Iklan — 728×90
Zona Iklan
Iklan — 728×90

Fadlan dan Kebaikan yang Akan Terus Mengalir

12 Mei 2026
10:04 WIB
5 mnt baca
151 tayangan
Bagikan: Facebook X

BANJARBARUEMAS.COM – Ada banyak berita yang setiap hari datang dan pergi. Tentang politik yang gaduh, pertengkaran di media sosial, atau hiruk-pikuk kehidupan kota yang bergerak terlalu cepat. Namun di tengah semua itu, saya mendengar sebuah cerita kecil yang diam-diam membuat hati saya lama terdiam.

Cerita itu saya dengar langsung dari Kepala SDN 3 Kemuning, Titik Prihatin.

Sebuah kisah tentang kebaikan.

Kisah yang mungkin terlihat sederhana bagi sebagian orang, tetapi bagi saya, dan mungkin juga bagi banyak warga Banjarbaru, cerita ini layak disimpan sebagai pengingat bahwa dunia belum kehilangan orang-orang yang peduli.

Sebab kisah-kisah kebaikan selalu memiliki tempat istimewa di hati manusia. Tak peduli besar atau kecil, tindakan baik memiliki kekuatan untuk menggerakkan hati, membangun harapan, bahkan mengubah arah hidup seseorang.

Dan dunia ini sesungguhnya tidak hanya dibentuk oleh kisah tokoh-tokoh besar.

Kadang, ia justru bertahan karena ada orang-orang biasa yang tanpa pamrih menebar kebaikan.

Rasulullah SAW pernah bersabda:

“Allah senantiasa menolong hamba-Nya selagi hamba itu bersedia menolong saudaranya.” (HR Muslim).

Mungkin itulah yang saya rasakan ketika mendengar cerita Titik Prihatin pagi itu.

Semua bermula ketika Wali Kota Banjarbaru, Erna Lisa Halaby, datang meresmikan Bank Sampah Si PALUI (Siswa Peduli Alam dan Lingkungan untuk Indonesia) serta program digitalisasi sekolah bersama Bank Kalsel.

Hari itu sekolah tampak hidup. Anak-anak berdiri di depan stan hasta karya mereka dengan wajah berbinar. Ada yang malu-malu, ada yang sibuk menjelaskan hasil karyanya.

Namun di tengah kunjungan itu, Lisa berhenti. Mendengar. Menyapa anak-anak satu per satu.

Di salah satu stan, ia berbincang dengan seorang anak kecil bernama Fadlan, siswa kelas 4A. Saat itulah seorang guru menyampaikan bahwa anak tersebut merupakan yatim piatu dan selama ini diasuh oleh tantenya.

Titik Prihatin mengaku suasana mendadak berubah hening.

“Ibu Wali Kota langsung bertanya, ada berapa anak yatim di sekolah ini?” tuturnya kepada saya.

Saat itu, pihak sekolah memperkirakan ada sekitar 20 anak. Lisa kemudian meminta timnya mendata seluruh siswa yatim, piatu, dan yatim piatu.

Setelah dilakukan pendataan ulang, tercatat ada 13 siswa yang masih aktif belajar tahun ini. Sebagian lainnya ternyata sudah lulus atau pindah sekolah.

Karena kunjungan berlangsung pada hari Jumat dan siswa sudah pulang, santunan akhirnya diberikan pada Selasa, 12 Mei 2026.

Namun sesungguhnya, cerita ini bukan tentang angka santunan.

Cerita ini tentang perhatian.

Tentang bagaimana seorang pemimpin perempuan memilih berhenti sejenak di tengah kesibukan pemerintahannya untuk mendengar cerita paling sunyi dari anak-anak kecil di kotanya.

Dan di antara 13 anak itu, ada kisah Fadlan yang membuat dada saya terasa sesak saat mendengarnya.

Ayahnya meninggal pada 2015 karena sakit.

Ibunya meninggal pada 2018, juga karena sakit.

Belum selesai ia memahami kehilangan, pada 2022 kakaknya meninggal akibat kecelakaan.

Hidup seperti mengambil satu per satu orang yang dicintainya.

Sejak 2018, Fadlan diasuh budenya dari pihak ibu. Ia sempat tinggal bersama keluarga ayahnya selama tujuh bulan pada 2019, sebelum akhirnya kembali lagi ke rumah budenya dari pihak ibu hingga sekarang.

Budenya bukan orang mampu.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, perempuan itu berjualan kerupuk dan tahu bakso. Di saat bersamaan, ia masih membiayai dua anaknya sendiri yang masih SMP dan SMK.

Namun perempuan sederhana itu memilih tetap membuka rumahnya untuk Fadlan.

Memilih menjadi tempat pulang bagi seorang anak yang nyaris kehilangan segalanya.

Sejak masuk TK pada 2021, seluruh biaya pendidikan Fadlan ditanggung budenya. Setiap pagi, Fadlan membawa es kero untuk dititipkan di kantin sekolah. Setelah pulang belajar, wadah es itu kembali ia ambil.

Kadang ia diantar pakdenya. Kadang ia mengayuh sepeda sendiri.

Dan yang membuat hati para guru berkaca-kaca, anak itu tetap rajin belajar.

“Untuk akademik, Fadlan cepat menerima pembelajaran,” kata Titik Prihatin.

Kalimat sederhana itu terasa seperti doa panjang yang diam-diam sedang dijaga sekolah: semoga hidup tidak terlalu keras kepada anak ini.

Titik juga bercerita kepada saya, ketika Lisa datang ke sekolah, banyak murid menangis haru. Sebagian berebut meminta tanda tangan.

Dan yang membuat para guru tersentuh, Lisa melayani mereka dengan sabar.

Barangkali bagi sebagian orang dewasa, tanda tangan hanyalah tinta di atas kertas.

Tetapi bagi anak-anak yang tumbuh bersama kehilangan, perhatian kecil bisa menjadi kenangan yang tinggal sangat lama di hati mereka.

Di situlah saya merasa, kadang-kadang kebaikan memang datang dari tempat yang tidak kita sangka.

Kisah seperti ini penting bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga untuk diteladani.

Karena cerita baik memiliki kekuatan menyebarkan energi positif. Ia menginspirasi orang lain untuk ikut berbuat baik.

Di tengah derasnya berita negatif, kisah seperti ini mengembalikan kepercayaan kita pada kemanusiaan: bahwa masih banyak orang peduli.

Dan yang paling penting, anak-anak sedang belajar dari contoh nyata yang mereka lihat.

Mereka melihat bagaimana perhatian diberikan. Bagaimana kasih sayang hadir. Bagaimana seorang pemimpin mau mendengar cerita rakyat kecilnya.

Mungkin bertahun-tahun lagi, Fadlan tidak lagi mengingat berapa jumlah santunan yang diterimanya hari itu.

Anak-anak memang sering lupa angka.

Tetapi mereka jarang lupa rasa.

Ia akan mengingat seorang wali kota yang mendengar kisah hidupnya. Ia akan mengingat sekolah yang menjaganya. Ia akan mengingat bahwa di tengah hidup yang keras, pernah ada orang-orang baik yang membuatnya merasa tidak sendirian. Ia juga akan mengingat hari itu, saat seorang perempuan datang lalu mengusap lembut kepala mereka dengan penuh kasih.
Hadir bukan sekadar sebagai wali kota, melainkan sebagai seorang ibu yang membawa perhatian, kehangatan, dan rasa peduli yang tulus bagi anak-anak yang sedang belajar bertahan dalam kehidupan.

Dan saya percaya, kelak ketika Fadlan besar, ketika anak-anak itu tumbuh dewasa, mereka akan membawa ingatan tentang kebaikan itu ke dalam hidup mereka.

Mereka akan membaginya lagi kepada orang lain.

Sebab kebaikan memang bekerja seperti itu.

Ia berpindah dari satu hati ke hati lain.
Dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dari satu tangan yang menolong, lalu melahirkan tangan-tangan lain yang ikut mengulurkan bantuan.

Kebaikan adalah bahasa universal yang dipahami semua orang. Tidak peduli latar belakang, agama, ataupun status sosial.

Dan mungkin, setelah mendengar kisah dari SDN 3 Kemuning itu, saya memahami satu hal sederhana:

bahwa setiap orang sebenarnya bisa menjadi tokoh dalam kisah kebaikannya sendiri.

Karena setiap tindakan baik, sekecil apa pun, selalu memiliki kemungkinan untuk mengubah dunia seseorang.(be)

Artikel ini bermanfaat? Bagikan: Facebook X

Banjarbaru Emas 2

Jurnalis — Meridian News
Iklan — 728×90
Zona Iklan
Iklan — 728×90

💬 Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.