BANJARBARUEMAS.COM — Hujan turun lebat membasahi kawasan Lapangan Murjani, Selasa (3/3/2026) malam. Butiran air yang jatuh tanpa jeda tak lantas membubarkan kerumunan warga di Stand Ekonomi Kreatif (Ekraf) Banjarbaru. Di ruang terbuka itu, Creativetalk #9 bertajuk “Potensi Film Karya Siswa di Banjarbaru” tetap berlangsung, menghadirkan diskusi hangat sekaligus pemutaran film karya pelajar.
Kegiatan yang digagas Komite Ekraf Banjarbaru tersebut dimulai pukul 21.00 WITA dengan menghadirkan Rory Aksara, Ketua Akademi Film Banjarbaru (AFB), sebagai pemateri utama. Dalam paparannya, Rory menegaskan bahwa Akademi Film Banjarbaru adalah gerakan kolektif dan inisiatif komunitas yang berfokus pada pengembangan ekosistem perfilman di Kota Banjarbaru.
“AFB hadir sebagai ruang belajar bersama. Kami membangun jejaring, pendampingan, dan ruang apresiasi agar film lokal bisa tumbuh,” ujarnya.
Menurut Rory, penguatan ekosistem dilakukan melalui kolaborasi lintas komunitas, salah satunya bersama Akademi Bangku Panjang Mingguraya. Kolaborasi tersebut melahirkan BAFAFEST (Banjarbaru Film Academy Festival), festival film yang menjadi ruang apresiasi bagi sineas muda Banjarbaru dan Kalimantan Selatan. Penyelenggaraan terakhir berlangsung pada 19–20 Desember 2025 di Panggung Bundar Mingguraya, menjadi etalase karya sekaligus titik temu pelajar, komunitas, dan publik.
Selain festival, denyut perfilman Banjarbaru juga bertumpu pada ruang pemutaran alternatif seperti Bioskop Misbar Banjarbaru yang berlokasi di Taman RTH Kreasi, Loktabat Utara. Tempat ini kerap menjadi pusat kegiatan komunitas, mulai dari Festival Film Pelajar Banjarbaru (FFPB) hingga berbagai workshop teknik pembuatan film bagi pelajar dan pemuda.
Dalam diskusi, Rory juga menyinggung pentingnya kesinambungan antara komunitas dan pendidikan formal. Di Banjarbaru, sejumlah sekolah menengah telah membuka jurusan relevan dengan dunia perfilman, seperti SMK Telkom Banjarbaru dengan kompetensi Animasi dan Desain Komunikasi Visual (DKV), SMK Manbaul Ulum dengan jurusan Broadcasting & Perfilman, serta SMKN 1 Banjarbaru yang memiliki jurusan Desain Komunikasi Visual. Menurutnya, lulusan sekolah-sekolah tersebut membutuhkan wadah praktik dan jejaring, yang salah satunya difasilitasi oleh komunitas seperti AFB.
Talkshow malam itu dirangkai dengan pemutaran sejumlah film pendek karya siswa, termasuk film berjudul Ise Nawan. Film bernuansa lokal tersebut menyajikan kisah sederhana namun menyentuh, dengan dialog yang dekat dengan keseharian masyarakat.
Ketua Umum Komite Ekraf Banjarbaru, H. Riandy Hidayat, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari strategi membangun ekonomi kreatif berbasis komunitas. Stand Ekraf dihadirkan sebagai ruang temu antara kreator dan masyarakat. “Kami ingin tempat ini menjadi rumah bersama bagi ide dan karya. Dari sinilah ekosistem itu tumbuh,” ujarnya.
Diskusi berlangsung interaktif. Sejumlah penonton mengajukan pertanyaan tentang proses produksi film, teknik sinematografi, penyuntingan, hingga peluang distribusi ke festival. Percakapan berkembang pada pentingnya kolaborasi dan konsistensi agar film pelajar tidak hanya menjadi proyek sesaat, melainkan gerakan berkelanjutan.
230
Tidak ada komentar