Iklan — 728×90
Zona Iklan
Iklan — 728×90

Banjarbaru dan “Tiga Gula” di Meja Resto: Kuliah Singkat tentang Identitas dan Welas Asih Kota Kreatif

9 November 2025
06:39 WIB
5 mnt baca
7 tayangan
Bagikan: Facebook X

BANJARBARUEMAS.COM– Malam di Malang turun perlahan. Sepulang dari kunjungan ke Asrama Idaman Banjarbaru mendampingi Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby, Prof. Husaini menawari kami singgah menikmati secangkir kopi khas Malang di resto hotel tempat rombongan menginap.


Awalnya hanya niat melepas lelah setelah hari panjang mengikuti rangkaian Indonesia Creative Cities Festival (ICCF) 2025, namun suasana di meja panjang itu justru berubah hangat dan penuh makna.
Bukan sekadar obrolan santai selepas acara, melainkan perbincangan padat gagasan antara Prof. Husaini, anggota Tim Percepatan Pembangunan Daerah, dengan kawan-kawan Banjarbaru Emas Creative Centre (BECC). Dalam waktu singkat, suasana menjelma menjadi kelas terbuka tentang arah dan identitas kota kreatif Banjarbaru.
“Rasanya seperti kuliah tiga SKS langsung dari sang profesor,” ujar Narwanto, koordinator BECC, tersenyum. “Setiap kalimatnya daging semua.”


Pertemuan itu berlangsung di sela-sela Indonesia Creative Cities Festival (ICCF) 2025, ajang tahunan yang mempertemukan para penggerak kota kreatif se-Indonesia. Di balik gemerlap panggung utama Malang Creative Center, diskusi kecil inilah yang justru menyalakan api baru: bagaimana Banjarbaru menemukan identitas kreatifnya sendiri.
Sejak Deklarasi 10 Prinsip Kota Kreatif tahun 2015, Indonesia Creative Cities Network (ICCN) menjadi ruang kolaborasi lintas daerah. Di sanalah konsep Hexahelix—kolaborasi antara pemerintah, akademisi, bisnis, komunitas, media, serta unsur hukum—menjadi fondasi pembangunan kreatif yang inklusif dan berkelanjutan.
Kehadiran Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby pada ICCF 2025 menjadi momen yang telah lama dinanti. “Sudah hampir lima tahun ICCN menunggu Banjarbaru hadir,” kata Narwanto. “Dan tahun ini, di bawah kepemimpinan Ibu Lisa, Banjarbaru datang dengan energi baru.”
Wali kota yang dikenal berkarakter lembut namun tegas itu memperkenalkan konsep Aero City—sebuah visi kota yang berpijak pada kreativitas, keberlanjutan, dan kemanusiaan. Konsep ini bukan hanya tentang tata ruang dan infrastruktur, tetapi tentang jiwa kota: bagaimana Banjarbaru menjadi tempat hidup yang menumbuhkan kebahagiaan warganya.


Dalam diskusi itu, Prof. Husaini melemparkan pertanyaan yang menggugah:
“Kalau ditanya, apa yang khas dari Banjarbaru, seperti kuliner dan budaya khas apa jawab kita?”
Hening sejenak. Lalu ia menunjuk tiga wadah gula di atas meja: gula jawa, gula pasir, dan gula rendah kalori.
“Banjarbaru itu seperti tiga gula ini,” ujarnya. “Ada Banjar, Jawa, Dayak, Bugis, Batak, Melayu—semuanya hidup berdampingan. Kalau mau menjadi khas Banjarbaru, campurkan semua jadi satu rasa baru. Itulah Banjarbaru.”

Metafora itu menjadi renungan mendalam bagi tim BECC. Kota ini memang lahir dari perpaduan—bukan sekadar demografi, tapi juga semangat keterbukaan. Banjarbaru tidak menolak perbedaan, justru merayakannya.
Menurut Prof. Husaini, Banjarbaru perlu menemukan titik tolak sejarah untuk membangun identitas kulturalnya.
“Mulailah dari Cempaka,” katanya, merujuk pada wilayah legendaris tempat ditemukannya Intan Trisakti pada 26 Agustus 1965—batu mulia 166,75 karat yang dinamai Presiden Soekarno.

