Semangat Kartini di PAUD Citra Indonesia: 110 Anak Tampil dengan Busana Daur Ulang, Edukasi Pilah Sampah Sejak Dini
waktu baca 3 menit
Sabtu, 18 Apr 2026 09:08 156 Banjarbaru Emas 2
Foto : Lurah Guntung Paikat Reza Pahlevi berfoto bersama Pengelola PAUD Citra Indonesia dan anak-anak peserta lomba Kreasi Daur Ulang usai peringatan Hari Kartini di Banjarbaru, Sabtu (18/4/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari edukasi pilah sampah sejak usia dini.(BE)
BANJARBARUEMAS.COM — Arahan Wali Kota Banjarbaru, Hj. Erna Lisa Halaby, tentang pentingnya pengelolaan dan pemilahan sampah dari sumbernya terus menggema hingga ke tingkat pendidikan anak usia dini. Di tengah penguatan gerakan pilah sampah di masyarakat, PAUD Citra Indonesia mengambil peran dengan cara yang kreatif dan edukatif.
Sabtu (18/4/2026), lembaga pendidikan tersebut memperingati Hari Kartini melalui kegiatan bertema Kreasi Daur Ulang. Sebanyak 110 siswa dari tingkat Kelompok Bermain (KB) dan Taman Kanak-Kanak (TK) ambil bagian dalam lomba busana berbahan limbah daur ulang, dengan total hadiah mencapai Rp1.700.000. Juara 1, 2, dan 3 dipilih di masing-masing kategori, ditambah lima juara favorit yang disiapkan khusus oleh Lurah Guntung Paikat.
Sejak pagi, halaman sekolah berubah menjadi panggung kecil penuh warna. Anak-anak tampil percaya diri mengenakan kostum hasil olahan plastik bekas, kertas koran, kardus, hingga kemasan deterjen. Di balik kostum-kostum unik itu, terselip pesan kuat: sampah bukan akhir, melainkan awal dari kreativitas.
Dalam konsep pembelajaran, anak-anak diperkenalkan pada prinsip Recycle atau mendaur ulang yakni mengolah kembali sampah menjadi produk baru yang memiliki nilai guna melalui proses fisik maupun kreatif. Guru dan orang tua terlibat aktif membimbing anak memahami bahwa limbah yang sering dianggap tak berguna sesungguhnya dapat menjadi karya bernilai.
Owner PAUD Citra Indonesia, Widi Sulistiyowati, menegaskan bahwa kegiatan ini selain memperingati Hari Kartini, juga bagian dari pendidikan karakter peduli lingkungan.
“Melalui tema kreasi daur ulang ini, kami ingin menanamkan kepada anak-anak bahwa sampah yang sering dianggap tidak berguna sebenarnya bisa diolah menjadi sesuatu yang kreatif dan bernilai. Ini juga menjadi bentuk penghargaan terhadap semangat Kartini yang identik dengan kreativitas dan kemandirian,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para orang tua yang terlibat langsung dalam proses pembuatan kostum.
“Kami sangat mendukung gerakan pilah sampah dari rumah. PKK sebagai garda terdepan harus ikut melaksanakan gerakan ini. Kami juga mengapresiasi orang tua murid yang sudah dengan penuh usaha dan kreativitas menghadirkan busana daur ulang hari ini,” katanya.
Kegiatan ini sekaligus menjadi dukungan konkret terhadap gerakan pemilahan sampah yang sedang digaungkan Pemerintah Kota Banjarbaru. Edukasi tidak berhenti pada anak, tetapi juga menyasar keluarga sebagai unit terkecil penghasil sampah.
Lurah Guntung Paikat, Reza Pahlevi, dalam sambutannya mengajak para orang tua membiasakan memilah sampah dari rumah.
“Pengelolaan sampah itu dimulai dari rumah tangga. Kalau sampah sudah dipilah, akan membawa berkah. Salah satunya bisa didaur ulang menjadi busana seperti yang kita lihat hari ini,” ujarnya.
Ia menegaskan, langkah kecil yang dilakukan keluarga akan berdampak besar bagi lingkungan kota ke depan.
“Sesuai arahan Menteri Lingkungan Hidup dan juga Ibu Wali Kota Banjarbaru terkait pengelolaan sampah, momentum seperti ini sangat penting. Apalagi menjelang Hari Jadi Kota Banjarbaru nanti akan ada deklarasi komitmen pengelolaan sampah. Saya sangat mengapresiasi anak-anak yang sudah diajarkan orang tuanya memilah sampah dari rumah. Ini investasi karakter untuk masa depan,” tambahnya.
Penilaian lomba dilakukan dewan juri dengan menitikberatkan pada kreativitas desain, kerapian, serta kemampuan memanfaatkan limbah menjadi karya yang memiliki nilai estetika dan pesan lingkungan.
Kemeriahan kegiatan tidak hanya terasa sebagai peringatan Hari Kartini, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran yang menyenangkan. Semangat Kartini dimaknai bukan sebatas mengenang tokoh emansipasi perempuan, melainkan menghidupkan nilai kreativitas, kemandirian, dan kepedulian sosial sejak usia dini.
Di tengah tantangan persoalan sampah perkotaan, ruang kelas PAUD menjadi titik awal perubahan. Edukasi lingkungan dikemas menyenangkan, nilai Kartini dihidupkan kembali, dan kesadaran ekologis ditanamkan sejak dini.
“Semoga kebiasaan baik ini tidak berhenti di sekolah saja, tetapi terus berlanjut di rumah dan menjadi budaya baru masyarakat Banjarbaru dalam mengelola sampah,” tutup Reza.(be)
Tidak ada komentar