Creative Talk #11: Menghidupkan Sejarah Cempaka Menuju Living Museum

waktu baca 3 menit
Kamis, 5 Mar 2026 05:55 177 Banjarbaru Emas 2

BANJARBARUEMAS.COM – Stand Komite Ekonomi Kreatif (Ekraf) Banjarbaru kembali menghadirkan ruang diskusi publik melalui Creative Talk #11 bertema “Menuju Cempaka Living Museum” yang digelar di Lapangan Murjani, Kamis malam (5/3/2026) pukul 21.00 WITA. Talk show ini menghadirkan Lurah Palam Zulhulaifah, SE., MM, serta Ruslan, petutur budaya dari wilayah Kelurahan Sungai Tiung, Kecamatan Cempaka.

Dalam forum tersebut, Zulhulaifah dijadwalkan membahas salah satu situs penting yang berada di wilayahnya, yakni Kubur Asam Janar, sebuah kompleks makam tua di Kelurahan Palam yang oleh masyarakat setempat diyakini telah berusia ratusan tahun. Sementara itu, Ruslan akan membagikan penuturan budaya dan cerita lisan masyarakat dari wilayah Kelurahan Sungai Tiung yang selama ini diwariskan secara turun-temurun.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Komite Ekraf Banjarbaru untuk membuka ruang percakapan publik mengenai sejarah, budaya, dan identitas kawasan Cempaka sebagai fondasi pengembangan Living Museum.

Gagasan tersebut sebelumnya juga mengemuka dalam audiensi Komite Ekraf Banjarbaru yang didampingi Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby dengan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon di Jakarta pada Februari lalu. Pertemuan tersebut membawa satu pesan utama: Kecamatan Cempaka diproyeksikan sebagai living museum, sebuah ruang hidup kebudayaan di mana sejarah tidak membeku sebagai artefak, tetapi tumbuh dan berinteraksi dengan masyarakatnya.

Pandangan serupa disampaikan Prof. Dr. Husaini, SKM, M.Kes, salah satu pengarah Komite Ekraf Banjarbaru. Menurutnya, Kecamatan Cempaka bukan hanya menyimpan potensi ekonomi kreatif, tetapi juga merekam jejak panjang sejarah bumi dan peradaban manusia.

Prof Husaini menekankan pentingnya membaca Cempaka secara utuh, bukan sekadar sebagai kawasan ekonomi kreatif, melainkan sebagai ruang hidup yang menyimpan narasi geologi, budaya, dan pengetahuan lokal yang saling terhubung. Dari sanalah gagasan menjadikan Cempaka sebagai Living Museum mulai dirumuskan.

Pendekatan serupa juga mengemuka dari hasil penggalian potensi ekonomi kreatif yang dilakukan Bidang Riset, Edukasi, dan Pengembangan Sumber Daya Kreatif Komite Ekraf Banjarbaru di wilayah Cempaka. Dari penuturan warga sekitar Kubur Asam Janar di Kelurahan Palam, ditemukan informasi mengenai keberadaan makam tua yang diperkirakan telah berusia ratusan tahun. Warga juga menyampaikan cerita turun-temurun mengenai keberadaan sungai purba yang berada tidak jauh dari kawasan makam tersebut.

Melalui forum seperti Creative Talk, Komite Ekraf Banjarbaru berupaya mempertemukan pengetahuan akademik, pengalaman masyarakat, serta cerita budaya yang hidup di tengah warga. Dialog semacam ini diharapkan menjadi ruang bersama untuk menggali, memahami, sekaligus merawat kekayaan sejarah dan budaya yang dimiliki Banjarbaru.

Sebagai ruang berbagi gagasan dan pengetahuan, Creative Talk #11 terbuka bagi masyarakat umum. Komite Ekonomi Kreatif Banjarbaru mengajak warga Banjarbaru, khususnya generasi muda, pelaku ekonomi kreatif, pegiat budaya, dan pemerhati sejarah untuk hadir dan ikut berdiskusi.

Melalui pertemuan ini, masyarakat diharapkan semakin mengenal kekayaan sejarah dan budaya Cempaka, sekaligus berperan aktif dalam merawatnya sebagai bagian dari identitas kota.

Dengan cara pandang itulah Banjarbaru menegaskan bahwa ekonomi kreatif tumbuh dari sejarah bumi, ingatan kolektif, dan kehidupan masyarakat yang terus bergerak. Di Cempaka, masa lalu tidak disimpan dalam vitrin museum, melainkan dihidupkan kembali sebagai energi masa depan Banjarbaru.(be)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA