Bersimpuh di Hadapan Lansia, Hj. Erna Lisa Halaby Hadirkan Kepemimpinan Penuh Adab
waktu baca 4 menit
Jumat, 27 Feb 2026 09:26 348 Banjarbaru Emas 2
BANJARBARUEMAS.COM – Jumat pagi, 27 Februari 2026. Aula Kantor Kecamatan Banjarbaru Selatan tak sekadar menjadi ruang pertemuan. Ia menjelma ruang batin, tempat usia, pengalaman, dan doa bertemu dalam satu lingkar kehangatan.
Puluhan lansia duduk berderet. Wajah mereka menyimpan sejarah panjang: tentang Banjarbaru yang dulu sunyi, ketika kabut pagi turun pelan menyelimuti hamparan ilalang dan kebun karet; ketika Lapangan Murdjani masih menjadi tanah lapang tempat anak-anak berlari dan warga merayakan hari besar dengan panggung sederhana; ketika kawasan Cempaka berdenyut sebagai simpul ekonomi rakyat yang tumbuh dari ketekunan para penambang dan pedagang kecil; ketika Jalan Trikora belum seramai hari ini, masih berupa bentang jalan panjang yang dilalui sepeda, dan langkah kaki penuh harap.
Mereka menyaksikan tiap episode kepemimpinan para wali kota pendahulu, dari masa perintisan identitas kota, pembangunan kantor-kantor pelayanan pertama, penataan pasar dan ruang publik, pembukaan akses jalan, hingga penguatan pendidikan dan layanan kesehatan. Mereka melihat lampu-lampu kota menyala satu per satu, rumah kayu perlahan berganti bangunan permanen, dan Banjarbaru tumbuh dari kota kecil yang teduh menjadi kota yang semakin percaya diri. Tongkat-tongkat kayu bersandar di kursi. Beberapa tangan bergetar, namun mata mereka tetap jernih, menyimpan kenangan tentang pembangunan yang berjalan setahap demi setahap, ditopang semangat gotong royong dan keyakinan bahwa kota ini kelak akan menjadi rumah yang membanggakan bagi anak cucu mereka.
Lalu ia datang.
Wali Kota Banjarbaru, Hj. Erna Lisa Halaby, melangkah pelan memasuki ruangan itu. Tidak ada gestur tergesa, tidak ada bahasa tubuh yang menjaga jarak. Ia datang dengan wajah teduh, seperti seorang anak yang pulang menjumpai orang tuanya. Satu per satu tangan renta ia genggam dengan kedua tangannya, hangat, penuh takzim. Ketika menghampiri seorang nenek yang duduk lebih rendah, ia tak sekadar membungkuk, tetapi benar-benar merendahkan tubuhnya. Kepalanya tertunduk dalam, seolah sedang memohon doa, bukan sekadar memberi salam.
Di sisi lain ruangan, seorang nenek duduk di atas kursi roda. Tubuhnya ringkih, selimut tipis menutupi kakinya. Hj. Erna Lisa mendekat tanpa ragu. Ia menggenggam tangan sang nenek lama, mendengarkan ucapannya yang lirih. Lalu, dengan gerak yang nyaris tak terdengar, ia berlutut. Bersimpuh di lantai, tepat di hadapan kursi roda itu. Posisinya kini lebih rendah, ia memilih menempatkan dirinya di bawah, agar pandangan mereka sejajar. Bantuan yang dibawanya diserahkan dengan dua tangan, disertai senyum dan bisikan halus yang tak tertangkap mikrofon.
Ruangan mendadak sunyi. Beberapa hadirin menahan napas. Ada yang mengusap sudut mata. Pada detik itulah, kekuasaan kehilangan jaraknya. Yang tersisa hanyalah kemanusiaan yang utuh. Seorang wali kota tidak sedang berdiri di atas panggung kekuasaan, melainkan berlutut di hadapan usia, memuliakan generasi yang telah lebih dahulu menjaga kota ini. Sebuah pemandangan yang tak dibuat-buat, kuat, jernih, dan menyentuh hingga ke relung hati.
Bukan basa-basi. Bukan pencitraan. Melainkan adab.
Silaturahmi bersama warga lanjut usia se-Kecamatan Banjarbaru Selatan itu adalah perjumpaan hati. Didampingi Camat Banjarbaru Selatan dan para lurah, wali kota hadir untuk memastikan: para orang tua kota ini tidak berjalan sendirian di usia senja.
Sebanyak 100 paket sembako diserahkan secara simbolis kepada perwakilan lansia. Bantuan itu berasal dari dana pribadi Hj. Erna Lisa Halaby. Bukan jumlahnya yang utama, melainkan pesan yang menyertainya—bahwa perhatian tak selalu harus menunggu anggaran, dan kepedulian bisa lahir dari ketulusan.
“Lansia adalah bagian penting dari masyarakat kita. Pengalaman dan doa mereka adalah berkah bagi kemajuan Banjarbaru. Silaturahmi hari ini adalah bentuk bakti kami untuk memastikan orang tua kita tetap sehat dan bahagia,” ujarnya.
Kata “bakti” menggema pelan, tetapi dalam. Ia bukan sekadar istilah dalam sambutan, melainkan sikap hidup.
Di sela acara, wali kota duduk lebih dekat. Mendengarkan keluhan tentang kesehatan, tentang kebutuhan sehari-hari, tentang pelayanan publik. Ia menyimak tanpa tergesa. Sesekali tersenyum, sesekali mengangguk, sesekali mencatat.
Camat Banjarbaru Selatan menyampaikan apresiasi atas kehadiran langsung wali kota. Namun yang lebih terasa dari sekadar apresiasi adalah semangat yang tumbuh di wajah-wajah lansia itu. Mereka merasa dilihat. Dihargai. Diperlukan.
Jumat itu, Banjarbaru belajar kembali tentang makna hormat.
Bahwa menjadi pemimpin bukan tentang berdiri paling tinggi. Kadang justru tentang berani merendahkan diri. Tentang menundukkan kepala di hadapan usia. Tentang menyadari bahwa di balik keriput dan langkah pelan, ada sejarah yang layak dimuliakan.
Dan di aula sederhana itu, 27 Februari 2026, Banjarbaru menemukan wajahnya yang paling lembut.(be)
Tidak ada komentar