Mimpi yang Pulang

waktu baca 4 menit
Sabtu, 18 Jul 2026 02:56 220 Banjarbaru Emas 2

Lurah Guntung Payung Lina Mardiati menemukan kembali cita-cita masa kecilnya melalui pengabdian sebagai Bunda PAUD.

BANJARBARUEMAS.COM – Tawa itu terdengar bahkan sebelum pintu kelas dibuka.

Anak-anak duduk melingkar di atas lantai. Sebagian memeluk tas kecil mereka, sebagian lagi saling berbisik menebak cerita apa yang akan dibawakan pagi itu.

Tak lama kemudian, suara pendongeng memenuhi ruangan.

Tokoh demi tokoh hidup dari setiap kalimat. Anak-anak tertawa ketika mendengar suara hewan yang lucu, lalu mendadak terdiam saat cerita berubah menegangkan. Sesaat kemudian, tepuk tangan kembali pecah ketika kisah berakhir bahagia.

Begitulah suasana Program Dongeng Keliling (Dongkel) yang diselenggarakan Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Darpusda) Kota Banjarbaru di TK Budi Mulia, Kamis (16/7/2026).

Di sudut ruangan, ada seorang perempuan yang sejak awal lebih banyak mengamati.

Sesekali ia ikut berjongkok menyapa anak-anak. Sesekali tersenyum melihat tingkah polos mereka. Tatapannya tak pernah benar-benar lepas dari wajah-wajah kecil yang pagi itu larut dalam dunia dongeng.

Perempuan itu adalah Lurah Guntung Payung sekaligus Bunda PAUD Kelurahan Guntung Payung, Lina Mardiati.

Bagi anak-anak, ia hanyalah “Bunda Lina”.

Namun di balik senyumnya pagi itu, tersimpan sebuah kisah yang tak pernah banyak diceritakan.

Sejak remaja, Lina memiliki satu cita-cita sederhana.

Ia ingin menjadi guru taman kanak-kanak.

Rumahnya hampir tak pernah sepi dari adik-adik dan sepupu yang dititipkan kepadanya. Ia senang menemani mereka bermain, menggambar, bernyanyi, bahkan mendengarkan cerita-cerita polos yang bagi orang dewasa mungkin terdengar sepele.

Dari situlah mimpinya tumbuh.

“Saya memang sangat senang dengan anak-anak kecil. Dulu waktu sekolah sering dititipi adik-adik sepupu. Dari situ saya bercita-cita ingin menjadi guru TK atau PAUD,” kenangnya.

Namun hidup sering kali memiliki rencana yang berbeda.

Tanpa melalui jalur tes, Lina diterima di Universitas Brawijaya, Malang, Jurusan Akuntansi. Kesempatan itu terlalu berharga untuk dilewatkan.

Ia memilih berangkat.

Meninggalkan kampung halaman.

Sekaligus perlahan merelakan mimpi yang selama ini ia pelihara.

“Alhamdulillah saya diterima tanpa tes di Universitas Brawijaya jurusan Akuntansi. Menjadi anak daerah yang kuliah di luar kota tentu bukan hal mudah. Akhirnya keinginan menjadi guru PAUD harus saya relakan,” tuturnya.

Tetapi ada mimpi yang ternyata tidak pernah benar-benar bisa ditinggalkan.

Ia hanya tertidur, menunggu waktu untuk kembali.

“Sampai sekarang kalau bertemu anak kecil rasanya senang sekali. Ingin ngobrol, melihat tingkah lucunya. Itu seperti healing buat saya. Kebetulan di samping kantor kelurahan ada TK. Kadang melihat mereka datang atau pulang sekolah saja sudah membuat hati lebih ringan.”

Kalimat itu terdengar sederhana.

Namun dari sanalah semuanya menjadi terasa berbeda.

Bagi sebagian orang, taman kanak-kanak di samping kantor hanyalah bangunan tempat anak-anak belajar.

Bagi Lina, tempat itu adalah pengingat akan mimpi yang pernah ia simpan begitu dalam.

Pada 16 Desember 2025, Lina dipercaya mengemban amanah sebagai Lurah Guntung Payung.

Tak lama kemudian, ia juga dipercaya menjadi Bunda PAUD Kelurahan Guntung Payung.

Di sanalah ia menyadari bahwa Tuhan tidak benar-benar mengambil mimpinya.

Tuhan hanya mengubah jalannya.

Ia mungkin tidak berdiri setiap hari di depan kelas mengajarkan huruf dan angka.

Namun kini ia dapat memastikan lebih banyak anak memperoleh kesempatan belajar sejak usia dini.

Ia dapat menggerakkan orang tua agar lebih peduli terhadap pendidikan anak.

Ia dapat memperkuat kolaborasi antara sekolah, Posyandu, PKK, tenaga kesehatan, kader, hingga pemerintah kelurahan agar setiap anak tumbuh sehat, cerdas, dan bahagia.

Mimpinya ternyata tidak hilang.

Mimpinya hanya menjadi lebih besar.

Program Dongeng Keliling yang digelar Darpusda Kota Banjarbaru pagi itu menjadi salah satu ikhtiar sederhana menumbuhkan kecintaan membaca sejak usia dini.

Di tengah derasnya arus gawai, anak-anak kembali diajak mengenal imajinasi, keberanian, empati, dan kegembiraan yang lahir dari sebuah buku.

Sementara bagi Lina, setiap tawa yang memenuhi ruangan seperti menghidupkan kembali sesuatu yang telah lama ia simpan.

Pagi itu, ia tidak hanya melihat anak-anak sedang mendengarkan dongeng.

Ia melihat masa depan sedang bertumbuh.

Ia melihat harapan sedang dipupuk.

Dan diam-diam, ia melihat dirinya sendiri, seorang gadis kecil yang dulu pernah bermimpi menjadi guru taman kanak-kanak.

Mungkin cita-cita itu memang tidak pernah terwujud dalam bentuk yang dulu ia bayangkan.

Namun hidup ternyata selalu menemukan cara untuk mempertemukan seseorang dengan mimpinya.

Kini ia memang dikenal sebagai seorang lurah.

Tetapi di hati anak-anak Guntung Payung, ia tetaplah Bunda Lina.

Seseorang yang percaya bahwa setiap anak berhak tumbuh dengan bahagia, mengenal buku, dipenuhi kasih sayang, dan memiliki ruang untuk bermimpi.

Sebab pada akhirnya, tidak semua mimpi diwujudkan dengan profesi yang sama.

Ada mimpi yang justru tumbuh lebih besar ketika diwujudkan melalui pengabdian.

Dan setiap kali Lina melangkah melewati taman kanak-kanak yang berdiri tepat di samping kantor kelurahannya, ia tidak lagi mengenang cita-cita yang pernah hilang.

Ia hanya tersenyum.

Karena kini ia tahu, mimpi itu tidak pernah benar-benar pergi.

Ia hanya pulang dengan cara yang berbeda.(be)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA