BANJARBARUEMAS.COM – Urusan audiensi dengan DKP3 Banjarbaru baru saja rampung. Ibu Risnawati, Plh. Kabid Penyuluhan itu, melepas kami dengan senyuman hangat. Tapi perut tidak bisa diajak kompromi. Sudah waktunya diisi “BBM Pandat”, istilah kami.
Pilihan jatuh ke Depot Sari Alam.
Tamu kami, Prof. Kenta Khisi, dari Kyoto University terlihat sumringah. Bukan main antusiasnya dia. Rupanya, model prasmanan, ambil sendiri lauknya, sangat cocok dengan seleranya. Makan siang itu berlangsung kilat. Tak banyak obrolan. Tak ada diskusi berat. Kami sama-sama fokus: menuntaskan lapar.
Tujuan berikutnya lebih menarik: Mess L. Inilah creative hub-nya Banjarbaru.
Begitu sampai, energi tempat ini langsung terasa. Di pelataran, sekelompok siswa sedang berlatih tari. Dibagi beberapa kelompok. Gerakannya rancak. Bukan tradisional murni, sepertinya kombinasi modern. Mess L hidup. Denyut nadinya terasa.
Prof. Kenta tak mau diam. Ponselnya terus bekerja. Setiap sudut bangunan diabadikannya. Detail sekali.
Kebiasaan barunya selama keliling Banjarbaru muncul lagi: sedikit-sedikit searching. Di layar ponselnya, tanpa mengintip, terlihat deretan huruf Kanji dan Kana. Ia tidak bertanya pada translator. Ia bertanya pada AI. Sejarah Mess L ia gali lewat kecerdasan buatan itu. Ia baca dengan saksama. Mengangguk-angguk.
Lalu, matanya tertumbuk pada panggung.
Panggung itu memang terlihat agak ketinggian dari sudut pandang penonton. Tapi bukan itu yang menahan langkah kakinya. Ia justru bergegas ke belakang. Menuju area booth makanan dan minuman.
Di sana, ada pohon beringin. Warga lokal menyebutnya: Soringin.
Prof. Kenta berhenti. Ia mendekat. Diamati benar pohon itu. Alur-alur akarnya unik. Membentuk motif anyaman yang rumit, mengikuti rangka kayu ulin penyangga tandon air tua di tengahnya.
“Good structure,” gumamnya, yang kami dengar langsung. Senyumnya mengembang.
Tangannya kembali sibuk merekam. Kali ini video. Ia ingin merekam detail bagaimana alam memeluk struktur buatan manusia itu.
Bisa jadi, pohon beringin ini adalah saksi bisu. Ia melihat Mess L dari masa ke masa. Ia merekam perjalanan Kota Banjarbaru dalam diamnya.
Kami lantas berandai-andai. Seandainya Soringin ini dijadikan spot ikonik di Mess L, tentu narasi tempat ini akan makin kuat. Ada ornamen hidup yang menjaga ingatan.
Seolah, pohon ini ingin bercerita bukan lewat suara, namun lewat guratan akarnya yang memeluk erat sang waktu.(be)
(BECC)
77
Tidak ada komentar