BANJARBARUEMAS.COM – Komitmen Pemerintah Kota Banjarbaru dalam memberikan akses pendidikan yang setara bagi seluruh warga kembali diwujudkan melalui langkah nyata. Seorang anak berkebutuhan khusus penyandang tuna rungu, Ananda Habibi, diberangkatkan untuk menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Rumah Tahfidz Tunarungu Darul Ashom, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, sebuah lembaga pendidikan yang dikenal sebagai pesantren tunarungu pertama di Indonesia, bahkan disebut sebagai yang pertama di dunia.
Keberangkatan Habibi pada Jumat (12/6/2026) merupakan bagian dari program Dinas Sosial Kota Banjarbaru Tahun 2026 dalam memberikan layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. Dalam proses tersebut, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Asisten I) Setdako Banjarbaru, Rizana Mirza, turut mendampingi dan menyerahkan langsung Habibi kepada pihak pesantren di Yogyakarta.
Mirza menjelaskan, program tersebut lahir dari kepedulian Pemerintah Kota Banjarbaru terhadap pemenuhan hak-hak anak berkebutuhan khusus, khususnya dalam bidang pendidikan.
“Kegiatan ini merupakan bagian dari program Dinas Sosial Kota Banjarbaru Tahun 2026. Salah satu fokus kami adalah memberikan akses pendidikan yang sesuai bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Dalam hal ini, Pemerintah Kota Banjarbaru memfasilitasi Ananda Habibi untuk memperoleh pendidikan di Pondok Pesantren Tuna Rungu Darul Ashom Yogyakarta,” ujar Mirza pada Minggu (14/6/2026).
Menurutnya, anak berkebutuhan khusus memiliki hak yang sama dengan anak-anak lainnya untuk memperoleh pendidikan, perlindungan sosial, dan kesempatan mengembangkan potensi diri.
“Anak-anak berkebutuhan khusus memiliki hak yang sama seperti anak-anak lainnya. Mereka berhak mendapatkan pendidikan yang layak, berhak berkembang, dan berhak memperoleh masa depan yang baik. Karena itu pemerintah harus hadir memastikan hak-hak tersebut dapat terpenuhi,” katanya.
Mirza mengungkapkan, pemilihan Darul Ashom sebagai tempat pendidikan Habibi dilakukan setelah mempertimbangkan kebutuhan khusus penyandang tuna rungu yang memerlukan metode pembelajaran berbeda dengan pendidikan umum.
“Di Banjarbaru saat ini belum tersedia lembaga pendidikan keagamaan yang secara khusus menangani penyandang tuna rungu seperti Darul Ashom. Karena itu kami berupaya mencarikan tempat terbaik agar Habibi memperoleh pendidikan yang sesuai dengan kebutuhannya,” ujarnya.
Pesantren Tunarungu Pertama di Indonesia
Pondok Pesantren Rumah Tahfidz Tunarungu Darul Ashom didirikan oleh Ustadz Abu Kahfi pada 19 September 2019. Berlokasi di Jalan Sumatera, Kayen, Condongcatur, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, pesantren ini menjadi pelopor pendidikan Islam bagi penyandang tuna rungu di Indonesia.
Darul Ashom lahir dari keprihatinan terhadap minimnya akses pendidikan agama bagi anak-anak penyandang hambatan pendengaran.
Sejak berdiri, pesantren tersebut berfokus membina santri tuna rungu agar mampu memahami dan mengamalkan ajaran Islam melalui metode pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka.
Mulai dari pembelajaran tauhid, fikih, akhlak, tahsin, hingga tahfidz Al-Qur’an dilakukan menggunakan bahasa isyarat dan komunikasi visual. Seluruh proses belajar mengajar berlangsung tanpa suara, namun tetap efektif melalui pendekatan yang dikembangkan secara khusus bagi para santri.
Selain pendidikan agama, Darul Ashom juga memfasilitasi pendidikan formal melalui program kesetaraan Paket A, Paket B, dan Paket C. Saat ini pesantren tersebut telah menampung ratusan santri dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi hingga Maluku.
Visi besar pesantren tersebut adalah mencetak generasi tuna rungu yang mandiri, berakhlak mulia, memiliki kepercayaan diri, serta mampu menjadi penyampai nilai-nilai Islam bagi sesama penyandang disabilitas.
Diserahkan Langsung kepada Pendiri Pesantren
Sebagai bentuk keseriusan dalam memastikan proses penempatan berjalan baik, Rizana Mirza turut mengantarkan dan menyerahkan langsung Habibi kepada pihak pesantren.
Dalam kesempatan tersebut, rombongan Pemerintah Kota Banjarbaru juga bertemu langsung dengan pendiri Darul Ashom, Ustadz Abu Kahfi, yang memberikan penjelasan mengenai sistem pendidikan dan pola pembinaan yang diterapkan di pesantren tersebut.
