Menyelesaikan Sampah dari Hulu, Kemuning Gerakkan Warga Tekan Beban TPA

waktu baca 3 menit
Selasa, 14 Apr 2026 06:49 188 Banjarbaru Emas 2

BANJARBARUEMAS.COM — Upaya menyelesaikan persoalan sampah tidak lagi semata bertumpu pada pengangkutan dan pembuangan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Kelurahan Kemuning, Kecamatan Banjarbaru Selatan Kota Banjarbaru, mulai menata pendekatan baru: menyelesaikan sampah dari hulu, yakni dari rumah tangga sebagai sumber utama timbulan.

Pendekatan ini berpijak pada prinsip pengelolaan sampah modern, yang menekankan reduksi di sumber sebagai strategi paling efektif. Pemilahan sejak awal terbukti mampu menurunkan volume sampah tercampur hingga 30–60 persen, sekaligus meningkatkan nilai guna material daur ulang. Konsep inilah yang diadopsi melalui inovasi GPS KEMUNING (Gerakan Pilah Sampah Kemuning).

Lurah Kemuning, Rifda Iklila, menyebutkan bahwa persoalan utama selama ini bukan pada ketiadaan sistem, melainkan pada perilaku. Sampah rumah tangga yang masih tercampur antara organik dan anorganik menyebabkan tingginya beban Tempat Penampungan Sementara (TPS), menurunkan kualitas lingkungan, dan mempercepat penuh­nya kapasitas TPA.

“Kalau sampah tidak dipilah dari rumah, maka seluruh rantai pengelolaan di hilir menjadi berat. Ini bukan hanya soal teknis, tapi soal kebiasaan,” ujarnya.

Rifda tidak berbicara tanpa dasar. Ia termasuk lurah yang terjun langsung melakukan studi tiru ke Kelurahan Rorotan, Jakarta, salah satu wilayah yang dikenal berhasil mengelola sampah berbasis masyarakat. Dari sana, ia menemukan satu kunci utama: keberhasilan pengelolaan sampah sangat ditentukan oleh partisipasi aktif warga sebagai pelaku Utama.

Berangkat dari pembelajaran itu, Kelurahan Kemuning menginisiasi GPS KEMUNING sebagai gerakan kolektif. Program ini melibatkan struktur RT/RW, kader lingkungan, serta didukung sistem pencatatan sederhana berbasis digital melalui bank sampah.

Sebagai tahap awal, RT 23 RW 05 ditetapkan sebagai wilayah percontohan, dengan Bank Sampah Bukit Barisan sebagai simpul utama pengelolaan. Bank sampah yang berlokasi di lingkungan tersebut, di bawah pengelolaan Muhammad Fitri, menjadi laboratorium sosial untuk menguji efektivitas pemilahan sampah dari sumber.

Program ini dijalankan bertahap: mulai dari perencanaan dan sosialisasi, uji coba terbatas, hingga implementasi awal. Warga didorong untuk memisahkan sampah organik dan anorganik di rumah masing-masing, sebelum kemudian disalurkan ke bank sampah untuk dikelola lebih lanjut.

Manfaatnya tidak hanya ekologis, tetapi juga ekonomis. Sampah anorganik bernilai jual dapat ditabung melalui skema bank sampah, sementara sampah organik berpotensi diolah menjadi kompos. Dengan demikian, residu yang benar-benar harus dibuang ke TPA dapat ditekan secara signifikan.

Namun, jalan menuju perubahan tidak tanpa hambatan. Rifda mengakui bahwa tantangan terbesar adalah mengubah perilaku masyarakat yang telah terbentuk bertahun-tahun. Selain itu, keterbatasan sarana pemilahan dan belum optimalnya sistem digital menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan.

Meski demikian, optimisme tetap terjaga. Kelurahan Kemuning telah menyiapkan langkah lanjutan, mulai dari penguatan edukasi berkelanjutan, penambahan fasilitas pendukung, hingga perluasan program ke seluruh wilayah. Digitalisasi sistem bank sampah juga akan terus dikembangkan untuk meningkatkan akurasi dan transparansi pengelolaan.

Di tengah dinamika itu, satu hal menjadi jelas: pengelolaan sampah bukan lagi semata urusan pemerintah, melainkan gerakan bersama yang berakar dari rumah tangga.

“GPS KEMUNING ini bukan sekadar program, tetapi gerakan perubahan. Kami ingin masyarakat menjadi pelaku utama dalam mengelola sampahnya sendiri, karena dari situlah solusi sesungguhnya dimulai,” kata Rifda Iklila.(be)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA