BANJARBARUEMAS.COM — Di balik laju pembangunan kota yang kian dinamis, denyut kebudayaan warga Banjarbaru justru tumbuh dari ruang-ruang sederhana di tingkat kelurahan. Salah satunya tampak di Kelurahan Syamsudin Noor, Kecamatan Landasan Ulin, yang melalui gerakan “Syam Noor BerSatu – BerKreasi” bersama Tim Banjarbaru Street Art Festival (BSAF) tengah menyiapkan festival budaya berbasis partisipasi warga.
Pada Senin sore (10/11/2025), aula kelurahan Syamsudin Noor menjadi pusat semangat kolaborasi. Lurah Syamsudin Noor, Panitia inti, tokoh masyarakat, dan tim BSAF berkumpul dalam rapat pemantapan menjelang Karnaval Hari Pahlawan Syamsudin Noor 2025.
Pada rapat sebelumnya, Ketua Panitia Zainul menegaskan, kegiatan ini bukan sekadar festival tahunan, melainkan simbol persatuan warga. “Dari semangat kecil di tingkat kelurahan, kini berkembang menjadi gerakan budaya kecamatan. Ini bukti bahwa kreativitas warga bisa menjadi energi sosial yang menggerakkan Banjarbaru,” ujarnya.
Festival yang mengusung tema “Dari Warga untuk Warga” ini akan mencapai puncaknya pada Sabtu, 15 November 2025, dengan perhelatan Karnaval Hari Pahlawan Syamsudin Noor 2025. Mengambil rute sepanjang 3,88 kilometer, karnaval dimulai dari Ruang Terbuka Hijau (RTH) Wella Mandiri dan berakhir di Kantor Kelurahan Syamsudin Noor.
Ratusan peserta dari berbagai kelompok warga, pelajar, komunitas seni, dan UMKM akan menampilkan harmoni antara seni jalanan, kostum tematik, musik tradisional, hingga teatrikal perjuangan. Tema besar tahun ini—“Meneladani Jiwa Juang Pahlawan untuk Menumbuhkan Semangat Syamsudin Noor Bersatu dan Berkreasi dalam Pembangunan Menuju Era Banjarbaru Emas”—menjadi benang merah yang memadukan nilai patriotisme dan kreativitas lokal.
Penilaian dilakukan berdasarkan tiga kategori utama: kreativitas (40%), harmoni (30%), dan entertain (30%). Aspek visual seperti kostum, properti, dan orisinalitas ide menjadi tolok ukur utama. “Kami ingin melihat bagaimana warga menafsirkan nilai perjuangan dengan gaya mereka sendiri, yang sopan, kreatif, dan tetap berakar pada budaya Banjarbaru,” kata Zainul.
Untuk memacu semangat partisipasi, panitia menyediakan hadiah total Rp15 juta, terdiri atas Rp7 juta untuk juara pertama, Rp5 juta untuk juara kedua, dan Rp3 juta untuk juara ketiga.
Selain menjadi ajang ekspresi budaya, kegiatan ini juga sejalan dengan visi besar Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby dalam mewujudkan Banjarbaru Emas (Elok, Maju, Adil, Sejahtera).
Zainul menyebut, festival ini sekaligus mendukung strategi One District One Product (ODOP) yang dicanangkan Pemko Banjarbaru. “Setiap kelurahan menampilkan potensi unggulannya. Ada yang memamerkan produk UMKM, kuliner, hingga seni tradisional. Semua berangkat dari semangat kemandirian warga,” ucapnya.
Art Director Banjarbaru Street Art Festival, Isur Loeweng, menilai kegiatan di Syamsudin Noor ini merupakan bagian penting dari perjalanan Banjarbaru menuju kota kreatif yang berkelanjutan. “BSAF adalah wadah untuk menumbuhkan kesadaran budaya yang berpijak pada lokalitas. Banjarbaru memiliki kekayaan ekonomi geografis, budaya, dan kreativitas yang luar biasa. Festival ini menjadi cara untuk menampilkannya ke ruang publik, agar warga bukan hanya penonton pembangunan, tapi juga pencipta nilai budaya,” ujarnya.
Isur menambahkan, potensi setiap kecamatan di Banjarbaru sangat beragam dan saling melengkapi. “Landasan Ulin menjadi embrio gerakan budaya ini. Tahun depan, kegiatan serupa akan digelar bergiliran di Liang Anggang, Cempaka, Banjarbaru Utara, dan Banjarbaru Selatan, setiap tiga bulan sekali, sehingga ritme kegiatan budaya dan ekonomi kreatif tetap hidup di seluruh wilayah. Semua ini akan bermuara pada satu panggung besar, Banjarbaru Street Art Festival,” katanya.
Lebih jauh, Isur menilai bahwa kegiatan warga seperti ini selaras dengan semangat Indonesia Creative Cities Festival (ICCF) 2025, yang baru saja digelar di Gedung Malang Creative Center (MCC), Sabtu (8/11/2025). Forum nasional tersebut mempertemukan para kepala daerah, pelaku industri kreatif, dan tokoh budaya dari berbagai kota untuk memperkuat jejaring kota kreatif se-Indonesia. Tahun ini ICCF mengusung tema besar “Nusantaraya: Dari Malang Raya untuk Kreatif Nusantara”, sebuah gerakan lintas budaya, generasi, dan kota yang menegaskan bahwa kreativitas adalah fondasi utama pembangunan berkelanjutan Indonesia.
Dalam ajang bergengsi itu, Kota Banjarbaru kembali mencuri perhatian nasional melalui kehadiran Wali Kota Hj. Erna Lisa Halaby yang memaparkan konsep Aero City Banjarbaru—sebuah visi pembangunan kota yang kreatif, berdaya saing, dan berkelanjutan. “Apa yang kita lakukan di tingkat kelurahan hari ini adalah fondasi kecil dari visi besar itu. Kalau ICCF mempertemukan jejaring kota kreatif se-Indonesia, maka festival ini memperkuat jejaring sosial dan budaya di akar rumput,” ujar Isur.
Ia menegaskan, semangat Banjarbaru Street Art Festival harus dipahami sebagai gerakan strategis untuk mempersiapkan Banjarbaru menjadi tuan rumah ICCF 2027. “Kita belajar dari Malang yang sukses menjadi pusat perhatian nasional lewat kreativitas warganya. Banjarbaru harus punya cerita sendiri—cerita yang lahir dari partisipasi warga, dari spirit ‘Dari Warga untuk Warga’,” tegasnya.
Selain memperkuat posisi Banjarbaru dalam jejaring kota kreatif nasional, kegiatan ini juga diharapkan mampu mempercepat implementasi program One District One Product (ODOP). Melalui festival yang bergilir di setiap kecamatan, potensi ekonomi kreatif lokal—mulai dari kerajinan, kuliner, hingga seni pertunjukan—akan mendapatkan panggung yang lebih luas.
“Ketika budaya dan ekonomi kreatif berjalan beriringan, maka Banjarbaru tak hanya menjadi kota yang elok secara visual, tapi juga kuat secara sosial dan ekonomi. Dari sinilah Banjarbaru melangkah menuju masa depan sebagai kota kreatif berkelas nasional,” pungkas Isur Loeweng.(be)