“Alhamdulillah kami dapat menyerahkan langsung Habibi kepada pihak pondok pesantren dan bertemu langsung dengan Ustadz Abu Kahfi selaku pendiri pesantren.
Beliau menjelaskan sistem pendidikan yang diterapkan dan bagaimana para santri dibina agar memiliki kemampuan keagamaan sekaligus kemandirian dalam kehidupan sehari-hari,” tutur Mirza.
Kunjungan tersebut sekaligus memberikan keyakinan kepada Pemko Banjarbaru bahwa Habibi akan memperoleh pendidikan di lingkungan yang tepat.
“Kami melihat langsung para santri yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka belajar dengan penuh semangat dan mendapatkan pembinaan yang sangat baik. Ini membuat kami semakin yakin bahwa Habibi berada di tempat yang tepat untuk mengembangkan potensinya,” katanya.
Masa Adaptasi dan Pemantauan Berkelanjutan
Setibanya di pesantren, Habibi akan menjalani masa orientasi dan penyesuaian lingkungan selama kurang lebih satu bulan.
Pada masa tersebut, keluarga maupun pihak lain belum diperkenankan melakukan kunjungan agar proses adaptasi berjalan optimal.
“Satu bulan pertama menjadi masa penting bagi Habibi untuk mengenal lingkungan baru, para pembina, serta teman-temannya. Karena itu untuk sementara waktu belum diperkenankan menerima kunjungan agar proses penyesuaiannya berjalan maksimal,” jelas Mirza.
Meski demikian, Pemerintah Kota Banjarbaru memastikan pendampingan terhadap Habibi tidak berhenti setelah proses keberangkatan.
Dinas Sosial Kota Banjarbaru bersama pihak terkait akan terus memantau perkembangan pendidikan Habibi melalui komunikasi rutin dengan pengelola pesantren, termasuk memastikan kebutuhan pendidikan dan pembiayaan selama menempuh pendidikan tetap terpenuhi.
“Kami akan terus memonitor perkembangan Habibi selama berada di Yogyakarta. Komunikasi dengan pihak pesantren sudah dibangun agar perkembangan pendidikan maupun kondisi kesehariannya dapat diketahui secara berkala,” ujarnya.
Wujud Komitmen Wali Kota Membangun Kota Inklusif
Program pendidikan bagi Habibi juga menjadi bagian dari komitmen Wali Kota Banjarbaru, Hj. Erna Lisa Halaby, dalam membangun kota yang inklusif dan ramah bagi seluruh lapisan masyarakat.
Di bawah kepemimpinannya, berbagai program yang berpihak kepada kelompok rentan terus diperkuat, mulai dari bantuan sosial, layanan publik responsif gender, hingga dukungan pendidikan bagi masyarakat kurang mampu dan penyandang disabilitas.
Melalui program Banjarbaru Charity, misalnya, Pemerintah Kota Banjarbaru secara aktif turun langsung ke lapangan menyalurkan bantuan perlengkapan sekolah, santunan, dan bantuan sosial kepada anak yatim, penyandang disabilitas, serta keluarga kurang mampu di berbagai wilayah.
Pemerintah Kota Banjarbaru juga memperkuat dukungan pendidikan melalui kebijakan bantuan biaya pendidikan bagi peserta didik berprestasi maupun dari keluarga kurang mampu guna memastikan tidak ada anak yang kehilangan kesempatan belajar karena keterbatasan ekonomi.
Keberangkatan Habibi ke Darul Ashom menjadi salah satu contoh nyata bagaimana komitmen tersebut diterjemahkan menjadi tindakan yang langsung menyentuh masyarakat.
“Kami ingin memastikan tidak ada satu pun anak Banjarbaru yang tertinggal dalam memperoleh pendidikan. Termasuk anak-anak berkebutuhan khusus yang memerlukan layanan pendidikan yang lebih spesifik. Mereka memiliki hak yang sama untuk meraih masa depan yang lebih baik,” tegas Mirza.
Mirza berharap pendidikan yang ditempuh Habibi dapat menjadi jalan menuju kehidupan yang lebih mandiri sekaligus menginspirasi anak-anak disabilitas lainnya di Banjarbaru.
“Kami berharap Habibi dapat mengikuti pendidikan dengan baik, mampu membaca Al-Qur’an, memahami ilmu agama, memperoleh pendidikan umum yang memadai, dan tumbuh menjadi pribadi yang mandiri. Kepada para orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus, jangan pernah menyerah mendampingi putra-putri Anda. Berikan kasih sayang, kesempatan, dan pendidikan terbaik, karena dengan dukungan yang tepat mereka mampu tumbuh menjadi kebanggaan keluarga, masyarakat, dan Kota Banjarbaru,” pungkasnya.(be)
203
Tidak ada komentar