Banjarbaru Street Art Festival: Kreativitas Warga yang Menggerakkan Sektor Riil dan Ekonomi UMKM

waktu baca 6 menit
Kamis, 27 Nov 2025 04:26 164 Banjarbaru Emas 2

BANJARBARUEMAS.COM — Gelaran perdana Banjarbaru Street Art Festival 2025 di Kelurahan Syamsudin Noor bukan hanya menyajikan tontonan kreatif. Di balik keramaian, festival yang berlangsung “hanya” 12 jam itu memperlihatkan dinamika ekonomi kota yang bergerak cepat dan terukur. Perputaran uang yang mencapai lebih dari Rp 200 juta menjadi indikator awal bahwa kegiatan berbasis komunitas dapat secara langsung memperkuat sektor riil dan menambah nilai ekonomi di tingkat lokal.

Sebagai kegiatan yang menggabungkan seni, budaya, interaksi publik, dan perdagangan, festival ini hadir pada momentum yang tepat—ketika UMKM membutuhkan ruang pemulihan, diversifikasi pasar, dan percepatan transaksi. Model acara semacam ini memiliki efek berganda (multiplier effect) yang bekerja secara spontan dan merata.

“Banyak peserta mengaku mendapat pelanggan baru, bahkan omzet meningkat dengan tajam setelah mengikuti kegiatan ini,” tutur Direktur Banjarbaru Street Art Festival, Isur Loeweng Suroto. Testimoni itu bukan sekadar cerita sukses. Ia mencerminkan bahwa festival telah menjadi katalis yang memperkuat rantai nilai ekonomi lokal dalam skala mikro.

Dampak Ekonomi: Pergerakan Sektor Riil yang Nyata

Kegiatan berbasis keramaian publik seperti festival memiliki tiga fungsi utama: mendorong transaksi langsung, memperluas jaringan, dan meningkatkan sirkulasi uang dalam waktu singkat. Banjarbaru Street Art Festival memperlihatkan ketiganya secara bersamaan.

Pertama, peningkatan transaksi langsung.
Sebanyak 150 UMKM mencatat penjualan yang meningkat signifikan. Produk kuliner, kriya, minuman, fesyen, hingga layanan kreatif mengalami lonjakan permintaan. Beberapa pelaku usaha kuliner mengaku penjualan mereka tiga kali lipat dari hari biasa. Hal ini memperlihatkan bagaimana festival mampu menciptakan pasar instan yang sangat responsif terhadap daya tarik keramaian.

Kedua, tumbuhnya sektor pendukung.
Ekonomi sektor riil yang bergerak bukan hanya UMKM. Pedagang kaki lima (PKL), jasa parkir, penyedia logistik, vendor event, hingga penjual bahan baku mengalami dampak. Pendapatan jasa parkir, misalnya, meningkat karena ribuan pengunjung memadati kawasan. Di sisi lainnya, permintaan terhadap bahan baku kuliner meningkat sejak sehari sebelum acara, menandai efek lanjutan yang dirasakan hingga ke pemasok.

Ketiga, percepatan sirkulasi uang.
Perputaran ekonomi lebih dari Rp 200 juta dalam 12 jam merupakan sinyal kuat bahwa potensi sektor riil Banjarbaru masih terbuka luas. Dengan multiplier effect konservatif 1,5–2 kali, kegiatan ini diperkirakan memberi dampak lanjutan pada ekonomi lokal antara Rp 300–400 juta dalam beberapa hari setelah acara, terutama melalui transaksi lanjutan, pemesanan produk, dan kerja sama baru antar pelaku usaha.

Ekonomi Kreatif sebagai Motor Baru Kota

Wali Kota Banjarbaru, Hj. Erna Lisa Halaby, secara langsung menyaksikan bagaimana warga merespons festival. Bagi pemerintah, keberhasilan ini tidak hanya terletak pada besarnya penonton, tetapi pada lahirnya aktivitas ekonomi yang konkret di level akar rumput.

Lisa melihat langsung antusiasme warga dan dampak ekonomi yang tercipta. Namun bagi pemerintah, festival ini bukan hanya soal jumlah penonton. Ia memancarkan sinyal penting tentang bagaimana kreativitas warga dapat menggerakkan ekonomi akar rumput.

“Ini adalah pelaksanaan perdana Banjarbaru Street Art Festival dengan tema Dari Warga untuk Warga. Kegiatan ini juga bagian dari program one product one village di Kecamatan Landasan Ulin,” ujarnya.

Pernyataan Wali Kota Lisa tersebut menegaskan dua hal:

  • Festival adalah ruang publik untuk memutar kembali manfaat kepada warga, bukan sekadar tontonan.
  • Ia menjadi medium untuk memperkuat konsep pembangunan ekonomi berbasis potensi unit terkecil — kelurahan.

Lisa menyebut bahwa kegiatan semacam ini merupakan bentuk investasi sosial yang memberikan nilai tambah jangka panjang. Ia sejalan dengan arah pembangunan ekonomi modern yang menekankan inovasi, kolaborasi, dan pemberdayaan komunitas sebagai fondasi pertumbuhan.

Jejaring UMKM Menguat: Ekosistem Baru Terbentuk

Festival ini tidak hanya memantik transaksi sesaat. Ia membangun ekosistem baru bagi UMKM—jaringan yang akan memperkuat daya saing pelaku usaha dalam jangka panjang.

