BANJARBARUEMAS.COM — Upaya pengurangan sampah dari sumbernya terus didorong di Kota Banjarbaru. Di Kecamatan Liang Anggang, inisiatif itu kini menemukan bentuk konkretnya melalui inovasi sederhana bernama “keranjang ajaib”.
Penggagasnya adalah Senen, tokoh masyarakat yang menjabat sebagai Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kecamatan Liang Anggang sekaligus pengelola Bank Sampah Induk. Sejak 2016, ia konsisten mengedukasi warga tentang pentingnya pengelolaan sampah, terutama dari lingkup rumah tangga. Inovasi tersebut bahkan menarik perhatian pihak Kecamatan Liang Anggang yang pada Rabu, 22 April 2026, datang langsung ke rumahnya untuk melihat dari dekat cara kerja “keranjang ajaib” yang ia kembangkan.
Berangkat dari persoalan klasik menumpuknya sampah organik, Senen merancang metode sederhana dengan memanfaatkan keranjang laundry, sekam, dan kain kasa. Perangkat itu kemudian digunakan untuk mengolah sampah dapur menjadi kompos secara mandiri.
“Prinsipnya sederhana. Sampah organik kita selesaikan di rumah. Jadi tidak semuanya harus dibuang ke TPS,” ujar Senen.
Dalam praktiknya, sampah organik dimasukkan ke dalam keranjang, dilapisi sekam untuk membantu proses penguraian, lalu ditutup kain kasa agar tetap memiliki sirkulasi udara. Dalam kurun waktu tertentu, sampah tersebut akan terurai menjadi kompos yang dapat dimanfaatkan kembali oleh warga.
Inovasi ini dinilai efektif karena mudah diterapkan dan tidak membutuhkan biaya besar. Pemerintah kecamatan pun melihat potensi penerapan lebih luas, dimulai dari skala percontohan di Kelurahan Landasan Ulin Barat.
Camat Liang Anggang, Lia Astuti, menyatakan dukungannya terhadap inisiatif tersebut. Ia menilai, langkah yang dilakukan Senen sejalan dengan upaya pemerintah dalam mengurangi beban sampah kota melalui pendekatan berbasis sumber.
“Kami menyambut baik inisiasi ini sebagai bentuk dukungan dan kolaborasi semua pihak untuk bersama-sama menyelesaikan dan mengelola sampah berbasis sumber,” ujar Lia.
Menurut dia, persoalan sampah tidak bisa diselesaikan hanya oleh pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat. Karena itu, pihak kecamatan akan mendorong edukasi kepada warga agar inovasi tersebut dapat diterapkan secara luas.
“Kami juga berkomitmen untuk mengedukasi masyarakat, mulai dari proses pembuatan hingga pemanfaatannya, sehingga warga bisa mandiri dalam mengelola sampah rumah tangga,” kata Lia.
Langkah ini sejalan dengan kebijakan Pemerintah Kota Banjarbaru yang menekankan pentingnya partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan.
Di Liang Anggang, kolaborasi antara pemerintah dan warga mulai menunjukkan hasil. Inovasi sederhana seperti “keranjang ajaib” menjadi bukti bahwa solusi pengelolaan sampah tidak selalu harus rumit atau mahal.
Dari dapur rumah tangga, perubahan itu perlahan dimulai, mengurangi beban tempat pemrosesan akhir (sampah), sekaligus membangun kesadaran baru bahwa sampah adalah tanggung jawab bersama.
“Harapannya, gerakan ini bisa menjadi kebiasaan baru masyarakat, sehingga pengelolaan sampah benar-benar dimulai dari rumah,” pungkas Lia.(be)
66
Tidak ada komentar