonesia, termasuk Banjarbaru, untuk berkolaborasi di panggung Nusantaraya,” katanya.

    Dalam sesi pembukaan, dilakukan pemotongan tumpeng biru—simbol Kota Malang—serta peluncuran buku “Malang Creative Fusion: Mencintai Kota Malang”. Sejumlah tokoh budaya dan komunitas kreatif juga menerima penghargaan, di antaranya Lesbumi Kota Malang, Amazing Malang, serta almarhum Dodik Kus Indarto, seniman yang dikenal lewat naskah “Dodot”.(be)