Beberapa UMKM melaporkan bahwa mereka memperoleh pelanggan tetap baru setelah festival. Pengrajin lokal menerima pesanan lanjutan untuk dekorasi rumah, merchandise komunitas, hingga produk kolaboratif. Pelaku kuliner berhasil memperluas pasar lewat promosi langsung dari pengunjung yang datang dari luar Landasan Ulin.

Di titik ini, festival menunjukkan bahwa sektor riil Banjarbaru dapat tumbuh cepat jika memiliki ruang interaksi yang memungkinkan pelaku usaha mempertemukan produk dengan publik. Pertemuan tatap muka, pembuktian kualitas langsung, dan suasana meriah menciptakan pengalaman konsumsi yang tidak bisa ditiru oleh transaksi daring.

Menuju Agenda Rutin: Transformasi Ekonomi Berbasis Kecamatan

Direktur festival, Isur Loeweng, memandang gelaran perdana ini baru langkah pembuka dari perjalanan panjang Banjarbaru menuju ekosistem kota kreatif. Ia menegaskan bahwa Banjarbaru Street Art Festival akan digelar setiap tiga bulan, berpindah dari satu kecamatan ke kecamatan lainnya. Pola sirkulasi antarkecamatan itu sengaja dirancang agar manfaat ekonomi tidak terpusat pada satu wilayah saja. Gelaran berikutnya, menurut rencana, akan berlangsung di Kecamatan Banjarbaru Utara pada Februari 2026—membawa warna, tema, dan karakter yang berbeda dari Landasan Ulin.

Dalam pandangan Isur, pendekatan ini memberi implikasi ekonomi yang lebih strategis bagi kota. Ketika festival bergerak dari satu wilayah ke wilayah lain, dampak ekonomi akan tersebar merata, memberi kesempatan bagi pelaku UMKM di tiap kecamatan untuk merasakan langsung peningkatan transaksi dan peluang promosi. Ruang-ruang publik yang selama ini hanya menjadi tempat lalu lalang warga akan kembali hidup sebagai pusat ekonomi rakyat, tempat kreativitas, perdagangan, dan interaksi sosial saling bertemu.

Lebih dari itu, tiap kecamatan akan memiliki ruang untuk menunjukkan identitas lokalnya. Tema festival dapat disesuaikan dengan karakter khas wilayah—baik potensi produk, kekuatan komunitas, maupun sejarah lokal yang ingin diangkat. Dengan cara ini, festival bukan hanya ajang hiburan, tetapi juga alat untuk mengangkat produk unggulan daerah dan memperkenalkan kekayaan khas banjarbaru pada skala yang lebih luas.

Isur meyakini model desentralisasi festival ini akan menumbuhkan budaya kewirausahaan berbasis komunitas. Di setiap gelaran, warga terdorong untuk berpartisipasi, berinovasi, dan berkolaborasi—membangun jaringan usaha yang lebih kuat dan berkesinambungan. Seiring waktu, festival ini dapat berkembang menjadi instrumen pembangunan ekonomi kreatif yang bekerja dari bawah, memanfaatkan kekuatan komunitas sebagai mesin penggerak utama.

Ruang Kreatif sebagai Infrastruktur Ekonomi Baru

Banjarbaru Street Art Festival telah membuktikan bahwa ruang kreatif menjadi simpul tempat seni, budaya, perdagangan, interaksi sosial, dan promosi wilayah saling bertemu dalam satu lanskap yang hidup. Ia membuka peluang, mempertemukan aktor, dan menumbuhkan dinamika ekonomi baru berbasis komunitas.

Meski tumbuh dari inisiatif komunitas, festival ini menampilkan potensi yang jauh melampaui kegiatan seni semata. Ia menunjukkan pola kerja yang terukur—menggerakkan perputaran ekonomi, memperkuat fondasi UMKM, menaikkan nilai tambah lokal, dan memperluas jejaring pelaku usaha lintas sektor. Festival semacam ini, jika dikawal dengan baik, dapat menjadi agenda unggulan daerah yang berfungsi sebagai motor penggerak ekonomi kreatif.

Ketika lampu-lampu stan dipadamkan dan para pelaku UMKM mulai merapikan dagangan, sebuah kesadaran kolektif muncul: Banjarbaru memiliki modal sosial yang besar. Kreativitas warga lahir dalam kemampuan menghidupkan sektor riil, mengikat kolaborasi, dan mengubah ruang kosong menjadi pusat ekonomi rakyat.

Festival ini bukan sekadar peristiwa, melainkan prototipe pembangunan—bahwa ekonomi kreatif, jika diberi ruang, dapat bertransformasi menjadi mesin pertumbuhan kota yang inklusif dan berkelanjutan. Ia memperlihatkan bagaimana ide, seni, dan budaya dapat menjadi bagian dari strategi pembangunan ekonomi yang modern dan relevan.

Dan dari KecamatanLandasan Ulin, pesan itu menggaung ke seluruh penjuru kota: Banjarbaru tengah bersiap menjadi bagian dari jejaring kota-kota kreatif yang telah lebih dahulu tumbuh besar di Indonesia. Kota ini mulai menempatkan kreativitas sebagai fondasi pembangunan, memadukan inovasi warga, kekuatan komunitas, dan dinamika ekonomi akar rumput.
Dengan arah yang semakin jelas, Banjarbaru menegaskan ambisinya untuk berdiri sejajar dengan kota-kota kreatif lain—sebuah kota yang menjadikan ide dan imajinasi sebagai energi utama masa depannya.(be)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA