Ketua TP PKK Landasan Ulin Selatan Dorong Pemilahan Sampah dari Rumah, Kader Jadi Ujung Tombak

waktu baca 3 menit
Kamis, 16 Apr 2026 05:55 280 Banjarbaru Emas 2

BANJARBARUEMAS.COM — Upaya menata persoalan sampah di tingkat kota kembali ditegaskan dari lingkup paling dasar: rumah tangga. Di Kelurahan Landasan Ulin Selatan, langkah itu dimulai melalui penguatan peran kader sebagai penggerak perubahan perilaku masyarakat.

Ketua TP PKK Kelurahan Landasan Ulin Selatan, Hesty Bella Novasari, menggelar silaturahmi bersama kader PKK dan kader Posyandu yang dirangkai dengan sosialisasi pemilahan sampah rumah tangga, Senin (13/4/2026). Kegiatan yang berlangsung di Aula Kebersamaan kelurahan tersebut diikuti para kader yang tampak serius menyimak materi dan aktif dalam sesi diskusi.

Dalam paparannya, Hesty menekankan bahwa persoalan sampah tidak semata berada pada tahap pengangkutan atau pengolahan akhir, melainkan bermula dari kebiasaan di tingkat rumah tangga.

“Pemilahan sampah adalah langkah awal yang sederhana, tetapi menentukan. Jika tidak dilakukan dari rumah, sampah akan terus bercampur dan sulit ditangani,” ujarnya.

Kegiatan ini menjadi bagian dari dukungan terhadap program Indonesia Asri sekaligus percepatan penanganan sampah di daerah, sejalan dengan arahan Pemerintah Kota Banjarbaru dalam mewujudkan Banjarbaru EMAS (Elok, Maju, Adil, dan Sejahtera).

Dalam konteks itu, kader PKK dan Posyandu ditempatkan sebagai simpul edukasi. Mereka diharapkan tidak hanya memahami, tetapi juga mampu menyampaikan kembali pengetahuan tersebut kepada masyarakat secara langsung.

“Peran kader sangat strategis. Dari mereka, informasi bisa menjangkau rumah tangga, membentuk kebiasaan baru yang lebih peduli lingkungan,” kata Hesty.

Materi yang disampaikan berfokus pada pemahaman dasar pemilahan sampah. Sampah rumah tangga, dijelaskan, secara umum terbagi menjadi tiga jenis, yakni organik, anorganik, dan bahan berbahaya dan beracun (B3).

Sampah organik, seperti sisa makanan dan daun kering, dapat diolah menjadi kompos. Sementara sampah anorganik, seperti plastik, botol, dan kardus, memiliki potensi untuk didaur ulang maupun bernilai ekonomi. Adapun sampah B3, seperti baterai bekas dan lampu, memerlukan penanganan khusus karena berisiko mencemari lingkungan.

Selain pengenalan jenis, peserta juga dibekali langkah praktis pemilahan, mulai dari penyediaan tempat sampah terpisah di rumah, pemisahan sejak sumber, hingga kebiasaan membersihkan sampah anorganik sebelum disimpan.

Pendekatan ini dilengkapi dengan penguatan prinsip 3R—reduce, reuse, recycle—sebagai kerangka pengelolaan sampah berkelanjutan.

Sejumlah peserta menilai kegiatan ini memberi pemahaman yang lebih aplikatif. Tidak hanya menjelaskan konsep, tetapi juga memberikan panduan yang dapat langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai tindak lanjut, para kader didorong memanfaatkan media digital untuk memperluas jangkauan edukasi. Informasi mengenai pemilahan sampah diharapkan dapat disebarluaskan melalui grup percakapan maupun jejaring komunikasi warga.

Langkah ini dinilai penting untuk mempercepat perubahan perilaku masyarakat, sekaligus memperkuat peran kader sebagai penghubung antara program pemerintah dan praktik di lapangan.

Upaya yang dimulai dari skala kelurahan ini menunjukkan bahwa penyelesaian persoalan sampah tidak selalu harus bertumpu pada kebijakan besar. Perubahan justru kerap berawal dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Di akhir kegiatan, Hesty kembali menegaskan bahwa perubahan dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan bersama. Ia berharap para kader tidak berhenti pada pemahaman, tetapi bergerak menyampaikan dan memberi contoh di lingkungan masing-masing.

“Jangan tunggu orang lain. Mulai dari rumah kita sendiri. Kalau kita konsisten memilah sampah, kita sedang menjaga lingkungan dan masa depan anak-anak kita,” ujarnya.(be)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA