Semangat Kartini di Kelurahan Guntung Paikat dan Inspirasi Kepemimpinan Wali Kota Hj. Erna Lisa Halaby
waktu baca 5 menit
Selasa, 21 Apr 2026 09:47 174 Banjarbaru Emas 2
Foto : Ketua TP PKK Kelurahan Guntung Paikat berfoto bersama jajaran pengurus PKK kelurahan usai kegiatan peringatan Hari Kartini, 21 April 2026, sebagai wujud kebersamaan dan penguatan peran perempuan dalam pembangunan keluarga dan lingkungan.(BE)
BANJARBARUEMAS.COM — Selasa, 21 April 2026, di sebuah ruang pertemuan di Kelurahan Guntung Paikat, Kecamatan Banjarbaru Selatan, peringatan Hari Kartini tahun ini menjadi refleksi tentang bagaimana perempuan bekerja, memimpin, dan membangun sistem sosial dari tingkat paling dekat dengan warga.
Pertemuan rutin TP PKK dan Posyandu Kelurahan Guntung Paikat yang digelar bertepatan dengan Hari Kartini itu berlangsung dalam suasana yang khas: penuh interaksi, diskusi program, kampanye pengelolaan dan pemilahan sampah, hingga fashion show kebaya yang melibatkan kader-kader perempuan. Namun di balik seluruh rangkaian kegiatan itu, terdapat satu narasi besar yang menjadi benang merah: perempuan sebagai penggerak perubahan berbasis keluarga dan lingkungan.
Ketua TP PKK Kelurahan Guntung Paikat, Winda Sari, menjadi salah satu figur yang menegaskan bahwa semangat Kartini tidak hanya dirayakan, tetapi dijalankan dalam bentuk kerja-kerja sosial yang konkret.
Di tengah aktivitasnya sebagai anggota DPRD di luar Kalimantan Selatan, Winda tidak menutup mata terhadap tantangan klasik yang kerap dihadapi para perempuan di ruang publik: keterbatasan waktu. Namun, ia memilih tidak menjadikan hal itu sebagai hambatan organisasi.
“Memimpin TP PKK kelurahan sambil menjadi anggota DPRD di provinsi lain tetap bisa berjalan efektif asalkan kami mengubah pola kepemimpinan dari selalu hadir menjadi menggerakkan sistem dan orang. Walaupun saya tidak bisa selalu ada, organisasi harus tetap hidup dan bergerak,” ujar Winda Sari.
Pernyataan itu bukan sekadar refleksi personal. Di Guntung Paikat, pernyataan tersebut telah diterjemahkan menjadi praktik kerja organisasi. PKK tidak lagi bertumpu pada satu figur, tetapi pada jaringan kader yang bergerak, berbagi peran, dan saling menguatkan.
Jika Kartini sering dikenang sebagai simbol emansipasi perempuan dalam pendidikan, maka di Guntung Paikat, semangat itu menemukan bentuknyan : perempuan sebagai pengerak di tingkat keluarga dan lingkungan.
Di kelurahan ini, perempuan tidak hanya hadir dalam ruang domestik, tetapi juga menjadi penggerak dalam isu-isu yang sangat praktis, mulai dari kesehatan keluarga, pendidikan anak, hingga pengelolaan sampah rumah tangga.
“Perempuan sebagai penggerak keluarga, karena ibu-ibu PKK adalah sekolah pertama bagi anak-anak. Nilai Kartini tercermin dari peran dalam mendidik generasi yang sehat, cerdas, dan berakhlak,” kata Winda.
Peringatan hari Kartini tidak hanya dipahami sebagai peringatan historis, tetapi sebagai pengingat atas fungsi strategis perempuan dalam membentuk masa depan generasi.
Di Guntung Paikat, konsep itu tidak berhenti pada wacana. Kampanye pengelolaan dan pemilahan sampah, misalnya, menjadi bagian dari agenda rutin PKK. Perempuan dilatih untuk melihat sampah bukan sebagai akhir dari siklus konsumsi, melainkan sebagai awal dari peluang ekonomi baru.
“Dari tangan perempuan, perubahan besar bisa dimulai, termasuk dari hal sederhana seperti memilah sampah,” ujar Winda.
Ia menambahkan bahwa sampah anorganik dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi, seperti kerajinan tangan dari plastik atau kertas. Pendekatan ini tidak hanya mengurangi beban lingkungan, tetapi juga membuka ruang tambahan penghasilan bagi keluarga.
“Perempuan dapat mengolah sampah anorganik menjadi produk bernilai ekonomis. Ini tidak hanya mengurangi sampah, tetapi juga menambah penghasilan keluarga,” ujarnya.
Yang menarik dari Guntung Paikat bukan hanya programnya, tetapi cara kerjanya. PKK di kelurahan ini tidak lagi bergantung pada mobilitas ketua, melainkan pada sistem kaderisasi dan pembagian peran yang lebih terstruktur.
Winda menyebut perubahan pendekatan ini sebagai kunci keberlanjutan organisasi perempuan di tingkat akar rumput.
“Yang kami ubah bukan semangatnya, tetapi cara kerjanya. Dari ketergantungan pada kehadiran, menjadi kekuatan pada sistem,” katanya.
Dengan pendekatan itu, kegiatan PKK dan Posyandu tetap berjalan aktif, termasuk saat Winda tidak berada di lokasi. Kader-kader di tingkat RT dan RW menjadi penggerak utama, sementara koordinasi dilakukan secara terstruktur.
Di titik inilah, semangat Kartini menemukan bentuk yang berbeda: bukan lagi sekadar perjuangan individual perempuan untuk hadir di ruang publik, tetapi bagaimana perempuan membangun sistem sosial yang bisa berjalan tanpa ketergantungan pada satu sosok.
Dalam refleksinya, Winda juga menempatkan generasi muda perempuan sebagai elemen penting dalam keberlanjutan semangat Kartini.
“Jangan pernah merasa terbatas hanya karena kita perempuan, karena justru di situlah kekuatan kita. Jadilah perempuan yang mandiri, percaya diri, dan berakhlak baik,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa pendidikan dan teknologi harus menjadi ruang pemberdayaan, bukan pembatas.
“Manfaatkan perkembangan zaman dan teknologi untuk hal-hal positif, serta berani mengambil peran dalam pembangunan di lingkungan sekitar,” kata Winda.
Bagi PKK Guntung Paikat, generasi muda perempuan bukan hanya penerus, tetapi pelaku aktif perubahan sosial, termasuk dalam isu lingkungan, ekonomi kreatif, dan kesehatan keluarga.
Dalam kesempatan yang sama, Winda juga menyinggung kepemimpinan perempuan di tingkat kota yang menurutnya memberi inspirasi bagi gerakan perempuan di kelurahan.
“Kami merasakan kebanggaan tersendiri memiliki sosok Wali Kota Banjarbaru, Ibu Lisa, yang merupakan perempuan tangguh, inspiratif, dan mampu menjadi teladan bagi seluruh perempuan di daerah,” ujarnya.
Ia menilai, kepemimpinan perempuan di tingkat kota memperkuat legitimasi sosial bahwa perempuan mampu hadir di seluruh spektrum pembangunan, dari kebijakan hingga implementasi di tingkat bawah.
“Semangat perjuangan R.A. Kartini tercermin dalam kepemimpinan Ibu Wali Kota yang tidak hanya membuka ruang, tetapi juga memastikan perempuan benar-benar berdaya,” kata Winda.
Di Guntung Paikat, semangat Kartini bertransformasi menjadi cara kerja, menjadi sistem sosial, dan menjadi jaringan perempuan yang bergerak setiap hari.
Kelurahan ini menunjukkan bahwa semangat Kartini tidak selalu hadir dalam bentuk besar dan formal. Ia hidup dalam hal yang paling sederhana: cara ibu-ibu memilah sampah, cara kader Posyandu mengatur layanan kesehatan, hingga cara organisasi tetap berjalan meski pemimpinnya tidak selalu berada di tempat.
Di titik inilah, Winda menegaskan penutup pandangannya, “Kepemimpinan Ibu Wali Kota Lisa membuat kami yakin bahwa perempuan bukan hanya bagian dari pembangunan, tetapi juga penggeraknya. Semangat Kartini hari ini tidak lagi hanya dikenang, tetapi dijalankan,”pungkasnya.(be)
Tidak ada komentar