Doktor Abdul Karim Pimpin Gerakan Biopori, RT 02/RW IV Mentaos Tekan Sampah Organik
waktu baca 2 menit
Jumat, 10 Apr 2026 02:44 200 Banjarbaru Emas 2
Foto : Dr. Abdul Karim, Ketua RT 02/RW IV Kelurahan Mentaos, memantau sekaligus ikut melakukan pemasangan sumur biopori di Lingkungan I, Jumat (10/4/2026), sebagai bagian dari upaya pengurangan sampah organik dan penguatan program urban farming warga.(BE)
BANJARBARUEMAS.COM — Warga RT 02/RW IV Kelurahan Mentaos Banjarbaru memulai langkah konkret pengelolaan lingkungan melalui pembuatan sumur biopori, Jumat (10/4/2026). Kegiatan yang dilaksanakan ini menjadi bagian dari upaya mereduksi volume sampah organik sekaligus memperkuat program urban farming berbasis warga.
Ketua RT 02/RW IV, Dr. Abdul Karim, menjelaskan bahwa pemasangan lubang biopori bertujuan mengurangi beban sampah yang diangkut ke TPS dan TPA. Sampah organik rumah tangga yang selama ini terbuang akan diolah menjadi kompos untuk dimanfaatkan kembali oleh warga.
“Tujuan utama kami adalah mereduksi volume sampah yang diangkut ke TPS/TPA dan memproduksi pupuk kompos untuk mendukung program urban farming di lingkungan kami,” ujar Abdul Karim.
Menurutnya, inisiatif pengelolaan sampah sebenarnya telah lebih dulu berjalan melalui penggunaan komposter rumah tangga. Namun, model lubang biopori merupakan penguatan dari program yang sudah ada, sekaligus tindak lanjut arahan pemerintah.
“Warga kami sudah menjalankan komposter, meski belum dalam bentuk lubang biopori. Untuk biopori ini, kami menindaklanjuti arahan pemerintah agar pengelolaan sampah organik lebih sistematis,” katanya.
Hingga saat ini, dua titik lubang biopori telah rampung dikerjakan, sementara satu titik lainnya masih dalam proses penyelesaian. Seluruh pengerjaan ditargetkan selesai pada hari yang sama, meski penutup lubang biopori masih dalam tahap pemesanan dan dijadwalkan terpasang pekan depan.
Tiga titik pemasangan tersebut diprioritaskan di lokasi strategis, yakni satu titik di Jalan Palapa 2 dan dua titik di Jalan Palapa 1, berdekatan dengan area bank sampah warga. Penempatan ini mempertimbangkan aksesibilitas serta potensi suplai sampah organik dari rumah tangga sekitar.
Dalam hal perawatan, pengurus RT dan RW untuk sementara akan bertanggung jawab langsung. Ke depan, setiap titik biopori akan memiliki koordinator khusus yang ditunjuk dari warga setempat guna memastikan keberlanjutan fungsi dan pemanfaatannya.
Abdul Karim menegaskan, keberhasilan program tidak hanya bergantung pada infrastruktur, melainkan pada kesadaran kolektif warga. Karena itu, strategi utama yang ditempuh adalah memaksimalkan manfaat ekonomi dari kompos yang dihasilkan serta terus mengomunikasikan dampak positif pengurangan sampah organik.
“Strategi kami jelas. Pertama, maksimalkan manfaat ekonominya supaya warga benar-benar merasakan dampaknya. Kedua, terus kami komunikasikan betapa besar kontribusi warga dalam mengurangi sampah organik. Kalau mereka tahu dan sadar dampaknya, akan tumbuh rasa bangga karena menjadi bagian dari solusi,” ujar Abdul Karim.(be)
Tidak ada komentar