Ketika Anak-Anak Berlari Menyambut Bu Lisa

waktu baca 5 menit
Kamis, 23 Jul 2026 12:10 75 Banjarbaru Emas 2

Di Balik Sapaan Sederhana, Kepemimpinan yang Menumbuhkan Kepercayaan Sejak Usia Dini

BANJARBARUEMAS.COM — Anak-anak sering kali menjadi penilai yang paling jujur. Mereka tidak memandang seseorang dari jabatan atau kedudukannya, melainkan dari bagaimana orang itu membuat mereka merasa aman, nyaman, dan dihargai.

Pemandangan itu terlihat di Lapangan Dr. Murdjani, Banjarbaru, Rabu (22/7/2026).

Usai membuka Turnamen Sepak Bola Usia Dini Piala Banjarbaru EMAS 2026 kategori U-13 dan U-15, Wali Kota Banjarbaru, Hj. Erna Lisa Halaby, baru beberapa langkah meninggalkan arena. Belum jauh berjalan, belasan anak tiba-tiba mengerumuninya.

“Bu… Bu…!”

Sapaan itu datang dari berbagai arah. Anak-anak berlari kecil, saling mendahului, mengangkat tangan setinggi mungkin agar bisa lebih dulu bersalaman.

Lisa menghentikan langkahnya.

Tak ada yang tergesa. Ia menyambut satu per satu tangan kecil yang terulur, mengusap beberapa kepala, melayani permintaan berfoto, lalu membalas setiap sapaan dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya.

Semuanya berlangsung hanya beberapa menit.

Pemandangan seperti itu bukan hanya sekali terjadi.

Di sekolah, Posyandu, lapangan olahraga, rumah ibadah, hingga lingkungan permukiman, anak-anak hampir selalu menjadi kelompok pertama yang menghampiri Lisa.

Sebagian mungkin belum mengetahui bahwa perempuan yang mereka panggil adalah Wali Kota Banjarbaru. Namun mereka mengenal sosok yang bersedia berhenti sejenak, mendengarkan, dan memberi perhatian.

Bagi anak-anak, pengalaman seperti itu mungkin tampak sederhana. Namun momen ketika mereka disambut, didengar, dan dihargai sering kali menjadi pengalaman yang membangun rasa percaya diri sejak dini.

Apa yang terlihat di Lapangan Dr. Murdjani bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Kepedulian yang sama juga tampak dalam berbagai kesempatan.

Pada September 2025, misalnya, di sela kunjungan kerja ke Jakarta, Lisa menyempatkan diri menjenguk Muhammad Salha Taufik, anak asal Banjarbaru yang menjalani operasi akibat kebocoran dan infeksi pada selaput jantung di Rumah Sakit Jantung Jakarta.

Kunjungan itu memang bukan kewajiban seorang kepala daerah. Namun kehadirannya menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak hanya diwujudkan melalui program dan kebijakan, tetapi juga melalui kepedulian terhadap warga yang sedang menghadapi masa sulit.

Cerita lain hadir ketika Pemerintah Kota Banjarbaru menerima kunjungan anak-anak penyandang Down syndrome bersama orang tua mereka yang tergabung dalam PIK POTADS Kalimantan Selatan.

Pertemuan itu lebih banyak diisi dengan mendengarkan pengalaman para orang tua, mulai dari persoalan pendidikan, layanan kesehatan, hingga penerimaan anak-anak mereka di lingkungan sekitar.

Masukan-masukan tersebut kemudian menjadi bagian dari upaya memperkuat kebijakan yang semakin ramah bagi anak-anak penyandang disabilitas.

Di bidang kesehatan keluarga, kepedulian itu diwujudkan melalui penguatan layanan Posyandu.

Pada Juli 2025, Lisa bersama Ketua TP PKK Kota Banjarbaru, H. Riandy Hidayat, meninjau pelaksanaan Kelas Ibu Balita di Posyandu Dahlia Almansyur, Kelurahan Kemuning.

Program tersebut memberikan edukasi kepada para orang tua mengenai gizi, pola pengasuhan, stimulasi tumbuh kembang, serta pencegahan stunting.

Dalam kesempatan itu, Lisa mendorong agar Kelas Ibu Balita dilaksanakan dua kali setiap bulan sehingga semakin banyak keluarga memperoleh pendampingan.

Masa awal kehidupan merupakan periode yang sangat menentukan bagi tumbuh kembang anak. Karena itu, pemenuhan gizi, layanan kesehatan, dan pola pengasuhan yang baik menjadi fondasi penting bagi masa depan mereka.

Komitmen tersebut kemudian diperkuat melalui Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah (GAMAS) dan Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak (GEMAR).

Melalui kedua gerakan itu, Pemerintah Kota Banjarbaru mengajak para ayah untuk kembali mengambil peran dalam pendidikan dan pengasuhan anak.

Mengantar anak ke sekolah atau mengambil rapor mungkin terlihat sederhana. Namun bagi seorang anak, kehadiran ayah pada momen-momen seperti itu menjadi bentuk dukungan yang membangun rasa percaya diri sekaligus mempererat ikatan dalam keluarga.

Perhatian terhadap anak juga terlihat pada momentum Ramadan 1447 Hijriah ketika Pemerintah Kota Banjarbaru mengundang anak-anak yatim dari Panti Sosial Asuhan Anak Budi Mulia.

Lisa menghampiri mereka satu per satu, mengajak berbincang, memberi semangat, dan mendorong mereka agar terus belajar serta berani memiliki cita-cita.

Bagi seorang anak, kepercayaan yang diberikan oleh orang dewasa sering kali menjadi alasan untuk percaya pada dirinya sendiri.

Rangkaian peristiwa tersebut sejalan dengan tema Hari Anak Nasional ke-42 Tahun 2026, “Sayang Anak, Lindungi, dan Bangun Masa Depan.”

Tema itu mengingatkan bahwa masa depan tidak dibangun ketika anak-anak telah dewasa, melainkan sejak mereka berada dalam masa pertumbuhan.

Pendidikan yang baik, layanan kesehatan yang memadai, lingkungan yang aman, serta perhatian dari keluarga, masyarakat, dan pemerintah menjadi fondasi lahirnya generasi yang sehat, cerdas, dan berkarakter.

Di Banjarbaru, berbagai langkah tersebut memperlihatkan satu benang merah. Kebijakan memberi arah, sementara kepedulian memberi makna. Ketika keduanya berjalan beriringan, tumbuh kepercayaan bahwa setiap anak memiliki tempat dalam pembangunan kota.

Ingatan kemudian kembali ke Lapangan Dr. Murdjani.

Anak-anak kembali berlari.

Mengulurkan tangan.

Berebut ingin bersalaman.

Adegan itu tampak sederhana.

Namun dari momen-momen kecil seperti itulah tumbuh rasa percaya, rasa dihargai, dan keyakinan bahwa mereka adalah bagian penting dari kota ini.

Barangkali, itulah makna terdalam Hari Anak Nasional. Ia bukan hanya tentang peringatan, melainkan tentang komitmen untuk memastikan setiap anak tumbuh dalam lingkungan yang penuh kasih sayang, terlindungi hak-haknya, didengar suaranya, dan diberi ruang untuk berkembang.

Selamat Hari Anak Nasional ke-42 Tahun 2026.

“Sayang Anak, Lindungi, dan Bangun Masa Depan.”

Karena masa depan Banjarbaru, bahkan masa depan Indonesia, selalu berawal dari cara kita memperlakukan anak-anak hari ini.(be)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA