MARKISSA Syamsudin Noor Terus Konsisten, Sedekah Sampah Ubah Botol Plastik Jadi Kepedulian Sosial

waktu baca 4 menit
Minggu, 2 Agu 2026 04:31 157 Banjarbaru Emas 2

BANJARBARUEMAS.COM – Gerakan MARKISSA (Mari Kita Sedekah Sampah) di RT 33 RW 07 Kelurahan Syamsudin Noor, Kota Banjarbaru, kembali berlangsung pada Minggu (2/8/2026). Memasuki tahun kedua pelaksanaannya, program berbasis partisipasi masyarakat itu terus menunjukkan konsistensi sebagai gerakan yang tidak hanya mengurangi sampah rumah tangga, tetapi juga menumbuhkan budaya gotong royong dan kepedulian terhadap sesama.

Kegiatan diawali dengan pengambilan sedekah sampah dari rumah-rumah warga oleh relawan MARKISSA. Pada saat yang sama, Pemerintah Kelurahan Syamsudin Noor melakukan monitoring terhadap pelaksanaan program tersebut. Monitoring dirangkaikan dengan pertemuan bersama ibu-ibu PKK, pengambilan sedekah sampah di SDN 4 Syamsudin Noor, serta peninjauan langsung aktivitas rutin MARKISSA yang selama ini menjadi salah satu inovasi sosial di lingkungan tersebut.

Selain menjalankan rutinitas sedekah sampah, warga juga bergotong royong membersihkan halaman rumah masing-masing dan memasang bendera Merah Putih serta umbul-umbul sebagai bentuk menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Lurah Syamsudin Noor, Fitria Khairani, mengatakan Pemerintah Kelurahan berkomitmen menjaga keberlanjutan gerakan tersebut melalui pembinaan dan monitoring secara berkala agar semangat masyarakat tetap terpelihara.

“Kelurahan Syamsudin Noor tetap melakukan monitoring terhadap konsistensi kegiatan MARKISSA dengan mendorong semua pihak untuk terus menyetorkan botol plastik sebagai bentuk sedekah bagi masyarakat yang membutuhkan. Kami juga mengajak seluruh warga Syamsudin Noor agar tetap menjaga kebersihan lingkungan dan membiasakan memilah sampah sejak dari rumah untuk mewujudkan lingkungan yang sehat, bersih, dan nyaman,” ujar Fitria.

Menurutnya, keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada sarana dan prasarana, tetapi juga pada perubahan perilaku masyarakat. Karena itu, keterlibatan keluarga, sekolah, PKK, dan seluruh elemen masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun budaya peduli lingkungan.

Di sela-sela kegiatan, relawan MARKISSA tampak berkeliling mengambil botol plastik, kardus, kaleng, dan berbagai sampah anorganik yang telah dipilah warga. Aktivitas sederhana itu telah menjadi pemandangan rutin setiap Minggu pagi di lingkungan RT 33 RW 07.

Ketua RT 33 RW 07 Kelurahan Syamsudin Noor, Yoni Setiawan, mengatakan konsistensi merupakan kekuatan utama sebuah gerakan masyarakat. Menurutnya, persoalan sampah tidak akan pernah selesai apabila masyarakat hanya mengandalkan pemerintah.

“Artinya, sampai kapan pun yang namanya sampah nonorganik tidak akan pernah habis. Selama manusia masih hidup dan beraktivitas, sampah akan selalu ada. Tinggal bagaimana kita menyikapinya dengan kepedulian, meluangkan waktu untuk mengelolanya, lalu mengambil hikmah dari persoalan itu,” kata Yoni.

Ia menjelaskan, MARKISSA dibangun bukan semata-mata untuk mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir. Lebih dari itu, gerakan tersebut ingin menanamkan kesadaran bahwa barang yang dianggap tidak bernilai masih dapat menjadi sumber manfaat apabila dikelola bersama.

“Kami ingin masyarakat melihat bahwa sampah bukan hanya persoalan lingkungan. Ketika dikelola dengan baik, hasilnya bisa menjadi sedekah dan membantu warga yang membutuhkan. Dari kepedulian terhadap sampah akan lahir kepedulian kepada sesama manusia,” ujarnya.

Bagi Yoni, filosofi tersebut lahir dari nilai-nilai yang dipelajarinya dalam ajaran Islam. Ia mengaku terinspirasi oleh kisah yang dinukil Imam Al-Ghazali dalam kitab Mukasyafatul Qulub tentang dialog Nabi Musa AS dengan Allah SWT mengenai amalan yang paling dicintai-Nya.

Dalam kisah tersebut, Nabi Musa AS, nabi yang paling banyak disebut dalam Al-Qur’an dan termasuk golongan Ulul Azmi, bertanya kepada Allah SWT tentang ibadah yang paling dicintai. Setelah menjelaskan keutamaan shalat, puasa, dan zikir bagi pelakunya, Allah SWT kemudian menerangkan bahwa sedekah yang mampu membahagiakan orang yang sedang mengalami kesulitan merupakan amal yang sangat dicintai-Nya.

“Kisah itu menjadi pengingat bagi kami bahwa sedekah tidak selalu harus berupa uang. Botol plastik pun bisa menjadi sedekah apabila hasilnya dipergunakan untuk membantu orang lain. Karena itu kami menyebutnya sedekah sampah,” tutur Yoni.

Menurutnya, semangat itulah yang membuat warga tetap bertahan menjalankan MARKISSA dari minggu ke minggu. Program tersebut bukan lagi sekadar kegiatan kebersihan lingkungan, melainkan telah berkembang menjadi gerakan sosial yang mempertemukan kepedulian terhadap lingkungan dengan kepedulian terhadap sesama.

Melalui keterlibatan warga, sekolah, ibu-ibu PKK, dan pemerintah kelurahan, MARKISSA perlahan membangun kebiasaan baru: memilah sampah sejak dari rumah, menyedekahkan sampah yang masih bernilai ekonomi, lalu mengembalikan hasilnya kepada masyarakat yang membutuhkan.

Ke depan, warga RT 33 RW 07 juga mulai mempersiapkan lingkungan mereka untuk mengikuti Lomba Kampung Bersih yang akan diselenggarakan oleh Dinas Lingkungan Hidup Kota Banjarbaru.

“Insya Allah kami akan mengikuti Lomba Kampung Bersih yang diselenggarakan Dinas Lingkungan Hidup. Namun, yang kami jaga sesungguhnya adalah konsistensi. Kami ingin budaya hidup bersih, gotong royong, dan sedekah melalui sampah terus tumbuh di tengah masyarakat. Itulah tujuan utama gerakan MARKISSA,” pungkas Yoni. (be)

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA