Iklan — 728×90
Zona Iklan
Iklan — 728×90

Asal Usul Kampung Mbaroh, Jl. Sumber Murni, Landasan Ulin Utara

Jurnalis
9 Desember 2025
02:22 WIB
2 mnt baca
15 tayangan
Bagikan: Facebook X

Di antara hamparan hijau Landasan Ulin Utara, terhampar sebuah kampung yang lahir dari keberanian, kerja keras, dan tekad untuk membangun kehidupan. Di sinilah Kampung Mbaroh berdiri, sebuah kawasan yang menyimpan cerita panjang mengenai perjuangan membuka peradaban di tengah rimba pada tahun 1970-an.

Kala itu, Sri Suto Widjoyo, seorang lelaki kelahiran Ponorogo yang bermukim di Banjarmasin memutuskan untuk bepergian menuju wilayah yang oleh masyarakat zaman dulu disebut “gunung”, sebutan lama untuk Banjarbaru. Perjalanan Sri Suto Widjoyo adalah sebuah usaha mencari masa depan. Ia yakin, tanah yang subur adalah tempat terbaik untuk memulai kehidupan.

Dengan keberanian dan ketulusan, Mbah Sri Suto Widjoyo menembus hutan, membuka ladang, membangun pondok pertama, dan menetap. Tak lama kemudian, beberapa kerabat menyusul, bergabung menggarap tanah harapan ini. Di antara mereka, ada seorang sosok ramah bernama, Mbah Roh, yang rumahnya berada di lokasi paling ujung kampung saat itu.

Setiap kali ada pendatang atau keluarga yang mencari arah, pertanyaan yang berulang terdengar:

“Di mana Mbah Roh?”
“Rumah Mbah Roh di mana?”

Penyebutan nama itu terus berulang hingga akhirnya melekat dalam ingatan semua orang.
Mbah Roh berubah menjadi penyebutan yang semakin menyatu, semakin singkat, Mbaroh.

Sejak saat itu, kampung ini dikenal dengan nama Kampung Mbaroh, sebuah tempat yang telah ditemukan seperti harapan Sri Suto Widjoyo.

Kini, Kampung Mbaroh tumbuh bukan hanya sebagai kawasan hunian, tetapi sebagai komunitas masyarakat yang menjunjung gotong royong, kesederhanaan, dan nilai keluarga. Tanah yang dulunya dipenuhi semak kini dipenuhi tawa anak-anak, persaudaraan antar warga, dan cita-cita untuk terus berkembang.

Kampung Mbaroh bukan hanya tempat tinggal, ia adalah cerita hidup, identitas, dan kebanggaan. Kisah asal usul ini kami dengar langsung dari Joko Admadi, ketua RT 02, Kelurahan Landasan Ulin Utara, Kecamatan Liang Anggang, Kota Banjarbaru.

Menurut Admadi, cerita tersebut memang selalu diceritakan secara turun-menurun, khususnya bagi warga Mbaroh sebagai bentuk penghormatan kepada sesepuh. “Kami berusaha menjaga sejarah kampung ini sebagai bentuk penghormatan kepada sesepuh dengan tujuan agar rasa kekeluargaan di antara kami tetap terjaga.” (be)

Artikel ini bermanfaat? Bagikan: Facebook X

Banjarbaru Emas

Jurnalis — Meridian News
Iklan — 728×90
Zona Iklan
Iklan — 728×90

💬 Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.