Mentaos Jadi Laboratorium KILAU EMAS, Warga Akan Didampingi Pilah Sampah dari Rumah ke Rumah

waktu baca 4 menit
Kamis, 11 Jun 2026 02:48 316 Banjarbaru Emas 2

BANJARBARUEMAS.COM – Pemerintah Kota Banjarbaru mulai menerapkan strategi baru dalam mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah. Tidak lagi dilakukan secara serentak di seluruh wilayah, program pemilahan sampah kini difokuskan terlebih dahulu pada satu kawasan percontohan agar pelaksanaannya lebih efektif, terukur, dan menghasilkan model yang dapat direplikasi ke wilayah lain.

Kelurahan Mentaos dipilih sebagai lokasi percontohan Program KILAU EMAS (Kelola dan Pilah Sampah untuk Banjarbaru Emas), salah satu program prioritas Pemerintah Kota Banjarbaru dalam mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.

Untuk memastikan program berjalan optimal, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Banjarbaru membentuk enam tim pendamping yang masing-masing dipimpin oleh Kepala Bidang di lingkungan DLH. Enam tim tersebut akan bertugas mendampingi enam RW yang ada di Kelurahan Mentaos selama proses implementasi program berlangsung.

Langkah awal pelaksanaan program dilakukan melalui pertemuan antara DLH Kota Banjarbaru dengan para Ketua RW dan Ketua RT se-Kelurahan Mentaos yang berlangsung di Bank Sampah KAMI Mentaos pada Rabu (9/6/2026).

Dalam pertemuan tersebut, DLH memaparkan secara rinci tahapan pelaksanaan program, mulai dari pendataan sarana pendukung, strategi edukasi kepada masyarakat, hingga mekanisme pendampingan langsung kepada warga.

Berbeda dengan pola sosialisasi yang selama ini lebih banyak dilakukan melalui penyuluhan atau pertemuan warga, pendekatan yang diterapkan kali ini menitikberatkan pada pendampingan lapangan secara langsung. Para Ketua RT dan Ketua RW bersama tim DLH akan turun dari rumah ke rumah untuk memberikan edukasi sekaligus memastikan praktik pemilahan sampah benar-benar dilakukan oleh masyarakat.

Sebelum kegiatan edukasi dimulai, tim pendamping akan melakukan pemetaan kebutuhan sarana di masing-masing RW, termasuk pendataan titik penempatan Losida, drum drop point, maupun Lokoster yang akan digunakan sebagai fasilitas pengumpulan sampah terpilah.

Dengan pola tersebut, warga tidak hanya mengetahui pentingnya memilah sampah, tetapi juga memahami secara langsung bagaimana memisahkan sampah organik, anorganik, dan sampah yang masih memiliki nilai ekonomis.

Pemilihan Kelurahan Mentaos sebagai wilayah percontohan dinilai memiliki dasar yang kuat. Selain memiliki jumlah penduduk yang cukup representatif, Mentaos juga dikenal memiliki kelembagaan masyarakat yang aktif dan berpengalaman dalam kegiatan pengelolaan lingkungan.

Keberadaan Bank Sampah KAMI Mentaos menjadi salah satu faktor penting yang mendukung program tersebut. Selama beberapa tahun terakhir, bank sampah yang dikelola masyarakat itu telah menjadi motor penggerak pengurangan sampah dari sumber serta membantu menekan volume sampah yang dibawa menuju TPS Hutan Pinus.

Keterlibatan Ketua RT, Ketua RW, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), kader lingkungan, hingga pengelola Bank Sampah KAMI diyakini akan mempercepat proses perubahan perilaku masyarakat.

Lurah Mentaos Ciptadi Sunaryo mengatakan, pendekatan yang dilakukan DLH Kota Banjarbaru merupakan terobosan yang sangat membantu pemerintah kelurahan dalam menjalankan program prioritas daerah.

“Alhamdulillah, kami bersama para Ketua RT, Ketua RW, Ketua LPM dan Direktur Bank Sampah KAMI telah melakukan pertemuan untuk mengevaluasi sekaligus mempertajam rencana aksi dalam menyukseskan salah satu program prioritas Ibu Wali Kota, yaitu KILAU EMAS. Dari hasil pertemuan ini, Dinas Lingkungan Hidup mengajak para Ketua RT dan RW untuk bersama-sama turun ke masyarakat secara door to door guna mengedukasi dan memastikan kegiatan memilah sampah dari rumah benar-benar berjalan,” kata Ciptadi.

Menurut dia, metode pendampingan langsung akan membuat masyarakat lebih mudah memahami cara memilah sampah dibandingkan hanya menerima materi sosialisasi.

“Jadi warga tidak hanya diberi teori melalui sosialisasi, tetapi juga akan dibimbing secara langsung bagaimana praktik memilah sampah yang benar. Dengan demikian masyarakat dapat memahami manfaatnya sekaligus menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Ciptadi menambahkan, keberadaan tim pendamping di setiap RW akan memperkuat peran RT sebagai ujung tombak pelayanan masyarakat sekaligus agen perubahan di lingkungan masing-masing.

“Selama ini para Ketua RT menjadi pihak yang paling dekat dengan masyarakat. Ketika mereka didampingi langsung oleh tim dari Dinas Lingkungan Hidup, proses edukasi tentu akan lebih mudah, lebih terarah, dan lebih cepat menjangkau seluruh warga,” katanya.

Melalui program percontohan ini, Pemerintah Kota Banjarbaru berharap dapat menemukan pola terbaik dalam penerapan pemilahan sampah dari sumber. Apabila berhasil, model yang diterapkan di Kelurahan Mentaos akan menjadi rujukan untuk diterapkan secara bertahap di kelurahan lain di Kota Banjarbaru.

Program KILAU EMAS juga diharapkan mampu mengurangi volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan sementara maupun tempat pemrosesan akhir, sekaligus meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.

Bagi Kelurahan Mentaos, program ini bukan sekadar kegiatan pengelolaan sampah, melainkan gerakan bersama untuk membangun budaya baru yang dimulai dari lingkungan terkecil, yakni rumah tangga.

Sebagai penutup, Ciptadi mengajak seluruh warga Mentaos untuk menjadikan program ini sebagai gerakan bersama demi masa depan lingkungan yang lebih baik.

“Kami berharap seluruh warga Mentaos dapat berpartisipasi aktif. Mari kita mulai dari langkah yang paling sederhana, yaitu memilah sampah dari rumah masing-masing. Jika kebiasaan baik ini tumbuh di setiap keluarga, saya yakin Mentaos bisa menjadi contoh bagi kelurahan lain dan bersama-sama kita mewujudkan Banjarbaru Emas yang bersih, sehat, dan nyaman untuk generasi mendatang,” pungkas Ciptadi.(be)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA