Usai Korvei, Wali Kota Lisa Bergegas Menuju Lokasi Duka Warga
waktu baca 2 menit
Minggu, 12 Apr 2026 08:18 150 Banjarbaru Emas 2
Foto : Wali Kota Banjarbaru, Hj. Erna Lisa Halaby, duduk bersisian bersama para ibu korban kebakaran di Kecamatan Cempaka, Minggu (12/4/2026), mendengarkan langsung kisah dan kebutuhan warga terdampak sebagai bentuk kepedulian dan kehadiran pemerintah di tengah duka.(BE)
BANJARBARUEMAS.COM – Kegiatan Apel dan Korvei Gotong Royong Bersih Sampah dalam rangka Hari Jadi ke-27 Kota Banjarbaru digelar di Pasar Galuh Cempaka, Minggu (12/4/2026), dalam suasana semarak dan penuh kebersamaan. Barisan peserta memenuhi lapangan, menandai komitmen bersama merawat kebersihan kota. Namun ketika kegiatan usai dan peserta mulai membubarkan diri, Wali Kota Banjarbaru, Hj. Erna Lisa Halaby, memilih tidak langsung pulang.
Ia justru melangkah ke tempat yang berbeda: lokasi kebakaran di Kecamatan Cempaka tempat duka masih menggantung.
Di lokasi itu, puing-puing kayu yang terbakar masih mengepulkan aroma hangus yang menyengat. Dinding-dinding menghitam berdiri seperti saksi bisu amukan api. Anak-anak terdiam memandangi sisa-sisa rumah yang kemarin masih mereka sebut sebagai tempat pulang.
Lisa datang tanpa jarak. Ia berjalan perlahan di antara puing-puing, menyapa satu per satu korban. Tangannya menggenggam tangan warga yang masih gemetar. Ia mendengar, lebih banyak mendengar. Sesekali matanya berkaca-kaca ketika duduk bersisian dengan seorang ibu yang bercerita bagaimana api melahap seluruh isi rumahnya.
“Untuk selanjutnya, kami meminta camat setempat membantu warga dalam pengurusan dokumen seperti KTP dan kartu keluarga yang hilang, agar identitas mereka segera bisa digunakan kembali,” ucapnya dengan suara tegas namun bergetar.
Bagi warga, kehilangan bukan hanya soal bangunan. Api juga menghanguskan dokumen, ijazah, kartu keluarga identitas yang menjadi pintu akses untuk melanjutkan hidup. Pemerintah kota, kata Lisa, tidak boleh membiarkan mereka menghadapi beban itu sendirian.
“Kami akan membantu melalui program rehabilitasi rumah bagi masyarakat yang terdampak,” tambahnya.
Kalimat itu sederhana, tetapi di tengah puing dan abu, ia terdengar seperti janji yang memulihkan harapan.
Lisa juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap instalasi listrik yang kerap menjadi pemicu kebakaran. Namun peringatan itu disampaikannya dengan empati bukan menyalahkan, melainkan mengajak.
Di antara warga yang berdiri mengelilinginya, Rosman, salah satu korban, tak mampu menyembunyikan harunya.
“Kedatangan Ibu Wali Kota Banjarbaru sangat memberikan perhatian kepada korban. Jadi kami ucapkan sekali lagi banyak terima kasih kepada Ibu. Sementara ini kami dari korban benar-benar diperhatikan, sangat diperhatikan dari bawah,” tuturnya pelan.
Hari itu, menjelang peringatan Hari Jadi ke-27 Kota Banjarbaru, makna perayaan seakan bergeser. Kepemimpinan tak lagi sekadar simbol, melainkan kehadiran nyata di titik paling rapuh kehidupan warganya.
Di tengah abu yang masih hangat, kepemimpinan menemukan bentuknya yang paling jujur: berdiri di samping mereka yang kehilangan, memastikan bahwa setelah api padam, harapan tetap menyala.(be)
Tidak ada komentar