BANJARBARUEMAS.COM – Di Banjarbaru, pembangunan dimulai dari sesuatu yang lebih mendasar, yakni keluarga. Dari keluarga yang sehat lahir generasi yang cerdas, dari keluarga yang harmonis tumbuh masyarakat yang produktif, dan dari keluarga yang mandiri tercipta kota yang maju.
Filosofi inilah yang menjadi pijakan Pemerintah Kota Banjarbaru dalam mewujudkan Banjarbaru EMAS (Elok, Maju, Adil, dan Sejahtera). Melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pemberdayaan Masyarakat Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APMP2KB), pembangunan keluarga tidak lagi dipandang sebagai program sektoral, melainkan sebagai strategi besar pembangunan daerah yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui Pembinaan dan Monitoring Evaluasi (Monev) Kampung Keluarga Berkualitas di 20 kelurahan se-Kota Banjarbaru. Program itu kemudian diperkuat melalui kegiatan Penguatan Kampung Keluarga Berkualitas bertema “Komitmen Bersama dalam Meningkatkan Kualitas Keluarga di Kota Banjarbaru” yang digelar di Aula DP3APMP2KB pada Kamis (18/6/2026).
Kepala DP3APMP2KB Kota Banjarbaru, Erma Epiyana Hartati, mengatakan pembangunan keluarga menjadi salah satu pondasi utama dalam mewujudkan visi Banjarbaru EMAS. Menurutnya, keberhasilan pembangunan daerah tidak cukup hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi maupun pembangunan fisik, tetapi juga harus dilihat dari kualitas kehidupan keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat.
“Banjarbaru EMAS menempatkan keluarga sebagai pusat pembangunan. Karena keluarga adalah tempat pertama membentuk karakter, kesehatan, pendidikan, hingga kesejahteraan masyarakat. Ketika keluarga berkualitas dapat diwujudkan, maka sumber daya manusia yang unggul juga akan lahir. Itulah fondasi menuju Banjarbaru yang elok, maju, adil, dan sejahtera,” ujar Erma saat menyampaikan keterangan, Jumat (19/6/2026).
Visi Banjarbaru EMAS sendiri diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui empat misi utama, yaitu membangun infrastruktur berkualitas dan lingkungan hidup berkelanjutan, meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang berakhlak mulia, cerdas dan sehat, memperkuat transformasi ekonomi yang inklusif dan berdaya saing, serta membangun tata kelola pemerintahan yang transparan, akuntabel, dan melayani.
Seluruh misi tersebut diterjemahkan ke dalam sedikitnya 15 program prioritas, mulai dari Banjarbaru Charity yang memberikan perlindungan sosial kepada masyarakat rentan dan mempercepat penurunan stunting, penciptaan lapangan kerja baru, bantuan modal UMKM, pengembangan ekonomi kreatif, pelayanan kesehatan gratis, pendidikan gratis, hingga pemberian beasiswa bagi anak-anak Banjarbaru.
Menurut Erma, seluruh program tersebut akan sulit mencapai hasil maksimal apabila tidak dimulai dari penguatan keluarga.
“Karena itu Kampung Keluarga Berkualitas menjadi ruang integrasi seluruh program pemerintah. Di sana tidak hanya berbicara tentang keluarga berencana, tetapi juga administrasi kependudukan, kesehatan ibu dan anak, pencegahan stunting, pendidikan, pemberdayaan ekonomi keluarga, perlindungan perempuan dan anak, hingga peningkatan kualitas lingkungan. Semua layanan bertemu dalam satu wadah agar masyarakat memperoleh pelayanan yang utuh,” katanya.
Berbeda dengan pendekatan pembangunan yang berjalan sendiri-sendiri, Kampung Keluarga Berkualitas dibangun melalui konsep integrasi dan konvergensi lintas sektor. Seluruh kebijakan diawali dengan penyusunan basis data terpadu yang memotret kondisi nyata masyarakat hingga tingkat keluarga.
Data tersebut kemudian menjadi dasar dalam menyusun peta persoalan setiap wilayah, mulai dari keluarga berisiko stunting, kemiskinan, pendidikan, administrasi kependudukan, kesehatan reproduksi, hingga potensi ekonomi yang dimiliki masyarakat.
Melalui pendekatan berbasis data tersebut, intervensi pemerintah menjadi lebih tepat sasaran. Program tidak lagi disusun berdasarkan perkiraan, tetapi berdasarkan kebutuhan riil masyarakat di setiap kelurahan.
Selanjutnya dilakukan tiga tahapan utama, yaitu penguatan kondisi masyarakat, pengembangan Kampung Keluarga Berkualitas, serta peningkatan kapasitas tenaga lapangan agar mampu memberikan pendampingan secara berkelanjutan kepada keluarga.
Pendekatan itu sekaligus memastikan setiap keluarga memperoleh pelayanan yang saling terhubung, mulai dari layanan administrasi kependudukan, edukasi perubahan perilaku, pelayanan kesehatan, keluarga berencana, pendampingan keluarga berisiko stunting, perlindungan sosial, akses pendidikan, pemberdayaan ekonomi keluarga hingga perbaikan sanitasi dan lingkungan permukiman.
“Melalui pendekatan berbasis data, pemerintah dapat mengetahui kebutuhan setiap keluarga sehingga program yang diberikan benar-benar tepat sasaran. Tujuan akhirnya adalah menciptakan keluarga yang sehat, mandiri, produktif, terlindungi, dan memiliki daya saing,” ujar Erma.
Keberhasilan Kampung Keluarga Berkualitas juga tidak terlepas dari kolaborasi lintas sektor yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.
Dalam pelaksanaan pembinaan dan monitoring evaluasi, DP3APMP2KB menggandeng lurah, Kasi Kesejahteraan Sosial, Penyuluh KB, TP PKK, Kementerian Agama, Tim Pendamping Keluarga, Posyandu, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), Forum RT/RW, Babinsa, Bhabinkamtibmas hingga Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Kolaborasi tersebut memungkinkan berbagai persoalan keluarga ditangani secara bersama-sama, mulai dari pencegahan stunting, penguatan ketahanan keluarga, perlindungan perempuan dan anak, hingga peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat.
“Pembangunan keluarga tidak mungkin berhasil jika hanya dilakukan satu perangkat daerah. Dibutuhkan komitmen seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, penyuluh, tokoh masyarakat, dunia usaha, hingga masyarakat sendiri. Semangat gotong royong inilah yang menjadi kekuatan Banjarbaru,” kata Erma.
Pendekatan kolaboratif tersebut kini mulai menunjukkan hasil nyata.
Pada tahun 2026, Kota Banjarbaru berhasil meraih Juara I Lomba Kampung Keluarga Berkualitas Tingkat Provinsi Kalimantan Selatan melalui Kampung Keluarga Berkualitas Sungai Ulin.
Prestasi itu menjadi bukti bahwa pembangunan keluarga yang dilakukan secara terintegrasi mampu menghasilkan perubahan nyata di tengah masyarakat.
Bagi Pemerintah Kota Banjarbaru, penghargaan tersebut merupakan pengakuan bahwa model pembangunan keluarga berbasis kolaborasi telah berjalan dengan baik.
“Prestasi ini merupakan hasil kerja bersama seluruh pihak, mulai dari pemerintah daerah, pemerintah kelurahan, penyuluh KB, kader, hingga masyarakat. Penghargaan ini menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan dan memperluas praktik baik Kampung Keluarga Berkualitas di seluruh kelurahan,” ujar Erma.
Penguatan program juga terus dilakukan hingga tingkat kelurahan.
Di Kelurahan Mentaos, misalnya, pada Selasa (9/6/2026), digelar pertemuan Pokja Kampung Keluarga Berkualitas yang diinisiasi DP3APMP2KB melalui Bidang Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana.
Pertemuan tersebut menghadirkan Ketua TP PKK Kelurahan Mentaos, Ketua Pokja Kampung KB, kader Penyuluh KB, kader Posyandu, Ketua LPM, Bhabinkamtibmas, Puskesmas Banjarbaru Utara, Kementerian Agama Kota Banjarbaru, hingga Yayasan Pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Lurah Mentaos, Ciptadi Sunaryo, mengatakan forum tersebut menjadi ruang koordinasi sekaligus penguatan sinergi lintas sektor agar seluruh program pembangunan keluarga dapat berjalan secara terpadu di wilayahnya.
Langkah tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan keluarga di Banjarbaru tidak berhenti pada penyusunan kebijakan di tingkat kota. Program benar-benar dijalankan hingga ke tingkat kelurahan dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat.
Pada akhirnya, Kampung Keluarga Berkualitas bukan hanya menjadi program pemerintah, melainkan gerakan bersama membangun keluarga sebagai fondasi pembangunan daerah. Dari rumah-rumah yang sehat, harmonis, berpendidikan, produktif, dan mandiri, Banjarbaru menyiapkan generasi unggul yang akan menjadi penggerak utama terwujudnya Banjarbaru EMAS.(be)
345
Tidak ada komentar