Manggala Agni Bentuk MPA Batara di Liang Anggang, Perkuat Peran Masyarakat Cegah Karhutla di Banjarbaru

waktu baca 5 menit
Sabtu, 25 Jul 2026 06:10 107 Banjarbaru Emas 2

BANJARBARUEMAS.COM – Pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak cukup hanya mengandalkan petugas di lapangan. Kesadaran dan keterlibatan masyarakat menjadi faktor penentu dalam mencegah api berkembang menjadi bencana. Berangkat dari semangat tersebut, Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Kalimantan melalui Daops Manggala Agni Kalimantan V/Banjar, Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan, Kementerian Kehutanan, membentuk Masyarakat Peduli Api (MPA) Batara yang beranggotakan warga Kelurahan Landasan Ulin Barat dan Kelurahan Landasan Ulin Utara, Kecamatan Liang Anggang, Kota Banjarbaru.

Pembentukan MPA berlangsung selama dua hari, Jumat hingga Sabtu, 24–25 Juli 2026, dengan kegiatan terpusat di Aula Kantor Kecamatan Liang Anggang dan praktik lapangan di kawasan Kota Citra Graha (KCG), Kelurahan Landasan Ulin Barat.

Program ini menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam membangun sistem pencegahan karhutla berbasis masyarakat. Melalui pelatihan yang memadukan teori dan praktik lapangan, warga dipersiapkan menjadi mitra Manggala Agni yang mampu melakukan deteksi dini, pencegahan, hingga penanganan awal apabila terjadi kebakaran sebelum meluas.

Dibekali Kompetensi Layaknya Regu Pemadam

Hari pertama pelatihan diawali dengan pembukaan dan penyampaian materi oleh instruktur Manggala Agni. Materi yang diberikan tidak hanya mengenalkan dasar-dasar kebakaran hutan dan lahan, tetapi juga membangun pemahaman menyeluruh mengenai keselamatan personel hingga strategi penanganan di lapangan.

Peserta mendapatkan pembelajaran mengenai Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) sebagai prinsip utama dalam setiap operasi pemadaman. Mereka dikenalkan pada pentingnya penggunaan alat pelindung diri (APD), prosedur penyelamatan ketika kondisi lapangan berubah secara cepat, hingga teknik evakuasi apabila terjadi keadaan darurat.

Selain itu, peserta mempelajari karakteristik api, pengaruh arah angin terhadap penyebaran kebakaran, jenis-jenis bahan bakar alami, hingga teknik membaca kondisi vegetasi yang berpotensi memicu kebakaran.

Instruktur Manggala Agni juga menjelaskan berbagai metode pemadaman, baik direct attack atau pemadaman langsung pada titik api maupun indirect attack melalui pembuatan sekat bakar untuk memutus jalur rambatan api.

Karena sebagian wilayah Kalimantan memiliki lahan gambut, peserta juga diberikan materi mengenai karakteristik kebakaran gambut yang dikenal sulit dipadamkan karena api merambat di bawah permukaan tanah. Mereka dikenalkan teknik pembasahan gambut, penggunaan pipa injeksi air, hingga pentingnya menjaga tinggi muka air gambut sebagai langkah pencegahan.

Tidak kalah penting, peserta juga memperoleh materi mengenai patroli kawasan rawan karhutla, identifikasi titik panas (hotspot), teknik penyuluhan kepada masyarakat, serta pertolongan pertama apabila terjadi kecelakaan di lapangan.

Simulasi Lapangan Mendekati Kondisi Nyata

Pada hari kedua, seluruh peserta mengikuti praktik lapangan di kawasan Kota Citra Graha.

Instruktur Manggala Agni memperkenalkan berbagai peralatan pemadaman, mulai dari peralatan manual seperti gepyok, sekop, cangkul, pompa punggung, hingga peralatan mekanis berupa mesin pompa air, instalasi selang, dan perlengkapan pendukung lainnya.

Peserta kemudian dibagi ke dalam beberapa regu untuk mempraktikkan teknik pemadaman sesuai standar operasional.

Dalam simulasi tersebut, peserta berlatih menggelar selang pemadam, mengoperasikan pompa air, menyusun formasi regu, mengendalikan arah semprotan air, hingga melakukan koordinasi lapangan sebagaimana yang dilakukan personel Manggala Agni saat menghadapi kebakaran sebenarnya.

Tidak hanya itu, peserta juga melakukan simulasi pemadaman menggunakan kombinasi peralatan manual dan mekanis agar mampu menyesuaikan kondisi apabila sumber air terbatas ataupun akses menuju lokasi kebakaran sulit dijangkau kendaraan.

Usai praktik pemadaman, kegiatan dilanjutkan dengan praktik pencegahan berupa penyusunan desain media imbauan pencegahan karhutla yang nantinya dapat dimanfaatkan sebagai sarana edukasi masyarakat di lingkungan masing-masing.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan evaluasi, penyelesaian administrasi, sekaligus pengukuhan peserta sebagai bagian dari Masyarakat Peduli Api Batara.

Menjadi Mitra Manggala Agni di Tingkat Kelurahan

Keberadaan MPA diharapkan menjadi perpanjangan tangan pemerintah dalam memperkuat sistem kewaspadaan terhadap ancaman karhutla.

Selain melakukan patroli mandiri, anggota MPA juga diharapkan mampu mengedukasi masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar, melaporkan potensi kebakaran sejak dini, serta melakukan penanganan awal sebelum api membesar.

Pendekatan tersebut dinilai lebih efektif karena masyarakat merupakan pihak yang paling mengenal kondisi wilayahnya dan menjadi orang pertama yang mengetahui apabila muncul titik api.

Camat Liang Anggang: Investasi Pengetahuan untuk Keselamatan Lingkungan

Camat Liang Anggang Lia Astuti menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Kehutanan melalui Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Kalimantan dan Manggala Agni Kalimantan V/Banjar atas pelaksanaan kegiatan tersebut.

“Kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Kalimantan dan Manggala Agni Kalimantan V/Banjar yang telah memfasilitasi pembentukan Masyarakat Peduli Api di Kecamatan Liang Anggang. Ini bukan sekadar pelatihan, tetapi investasi pengetahuan dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menjaga lingkungan dari ancaman kebakaran hutan dan lahan,” ujar Lia Astuti.

Menurutnya, ancaman karhutla tidak hanya berdampak pada kerusakan lingkungan, tetapi juga berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi, hingga kualitas hidup warga.

“Melalui pembentukan MPA Batara, kami berharap lahir relawan-relawan yang memiliki kemampuan teknis, memahami prosedur penanganan kebakaran, sekaligus mampu menjadi edukator di tengah masyarakat. Pencegahan adalah langkah paling efektif, dan keberhasilan pencegahan hanya dapat dicapai apabila pemerintah, Manggala Agni, TNI, Polri, dunia usaha, dan masyarakat bergerak bersama,” katanya.

Ia menambahkan, Pemerintah Kecamatan Liang Anggang siap mendukung keberlanjutan program tersebut melalui kolaborasi lintas sektor agar budaya peduli terhadap lingkungan terus tumbuh di tengah masyarakat.

Peserta Berharap Pelatihan Berkelanjutan

Perwakilan MPA Batara mengaku bersyukur mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan tersebut.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh panitia dan Manggala Agni yang telah memberikan pembelajaran, baik teori maupun praktik. Pelatihan ini membuka wawasan kami tentang bagaimana mencegah dan menangani kebakaran lahan dengan benar. Semoga ilmu ini menjadi manfaat bagi masyarakat Landasan Ulin Barat, Landasan Ulin Utara, dan Banjarbaru secara umum sehingga kota ini tetap sehat, bersih, dan nyaman. Kami berharap ke depan pelatihan seperti ini dapat terus dilaksanakan agar kemampuan masyarakat semakin meningkat,” ungkapnya.

Pembentukan Masyarakat Peduli Api Batara menjadi bukti bahwa penanggulangan karhutla bukan semata tugas pemerintah. Ketika masyarakat memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kepedulian yang sama, upaya menjaga Banjarbaru dari ancaman kebakaran hutan dan lahan akan menjadi lebih cepat, lebih kuat, dan lebih berkelanjutan.(be)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA