BANJARBARUEMAS.COM – Transformasi pelayanan publik dewasa ini tidak lagi hanya diukur dari kecepatan layanan atau kemampuan digitalisasi birokrasi. Di tingkat masyarakat, inovasi pelayanan justru mulai dimaknai lebih luas: bagaimana pemerintah mampu hadir secara nyata di tengah persoalan sosial masyarakat.
Pendekatan itulah yang mulai diperkuat Kelurahan Loktabat Utara, Kecamatan Banjarbaru Utara, melalui kolaborasi sosial bersama D&C Care Berbagi.
Di tengah berkembangnya layanan berbasis aplikasi dan sistem digital, Kelurahan Loktabat Utara mencoba menghadirkan model pelayanan yang lebih humanis dan partisipatif. Inovasi pelayanan tidak semata dipahami sebagai pembaruan teknologi, tetapi juga perubahan cara pemerintah membangun kedekatan sosial dengan masyarakat.
Bentuk inovasi tersebut tidak selalu berupa sistem digital atau aplikasi daring. Inovasi juga dapat hadir melalui pembaruan pendekatan sosial, penguatan kolaborasi masyarakat, hingga pola pelayanan jemput bola yang langsung menyentuh kelompok rentan.
Prinsip itu tampak dalam langkah yang dilakukan Kelurahan Loktabat Utara bersama D&C Care melalui kegiatan sosial door to door kepada warga yang membutuhkan.
Salah satu aksi nyata dilakukan dengan menjenguk Ibu Titin, warga Loktabat Utara yang mengalami kondisi kesehatan menurun. Dalam kunjungan tersebut, pihak kelurahan bersama relawan tidak hanya memberikan perhatian sosial, tetapi juga memfasilitasi layanan home care melalui Puskesmas Banjarbaru Utara agar warga mendapatkan penanganan kesehatan yang lebih cepat dan terintegrasi.
Model pelayanan seperti ini menunjukkan bahwa inovasi sektor publik tidak hanya berbicara mengenai efisiensi birokrasi, tetapi juga kemampuan pemerintah membaca kebutuhan riil masyarakat secara langsung.
Lurah Loktabat Utara, Dedy Wahyudie, menilai pelayanan publik yang efektif harus mampu menjangkau dimensi sosial masyarakat, khususnya kelompok warga yang berada dalam kondisi rentan.
“Kami mencoba membangun pelayanan yang lebih dekat, responsif, dan menyentuh langsung kebutuhan warga. Karena kelurahan adalah wajah Pemerintah Kota Banjarbaru yang paling dekat dengan masyarakat, maka pelayanan kelurahan harus benar-benar bisa dirasakan manfaat dan kehadirannya oleh warga,” ujar Dedy Wahyudie, Sabtu (23/5/2026).
Kolaborasi dengan D&C Care sendiri dilatarbelakangi kesadaran bahwa masih terdapat masyarakat yang membutuhkan dukungan pemenuhan kebutuhan dasar maupun akses layanan sosial dan kesehatan.
Melalui kegiatan tersebut, bantuan disalurkan secara langsung ke rumah warga agar lebih tepat sasaran. Bantuan yang diberikan meliputi paket sembako berupa bahan pangan pokok, hingga alat bantu kesehatan seperti kursi roda, walker, tongkat kruk, dan tongkat tripod.
Pendekatan door to door dipilih karena dinilai lebih efektif dalam memetakan kondisi sosial masyarakat sekaligus memperkuat interaksi antara pemerintah dan warga.
Selain melibatkan aparat kelurahan, kegiatan ini turut didukung relawan sosial, PSM, serta partisipasi masyarakat yang menyampaikan informasi warga membutuhkan bantuan melalui media sosial maupun komunikasi langsung.
Pola kolaboratif seperti ini menjadi bagian penting dalam penguatan social governance atau tata kelola berbasis partisipasi masyarakat. Pemerintah tidak bekerja sendiri, melainkan membangun jejaring sosial bersama komunitas, relawan, dan masyarakat sipil untuk mempercepat respons pelayanan.
Menurut Dedy, kehadiran pemerintah di tengah masyarakat harus mampu membangun rasa aman sosial sekaligus memperkuat budaya gotong royong di lingkungan warga.
“Di tengah kehidupan masyarakat yang semakin dinamis, nilai kepedulian sosial harus terus dijaga. Kehadiran pemerintah bukan hanya soal layanan administrasi, tetapi bagaimana masyarakat merasa diperhatikan dan tidak sendirian menghadapi persoalan hidup,” katanya.
Dana kegiatan berasal dari donatur yang terdiri dari ASN maupun warga Kota Banjarbaru yang turut berpartisipasi dalam gerakan berbagi tersebut.
Di balik kegiatan sederhana itu, tersimpan pesan penting mengenai wajah pelayanan publik masa kini: pelayanan yang tidak berjarak, adaptif terhadap kebutuhan masyarakat, dan dibangun di atas nilai empati sosial.
“Satu kebaikan kecil yang dibagikan bersama, mampu menyalakan harapan baru di hati mereka yang membutuhkan,” tutup Dedy Wahyudie.(be)
211
Tidak ada komentar