“Intan Trisakti bukan hanya batu permata. Ia simbol tentang ketekunan, harapan, dan kebanggaan lokal,” ujarnya.

Gagasan ini kemudian berkembang menjadi ide living museum yang diusulkan BECC—sebuah “museum hidup” yang melibatkan masyarakat Cempaka sebagai pelaku utama dalam merawat sejarah dan budaya mereka.

“Cempaka bisa menjadi ikon kota kreatif yang bernilai kemanusiaan dan edukatif,” kata Narwanto. “Kita ingin orang datang bukan sekadar melihat, tapi mengalami kehidupan dan semangat warga Banjarbaru.”

Dalam berbagai kesempatan, Wali Kota Hj. Erna Lisa Halaby menunjukkan bahwa kreativitas tidak bisa tumbuh tanpa welas asih. Kepemimpinannya sering menonjol dalam merespons cepat berbagai peristiwa sosial dan kemanusiaan di Banjarbaru—mulai dari penanganan korban kebakaran, bantuan bagi warga terdampak musibah, hingga pemberdayaan kelompok rentan dan lansia.
Lisa meyakini, kota yang maju juga diukur dari tingkat empati warganya. “Kota yang kuat adalah kota yang saling peduli,” ujarnya dalam satu kesempatan.

Pandangan ini sejalan dengan gagasan “Kota Welas Asih” (Compassionate City)—sebuah gerakan global yang dipelopori Compassion Action International. Kota yang bergabung dalam jejaring ini berkomitmen menumbuhkan empati, kasih sayang, dan solidaritas sosial sebagai fondasi pembangunan.

Jika Banyuwangi menjadi kota pertama di Indonesia yang menandatangani Piagam Welas Asih, maka Banjarbaru perlahan menapak ke arah yang sama—dengan semangat keterbukaan dan kepedulian yang telah menjadi budaya warganya sejak lama.

Banjarbaru adalah kota yang ramah terhadap siapa pun yang datang. Tidak ada garis batas yang tegas antara pendatang dan warga lama. Semua diterima sebagai bagian dari keluarga besar Banjarbaru. Itulah sebabnya, sebut Prof. Husaini, “Banjarbaru bukan hanya kota kreatif, tapi juga kota welas asih.”
Di panggung besar ICCF 2025, Wali Kota Lisa menegaskan bahwa Aero City adalah panggilan untuk menata kehidupan kota yang berpihak pada manusia.
“Banjarbaru ingin terbang tinggi, tapi dengan hati yang tetap membumi,” katanya.

Dari meja resto di Malang hingga mimbar konferensi kreatif nasional, semangat itu terasa sama: kolaboratif, humanis, dan penuh kasih. Banjarbaru sedang membangun  ruang batin—ruang tempat empati dan kreativitas tumbuh berdampingan.

Seperti tiga gula di meja resto itu—berbeda jenis namun ketika disatukan manisnya menjadi khas—itulah Banjarbaru: kota yang sedang menyiapkan diri menjadi ruang hidup yang ramah, inklusif, dan berwelas asih.
Di bawah kepemimpinan Wali Kota Hj. Erna Lisa Halaby, Banjarbaru tumbuh sebagai kota yang menumbuhkan empati dan kebersamaan warganya.
Kota ini kini berdiri tegak di simpang jalan masa depan, siap menjadi bagian penting dalam jejaring kota-kota kreatif Indonesia, dan memberi warna tersendiri dengan manisnya yang khas: manisnya kolaborasi, kreativitas, dan kasih.(be)

Artikel ini bermanfaat? Bagikan: Facebook X

Banjarbaru Emas 2

Jurnalis — Meridian News
Iklan — 728×90
Zona Iklan
Iklan — 728×90

💬 Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.