Bank Sampah Induk Banjarbaru Bergerak, Dari Tumpukan Sampah Menjadi Gerakan Ekonomi dan Lingkungan

waktu baca 4 menit
Selasa, 26 Mei 2026 10:10 135 Banjarbaru Emas 2

BANJARBARUEMAS.COM – Persoalan sampah yang terus meningkat di perkotaan perlahan mulai dijawab, melalui penguatan sistem Bank Sampah Induk (BSI). Tidak lagi sekadar menjadi tempat pengumpulan barang bekas, Bank Sampah Induk kini diarahkan sebagai pusat penggerak ekonomi sirkular, pembinaan masyarakat, sekaligus ujung tombak pengurangan sampah menuju Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

Di balik aktivitas memilah plastik, kertas, logam, hingga minyak jelantah, terdapat gerakan besar yang tengah dibangun: mengubah sampah menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi sekaligus menjaga lingkungan tetap berkelanjutan.

Bank Sampah Induk berfungsi sebagai pusat penampungan sampah terpilah yang berasal dari Bank Sampah Unit (BSU) di tingkat RT, RW, dan kelurahan. Sampah yang sudah dipilah masyarakat kemudian dikumpulkan, dikelola kembali, lalu disalurkan langsung ke industri daur ulang.

Sistem ini membuat rantai pengelolaan sampah menjadi lebih terintegrasi, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap Tempat Pemrosesan Akhir yang selama ini terus menerima lonjakan volume sampah setiap hari.

Selain menekan timbulan sampah, keberadaan Bank Sampah Induk juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Sampah rumah tangga yang sebelumnya dianggap tidak berguna kini dapat ditukar menjadi uang tunai, sembako, maupun tabungan.

Kota Banjarbaru sendiri kini memiliki lima Bank Sampah Induk yang tersebar di lima kecamatan, yakni Banjarbaru Utara, Banjarbaru Selatan, Landasan Ulin, Liang Anggang, dan Cempaka. Kelima fasilitas tersebut menjadi pusat koordinasi dan pembinaan bagi puluhan Bank Sampah Unit yang berkembang di lingkungan warga.

Pada 2025 lalu, Wali Kota Banjarbaru Erna Lisa Halaby menegaskan bahwa persoalan sampah merupakan isu serius yang menjadi perhatian pemerintah daerah.

“Bank sampah induk ini akan berfungsi sebagai pusat koordinasi, pembinaan, dan pengelolaan. Keberadaannya di tiap kecamatan diharapkan mampu mengarahkan bank sampah unit di tingkat kelurahan dan lingkungan agar lebih terintegrasi,” ujarnya.

Dengan lebih dari 80 bank sampah unit yang telah berjalan, pemerintah berharap penguatan lima Bank Sampah Induk mampu mempercepat sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat secara lebih efektif dan berkelanjutan.

Salah satu yang kini paling aktif bergerak adalah Bank Sampah Induk Kecamatan Banjarbaru Utara (BSI BBU). Di bawah kepemimpinan Bambang Sujanarko, BSI BBU tidak hanya membeli hasil tabungan sampah dari bank sampah di wilayah Banjarbaru Utara, tetapi juga menjangkau wilayah lain hingga Bank Sampah Syamsudin Noor di Kecamatan Landasan Ulin.

Aktivitas itu menjadikan BSI BBU sebagai salah satu Bank Sampah Induk kecamatan yang aktif membina dan membantu bank sampah hingga lintas wilayah.

Dalam operasionalnya, alur pengelolaan sampah dimulai ketika Bank Sampah Unit menghubungi BSI untuk penjemputan. Sampah yang sebelumnya telah dipilah warga kemudian diangkut menuju Bank Sampah Induk untuk dilakukan pemilahan lanjutan apabila masih terdapat sampah tercampur sebelum akhirnya dijual ke pengepul atau industri daur ulang.

Saat ini, BSI BBU bahkan mulai menargetkan pengiriman langsung satu kontainer sampah daur ulang ke Surabaya guna memangkas rantai distribusi dan mempercepat nilai ekonomi yang diterima masyarakat.

Tidak berhenti di situ, BSI BBU juga tengah menjajaki kerja sama dengan PT Angkasa Pura Indonesia terkait pemasaran produk kerajinan hasil daur ulang masyarakat.

Bambang mengatakan, langkah tersebut dilakukan agar bank sampah tidak hanya berorientasi pada jual beli sampah, tetapi juga mampu melahirkan produk kreatif bernilai ekonomi tinggi.

“Ke depan kami ingin pengelolaan sampah ini benar-benar menjadi gerakan ekonomi masyarakat. Jadi sampah bukan lagi barang buangan, tetapi sumber manfaat dan penghasilan,” ujarnya.

BSI BBU juga mulai membidik pengelolaan sampah organik dari hotel dan kafe. Nantinya, sampah organik yang telah dipilah akan diajak bekerja sama untuk dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak.

Langkah itu dinilai menjadi solusi penting dalam mengurangi sampah organik yang selama ini mendominasi timbulan sampah rumah tangga dan kawasan usaha.

Sementara itu, Camat Banjarbaru Utara Taufik Purwanto menilai keberadaan BSI BBU sangat membantu keberlangsungan bank sampah unit di tingkat RT yang selama ini kerap kesulitan menjual seluruh jenis sampah hasil pilahan mereka.

Menurut dia, tidak semua bank sampah induk mampu membeli semua jenis sampah dari masyarakat. Ada yang hanya menerima kertas atau besi, sehingga sejumlah sampah lain akhirnya tidak tertangani.

“BSI BBU ini bergerak sampai lintas kecamatan karena mereka mau membeli berbagai jenis sampah dari bank sampah unit. Ini sangat membantu warga di tingkat RT yang selama ini terkendala pemasaran hasil pilahan sampah mereka,” katanya, Selasa (26/5/2026).

Ia menilai gerakan seperti itu penting dijaga agar semangat masyarakat dalam memilah sampah tidak berhenti di tengah jalan.

“Kalau bank sampah unit sudah semangat memilah, lalu sampahnya tidak terbeli, lama-lama masyarakat bisa kehilangan motivasi.
Karena itu kami berharap keberadaan Bank Sampah Induk benar-benar menjadi penggerak utama, bukan hanya mengurangi sampah ke TPA, tetapi juga memastikan ekonomi masyarakat ikut bergerak dan budaya peduli lingkungan terus tumbuh di Banjarbaru,” ujar Taufiq.(be)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA