Dari Yasinan ke Aksi Lingkungan: Bangkal Memulai Revolusi Sampah dari Rumah
waktu baca 3 menit
Selasa, 28 Apr 2026 04:36 98 Banjarbaru Emas 2
Foto : Lurah Bangkal, Adie Rifani, saat menyampaikan sosialisasi pengelolaan dan pemilahan sampah dari rumah kepada warga dalam kegiatan yasinan dan burdah di Kelurahan Bangkal.(BE)
BANJARBARUEMAS.COM — Pesan Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby tentang pengelolaan sampah dari sumbernya menemukan bentuk paling konkret di Kelurahan Bangkal. Di wilayah yang dikenal memiliki kultur religius yang kuat, pendekatan berbasis kegiatan keagamaan justru menjadi kunci efektivitas perubahan perilaku masyarakat.
Di Bangkal, yasinan, burdahan, dan sholawatan bukan sekadar rutinitas spiritual, melainkan ruang sosial yang hidup, tempat nilai, kebiasaan, dan kesadaran kolektif dibangun. Momentum inilah yang dimanfaatkan pemerintah kelurahan untuk menyisipkan edukasi pengelolaan sampah.
Lurah Bangkal, Adie Rifani, menyebut karakter agamis masyarakat menjadi kekuatan utama dalam mendorong gerakan ini.
“Warga Bangkal ini dikenal agamis. Kegiatan seperti yasinan, burdahan, dan sholawatan rutin dilaksanakan. Kami melihat ini sebagai kekuatan sosial. Ketika pesan pengelolaan sampah disampaikan dalam forum seperti itu, penerimaannya jauh lebih efektif karena disampaikan dalam suasana kebersamaan dan nilai-nilai kebaikan,” ujarnya.
Ia menegaskan, pendekatan ini bukan sekadar strategi komunikasi, tetapi bagian dari upaya membumikan kebijakan wali kota agar benar-benar hidup di tengah masyarakat.
“Sampah itu selesai bukan di TPS atau TPA, tapi di rumah kita masing-masing. Kalau warga sudah sadar memilah dari rumah, maka persoalan di hilir akan jauh berkurang,” kata Adie.
Secara historis, Bangkal tumbuh dari perpindahan warga Guntung Paring sekitar 1960-an yang mencari kawasan hunian baru. Mereka menyebar ke wilayah yang saat itu belum berpenghuni di pinggiran Cempaka, Loktabat, hingga Ulin. Kawasan yang kini dikenal sebagai Bangkal dinamai dari banyaknya pohon bangkal yang tumbuh di wilayah tersebut. Seiring waktu, jumlah penduduk bertambah dengan mata pencaharian beragam, bertani, berkebun, hingga mendulang intan.
Kini, sebagai kelurahan di Kecamatan Cempaka yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Tanah Laut, Bangkal menghadapi tantangan modern berupa peningkatan volume sampah rumah tangga.
Gerakan sosialisasi dilakukan secara sistematis. Pada Sabtu malam, 18 April 2026, tim kelurahan memulai edukasi kepada RT dan RW sebagai simpul awal. Materinya meliputi pemilahan sampah organik dan anorganik dari rumah serta strategi penyebaran informasi ke warga.
Keesokan harinya, Minggu, 19 April 2026, sosialisasi dilaksanakan di RT 04 RW 02 melalui kegiatan sholawatan dan burdah. Pada malam harinya, kegiatan serupa digelar di RT 10 RW 04 dalam forum yasinan. Kemudian pada Jumat, 24 April 2026, edukasi kembali dilakukan di RT 11 RW 04 dalam kegiatan sholawatan dan burdah.
Seluruh kegiatan melibatkan unsur kelurahan, Ketua LPM, TP PKK, serta Forum RT/RW, menjadikan gerakan ini tidak hanya kelembagaan, tetapi juga sosial dan kultural.
Adie menilai, pendekatan berbasis nilai keagamaan membuat pesan lingkungan lebih mudah diterima dan dijalankan.
“Ketika kita bicara kebersihan sebagai bagian dari iman, warga langsung merasa memiliki. Dari situ lahir kesadaran, bukan sekadar kewajiban,” ujarnya.
Dari ruang-ruang doa itulah perubahan bermula. Kelurahan Bangkal menunjukkan, solusi persoalan sampah lahir dari kesadaran kolektif yang berakar pada nilai, tradisi, dan kedekatan sosial warganya.(be)
Tidak ada komentar