BANJARBARUEMAS.COM – Kelompok Wanita Tani (KWT) Citra Lestari di Kelurahan Sungai Besar, Banjarbaru, menarik perhatian akademisi internasional. Profesor Kenta Khisi dari Center for Southeast Asian Studies (CSEAS) Kyoto University, Jepang, secara khusus menyambangi kelompok ini untuk melakukan penelitian mengenai Feminist Economic Solidarity atau solidaritas ekonomi perempuan dalam penguatan kewirausahaan urban.
Kunjungan ini menyoroti bagaimana wanita tani di perkotaan membangun kemandirian ekonomi melalui pemanfaatan lahan sempit.
“Data yang diberikan lengkap sekali dan momentumnya tepat di saat masa peralihan,” ungkap Profesor Kenta Khisi yang diterjemahkan oleh penerjemah pendamping, di sela-sela kunjungannya.
Kemandirian di Lahan Sempit
KWT Citra Lestari yang terbentuk sejak November 2018 ini dinilai memiliki dinamika yang menarik sebagai objek studi. Bermula dari inisiatif swadaya Ketua KWT, Norfahmi, yang mengajak tetangga sebelah rumah untuk memanfaatkan lahan tidur, kelompok ini kini berkembang menjadi 20 anggota aktif.
“Awalnya hanya swadaya, motivasinya untuk kebersamaan dan hobi mengisi waktu luang. Lama-kelamaan jadi ramai, sering berkumpul dan masak-masak, bahannya tinggal ambil di kebun,” ujar Norfahmi.
Meski beroperasi di lahan berstatus pinjam pakai, produktivitas kelompok ini cukup tinggi. Mereka menanam berbagai jenis sayuran, tanaman obat (toga), hingga buah-buahan. Salah satu komoditas unggulan yang paling menguntungkan adalah Edamame.
“Begitu tanam sudah ada yang order, salah satunya dari PLN. Sebagian hasil penjualan masuk kas untuk beli bahan lagi. Bahkan, jika KWT lain memiliki kelebihan produk, mereka titip jual di sini,” tambah Norfahmi menjelaskan sistem ekonomi solidaritas yang terbangun.
Tantangan Lahan dan Regenerasi
Di balik kesuksesannya meraih bantuan Program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) pada 2020 dan pengembangan dana CSR, KWT Citra Lestari masih menghadapi tantangan serius. Status lahan yang bukan milik sendiri membuat pengembangan fasilitas terbatas.
“Kami ingin jadi eduwisata, namun tidak punya lahan tetap,” keluh Ana, salah satu anggota KWT. Hal senada diungkapkan Norfahmi yang menyebut mereka siap pindah sewaktu-waktu jika lahan diambil pemilik.
Selain itu, regenerasi petani juga menjadi isu krusial. Mayoritas anggota adalah pendatang yang menetap sejak tahun 1996 karena anak mereka berkuliah di Universitas Lambung Mangkurat (ULM). “Penerus belum dapat, harapannya nanti ada dari petani milenial yang sedang digalakkan,” tutur Norfahmi.
Potensi KWT di Banjarbaru
Menanggapi fenomena ini, Plh. Kabid Penyuluhan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Banjarbaru, Risnawati, menyebutkan bahwa KWT memiliki peran strategis.
“Di Banjarbaru ada 86 KWT yang rutin melakukan pertemuan tiap bulan. Yang terbanyak ada di Kecamatan Banjarbaru Utara, dengan tingkat keaktifan mencapai 60 persen,” jelas Risnawati.
KWT Citra Lestari sendiri berharap ke depannya dapat memiliki lahan mandiri, baik melalui fasilitasi pemerintah kota maupun pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau (RTH), agar konsep pertanian modern dan eduwisata yang dicita-citakan dapat terwujud secara berkelanjutan.(be)