Kemarau Panjang dan Karhutla Mengancam, Warga Banjarbaru Gelar Salat Istisqa

waktu baca 6 menit
Senin, 24 Agu 2026 02:40 208 Banjarbaru Emas 2

BANJARBARUEMAS.COM — Di tengah kemarau panjang yang membuat kondisi lingkungan semakin kering dan meningkatkan kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), warga Banjarbaru memperkuat ikhtiar dengan menggelar Salat Istisqa, Senin (24/8/2026) pagi.

Salat untuk memohon turunnya hujan itu dilaksanakan di sejumlah lokasi, antara lain Lapangan dr. Murdjani, Pesantren Yayasan Nurul Hikmah di Kelurahan Palam, Kecamatan Cempaka, serta Pondok Pesantren Raudhatun Nasyi’in di Sungai Besar, Kecamatan Banjarbaru Selatan.

Kegiatan dimulai sekitar pukul 07.30 Wita. Masyarakat dan jajaran pemerintah berkumpul untuk berdoa agar hujan segera turun, ketersediaan air kembali membaik, serta Banjarbaru terhindar dari dampak kemarau dan ancaman karhutla.

Namun, ikhtiar menghadapi kemarau tidak berhenti pada doa. Masyarakat juga diingatkan untuk menghemat air, menjaga lingkungan, serta tidak melakukan pembakaran hutan dan lahan.

Dari Palam, Doa Meminta Hujan

Di Kelurahan Palam, Kecamatan Cempaka, masyarakat melaksanakan Salat Istisqa di Pesantren Yayasan Nurul Hikmah, Jalan Purnawirawan Nomor 02, RT IV/RW II, Palam.

Salat dimulai pukul 07.30 Wita. Guru H. Kastalani bertindak sebagai imam, sedangkan Samsir menjadi khatib.

Sebelum salat dimulai, Guru H. Kastalani menjelaskan kepada jamaah mengenai makna Salat Istisqa.

“Al-istisqa ialah meminta curahan air penghidupan (thalab al-saqaya),” kata Guru H. Kastalani.

Ia menjelaskan, dalam kajian fikih, Salat Istisqa merupakan salat sunah yang dikerjakan untuk memohon kepada Allah SWT agar menurunkan hujan.

Menurut dia, Salat Istisqa telah dipraktikkan sejak zaman Rasulullah SAW. Dalam hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW pernah keluar untuk memohon hujan, melaksanakan salat dua rakaat tanpa azan dan iqamah, kemudian menyampaikan khutbah dan berdoa.

Penjelasan tersebut menjadi pengingat bagi jamaah bahwa Salat Istisqa merupakan bentuk permohonan kepada Allah SWT ketika manusia menghadapi kekeringan dan membutuhkan air.

Setelah salat, jamaah mengikuti khutbah yang berisi ajakan untuk bertobat, memperbanyak istighfar, memohon ampun, dan berdoa agar hujan segera diturunkan.

Lurah Palam: Doa Harus Disertai Ikhtiar

Lurah Palam Zulhulaifah mengatakan, pelaksanaan Salat Istisqa bersama masyarakat merupakan bentuk ikhtiar dan doa agar hujan segera turun membawa manfaat serta keberkahan bagi warga.

“Kami melaksanakan Salat Istisqa bersama masyarakat sebagai bentuk ikhtiar dan doa kepada Allah SWT agar diberikan curahan hujan yang membawa manfaat serta keberkahan bagi seluruh masyarakat Palam,” ujar Zulhulaifah.

Menurut dia, kegiatan tersebut juga diharapkan menjadi momentum untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan sekaligus mempererat kebersamaan dan kepedulian sosial di tengah masyarakat.

“Pelaksanaan Salat Istisqa ini diharapkan dapat menjadi momentum untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan, sekaligus mempererat kebersamaan serta kepedulian sosial di tengah masyarakat. Salat dilaksanakan dengan penuh khusyuk dan kebersamaan,” katanya.

Namun, Zulhulaifah menegaskan bahwa doa perlu berjalan bersama ikhtiar nyata, terutama dalam menjaga lingkungan selama kemarau.

“Selain berdoa, kami juga melakukan ikhtiar nyata dengan mengimbau kepada masyarakat menjaga lingkungan agar tidak melakukan pembakaran hutan dan lahan, menghemat penggunaan air,” ujarnya.

Ia berharap doa dan ikhtiar masyarakat mendapat ridha Allah SWT. Kondisi cuaca dan ketersediaan air diharapkan segera membaik sehingga ancaman karhutla dapat ditekan.

“Semoga doa dan ikhtiar kami bersama mendapatkan ridha Allah SWT, serta kondisi cuaca dan ketersediaan air segera membaik, karhutla tidak ada lagi,” kata Zulhulaifah.

Bagi masyarakat Palam, Salat Istisqa menjadi momentum untuk memperkuat keimanan sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga lingkungan.

Banjarbaru Selatan Tiadakan Apel

Ikhtiar serupa dilakukan jajaran Pemerintah Kecamatan Banjarbaru Selatan.

Seluruh pejabat struktural dan pegawai laki-laki, baik ASN maupun non-ASN di lingkungan Kecamatan dan Kelurahan se-Banjarbaru Selatan, diwajibkan mengikuti Salat Istisqa berjamaah.

Salat dilaksanakan mulai pukul 07.30 Wita di Ponpes Raudhatun Nasyi’in, Jalan Mistar Cokrokusumo (Jalan Bumi Berkat 7), RT 02/RW 01, Sungai Besar, Kecamatan Banjarbaru Selatan, Kota Banjarbaru.

Untuk mendukung pelaksanaan tersebut, apel gabungan lingkup Kecamatan Banjarbaru Selatan ditiadakan.

Camat Banjarbaru Selatan M. Firmansyah mengatakan, pelaksanaan Salat Istisqa menjadi bagian dari ikhtiar bersama jajaran kecamatan dan kelurahan menghadapi kondisi kemarau.

“Kami mengajak seluruh pejabat struktural dan pegawai laki-laki, baik ASN maupun non-ASN di lingkungan Kecamatan dan Kelurahan se-Banjarbaru Selatan untuk bersama-sama melaksanakan Salat Istisqa. Ini menjadi ikhtiar kita bersama untuk memohon kepada Allah SWT agar hujan segera turun dan kondisi kemarau dapat segera membaik,” ujar Firman.

Menurut Firmansyah, kegiatan tersebut juga menjadi momentum memperkuat kebersamaan sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap kondisi lingkungan.

“Kami berharap kegiatan ini dilaksanakan dengan khusyuk dan menjadi momentum bagi kita semua untuk memperbanyak doa, introspeksi, serta meningkatkan kepedulian terhadap kondisi lingkungan di tengah musim kemarau,” katanya.

Ia mengingatkan, ikhtiar menghadapi kemarau tidak berhenti setelah pelaksanaan salat.

“Selain berdoa, kita juga harus melakukan ikhtiar nyata. Masyarakat dan seluruh jajaran kami harapkan bersama-sama menjaga lingkungan, tidak melakukan pembakaran hutan dan lahan, serta menghemat penggunaan air selama kondisi kemarau masih berlangsung,” ujar Firmansyah.

Ia berharap hujan segera turun sehingga ketersediaan air kembali membaik dan masyarakat terhindar dari dampak kemarau.

“Mudah-mudahan doa dan ikhtiar kita bersama mendapatkan ridha Allah SWT, hujan segera turun, ketersediaan air kembali membaik, dan kita semua dapat terhindar dari dampak kemarau, termasuk ancaman kebakaran hutan dan lahan,” katanya.

Dari Murdjani hingga Sungai Besar

Di tingkat Pemerintah Kota Banjarbaru, Salat Istisqa dilaksanakan di Lapangan dr. Murdjani mulai pukul 07.30 Wita.

Jajaran ASN dan non-ASN mengikuti kegiatan tersebut sebagai bagian dari ikhtiar bersama menghadapi kondisi kemarau.

Pada waktu yang sama, masyarakat Palam berkumpul di Pesantren Yayasan Nurul Hikmah. Di Sungai Besar, jajaran Kecamatan Banjarbaru Selatan mengikuti Salat Istisqa di Ponpes Raudhatun Nasyi’in.

Lokasi berbeda, tetapi harapan yang dipanjatkan sama: hujan segera turun dan membawa manfaat bagi masyarakat.

Di balik permohonan itu terdapat persoalan yang harus dihadapi bersama. Kondisi kemarau membuat kebutuhan terhadap air meningkat, sementara lingkungan yang kering juga meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla.

Karena itu, pelaksanaan Salat Istisqa menjadi bagian dari ikhtiar yang berjalan berdampingan dengan upaya menjaga lingkungan.

Ketika Doa Bertemu Ikhtiar

Pesan yang disampaikan dari Palam dan Banjarbaru Selatan memiliki satu titik temu: masyarakat tidak hanya diminta berdoa, tetapi juga melakukan tindakan nyata.

Menghemat penggunaan air, menjaga lingkungan, tidak melakukan pembakaran hutan dan lahan, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran menjadi bagian dari ikhtiar menghadapi kemarau.

Bagi masyarakat, hujan bukan hanya dibutuhkan untuk membasahi tanah. Curah hujan juga diharapkan membantu memulihkan ketersediaan air dan mengurangi kondisi kering yang meningkatkan risiko kebakaran.

Salat Istisqa pun menjadi momentum untuk melakukan introspeksi, memperbanyak istighfar, memohon ampun, sekaligus memperkuat kepedulian terhadap lingkungan.

Senin pagi itu, dari Lapangan dr. Murdjani hingga Palam dan Sungai Besar, warga Banjarbaru menengadahkan tangan dengan harapan yang sama.

Semoga hujan segera turun sebagai rahmat dan keberkahan, ketersediaan air kembali membaik, dan Banjarbaru terhindar dari dampak kemarau serta ancaman karhutla.

Sebab, menghadapi kemarau bukan hanya soal menunggu hujan. Ada doa yang dipanjatkan, ada air yang harus dihemat, ada lingkungan yang harus dijaga, dan ada ikhtiar bersama yang harus terus dilakukan.(be)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA