Ketua RW 07 Syamsudin Noor Suyono, Dorong Sampah Selesai di Sumber, Banjarbaru Temukan Momentumnya

waktu baca 3 menit
Senin, 6 Apr 2026 12:44 274 Banjarbaru Emas 2

BANJARBARUEMAS.COM – Di sebuah ruang tamu sederhana di rumah Bu Tarman, warga RT 33 RW 07 Kelurahan Syamsudin Noor, Kota Banjarbaru, percakapan sore itu tak sekadar membahas arisan dan kabar keluarga. Senin, 6 April 2026, pertemuan rutin ibu-ibu berubah menjadi ruang belajar bersama tentang masa depan lingkungan mereka.

Bu Tarman bukan sosok asing dalam urusan persampahan. Ia dikenal sebagai pegiat dan pemilah sampah di lingkungannya. Dari rumahnya, kebiasaan memilah sampah mulai tumbuh dan perlahan mengubah cara pandang warga terhadap limbah rumah tangga.

Momentum itu tak disia-siakan Ketua RW 07 Kelurahan Syamsudin Noor, Suyono. Di sela pertemuan bulanan tersebut, ia menyapa para ibu dengan semangat baru sepulang dari Yogyakarta. Pada 30 Maret hingga 1 April 2026, Suyono mengikuti kegiatan studi tiru pengelolaan sampah dan pengembangan pertanian berkelanjutan.

Kegiatan itu merupakan bagian dari penguatan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) PT Pertamina Patra Niaga AFT Syamsudin Noor melalui Program HILING (Penghijauan dan Pengelolaan Lingkungan). Program tersebut membina dua kelompok utama, yakni Bank Sampah Sumber Rezeki dan Kelompok Tani Ngudi Rahayu, yang menjadi contoh integrasi pengelolaan sampah dan pertanian produktif.

Suyono menepati janjinya. Sepulang dari Yogyakarta, ia berkomitmen berbagi ilmu dan pengalaman kepada para pengelola serta pegiat bank sampah di setiap RT.

“Sepulang dari pelatihan, saya akan berbagi ilmu dan pengalaman kepada pengelola serta pegiat bank sampah di setiap RT dan wilayah. Harapannya, kapasitas SDM meningkat, produk lebih inovatif, dan nilai ekonominya juga semakin baik,” ujarnya.

Di hadapan para ibu, Suyono memaparkan sejumlah praktik inovatif yang sudah ada. Salah satunya konsep sedekah sampah MARKISA serta pengelolaan sampah melalui sumur komposter. Intinya sederhana: sampah harus selesai di sumbernya. Sampah organik diolah, sampah anorganik dipilah dan bernilai ekonomi, sementara yang dibuang ke tempat pembuangan sementara (TPS) tinggal residu.

Pengelolaan sampah organik melalui sumur komposter kini mulai diarahkan ke tahap yang lebih teknis. Setiap warga yang memasukkan sampah organik akan dicatat. Pendataan itu bertujuan mengetahui volume sampah organik yang berhasil ditahan agar tidak terbuang ke TPS. Dari situ, kebutuhan jumlah sumur komposter dapat dihitung secara terukur. Satu sumur komposter diperkirakan mampu menampung hingga satu ton sampah organik.

Langkah ini menandai bahwa gerakan pengelolaan sampah tak lagi berhenti di tingkat RT. Peran RW hadir sebagai penggerak dan penguat kebijakan di tingkat wilayah. Suyono menegaskan, dukungan struktural diperlukan agar program pilah sampah dan pengelolaan dari sumbernya berjalan seragam dan berkelanjutan.

Tahun ini, pengelolaan sampah di Banjarbaru seolah menemukan polanya. Kota ini diuntungkan dengan semangat partisipasi warganya yang tinggi. Ada kesadaran kolektif untuk memberikan yang terbaik bagi kotanya.
Gerakan pemilahan sampah dari sumbernya pun hadir sebagai momentum yang tepat, sejalan dengan desain pengelolaan sampah yang kini diarahkan lebih sistematis, mulai dari kebijakan di tingkat pusat hingga implementasi nyata di tingkat daerah dan lingkungan terkecil.

Ke depan, sosialisasi serupa akan diperluas kepada seluruh ketua RT di wilayah RW 07. Dengan sekitar 500 kepala keluarga yang tersebar di wilayah tersebut, gerakan ini diharapkan menjadi budaya bersama, bukan sekadar program sesaat.

Di penghujung pertemuan, Suyono menyampaikan ajakan yang disambut anggukan para ibu.

“Kalau kita ingin lingkungan bersih dan bernilai ekonomi, maka sampah harus selesai di rumah kita sendiri. Jangan lagi semua dibuang ke TPS. Kita bisa kelola, kita bisa hitung, dan kita bisa rasakan manfaatnya bersama.”pungkasnya.(be)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA