BANJARBARUEMAS.COM — Upaya menata persoalan sampah dari hulu terus bergerak di Kecamatan Banjarbaru Utara. Setelah Kelurahan Mentaos lebih dahulu menggulirkan pengelolaan berbasis sumber, kini Kelurahan Komet mengambil langkah serupa dimulai dari lingkup internal kelurahan.
Lurah Komet, Bara Russetyoko, memilih memulai gerakan dari dalam. Pengelolaan sampah anorganik belum diperluas ke seluruh warga, tetapi difokuskan lebih dulu pada pegawai kelurahan dan Karang Taruna.
Skema yang dijalankan sederhana dan terukur: sampah anorganik dikumpulkan, dipilah, lalu ditimbang setiap akhir bulan untuk disetorkan ke bank sampah induk.
Langkah ini, menurut Bara, adalah fondasi.
“Kami ingin memulai dari kantor kelurahan. Pegawai dan Karang Taruna harus lebih dulu terbiasa memilah dan mengumpulkan sampah anorganik. Dari situ, gerakan ini akan kami perluas secara bertahap ke warga,” ujarnya.
Sebagai anggota bank sampah kelurahan, pegawai dan pemuda didorong disiplin mengumpulkan plastik, kertas, kaleng, dan botol. Setiap akhir bulan, hasilnya ditimbang, sebagai simbol komitmen bahwa perubahan perilaku harus dimulai dari diri sendiri.
Bara menegaskan, pendekatan ini bukan semata teknis pengumpulan sampah, melainkan strategi membangun budaya.
“Kalau kami ingin warga bergerak, kelurahan harus memberi contoh. Tidak mungkin meminta masyarakat memilah sampah dari rumah kalau kantor kelurahannya belum tertib,” katanya.
Komitmen itu kemudian dipertegas lewat inovasi bertajuk SANTEN (Sampah Anorganik Tiap Senin), program unggulan yang digelar rutin setiap hari Senin. Melalui SANTEN, warga diajak mengumpulkan dan menyerahkan sampah anorganik ke titik pengumpulan yang telah ditentukan.
Program ini dirancang bukan hanya untuk mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir, tetapi juga membentuk kebiasaan baru: memilah sejak dari rumah. Sampah yang terkumpul akan disalurkan melalui bank sampah untuk didaur ulang atau diolah menjadi bernilai ekonomis.
“Lewat SANTEN, kami ingin ada pengingat mingguan. Setiap Senin, warga ingat bahwa sampah anorganik punya nilai dan tidak seharusnya dibuang begitu saja,” tutur Bara.
Pelaksanaan SANTEN melibatkan RT/RW, kader lingkungan, serta dukungan aktif dari pihak kelurahan. Sinergi itu menjadi kunci agar gerakan ini tumbuh sebagai kebiasaan kolektif.
Bagi Kelurahan Komet, perubahan tidak harus dimulai dengan skala besar. Cukup dimulai dari ruang kerja kelurahan, dari meja-meja pegawai, dari kantong-kantong plastik yang tidak lagi dibuang sembarangan.
“Gerakan besar selalu lahir dari langkah kecil yang konsisten. Target kami jelas: setelah internal kuat, baru kami masifkan ke seluruh warga Komet,” kata Bara.
303
Tidak ada komentar