Inovasi MESRA dari Mentaos, Banjarbaru Bidik Pengurangan Sampah 40 Persen dari Rumah Tangga

waktu baca 3 menit
Selasa, 14 Apr 2026 04:26 160 Banjarbaru Emas 2

BANJARBARUEMAS.COM — Upaya mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Gunung Kupang terus digencarkan dari level paling dekat dengan warga: rumah tangga. Kelurahan Mentaos menghadirkan inovasi MESRA (Memilah Sampah dari Sumbernya), yang disosialisasikan di Komplek Palapa RT 02 RW 04, Sabtu (11/4/2026).

Kegiatan ini menghadirkan Lurah Mentaos Ciptadi Sunaryo, Direktur Bank Sampah KAMI Dr. Murjani, serta Ketua RT setempat, dan diikuti antusias oleh warga. Program ini menjadi langkah konkret untuk membangun kebiasaan baru dalam pengelolaan sampah berbasis lingkungan warga.

Lurah Mentaos, Ciptadi Sunaryo, menegaskan bahwa persoalan sampah tidak bisa lagi hanya dibebankan pada pemerintah atau petugas kebersihan. Peran aktif warga menjadi kunci utama.

“Kalau kita tidak mulai dari rumah, maka TPA akan terus terbebani. Mau tidak mau, warga harus terlibat aktif memilah sampah dari sumbernya,” ujar Ciptadi.

Ia mengakui, gerakan ini bisa berjalan karena dukungan kuat dari masyarakat, termasuk para Ketua RT dan RW yang menjadi motor penggerak di lingkungan masing-masing.

“Saya beruntung, seluruh Ketua RT dan RW di Mentaos bergerak bersama. Ini bukan program pemerintah semata, tapi gerakan warga,” kata dia.

Program MESRA dirancang sederhana namun berdampak. Warga diminta memilah sampah organik dan non organik sejak dari rumah. Di tingkat RT, disediakan berbagai fasilitas pendukung seperti lubang komposter, tong biru sebagai drop point, hingga sistem pengangkutan sampah keliling.

Bagi warga yang ingin mengelola sampah organik secara mandiri, kelurahan juga menyiapkan bantuan berupa ember tumpuk dan tabung komposter model losida. Sementara itu, sampah non organik akan dikumpulkan dan disalurkan ke Bank Sampah KAMI untuk diolah dan memiliki nilai ekonomi.

Direktur Bank Sampah KAMI, Dr. Murjani, menjelaskan bahwa pihaknya tidak hanya mengelola sampah anorganik melalui sistem tabungan sampah, tetapi juga mendorong pengolahan sampah organik di tingkat warga.

“Beberapa fasilitas sudah kami pasang, mulai dari tong biru, komposter, hingga lubang-lubang pengolahan di titik strategis. Kami juga siapkan perangkat portable seperti ember tumpuk dan komposter pipa untuk warga,” ujar Murjani.

Ia menambahkan, pendekatan ini diharapkan mampu membangun kemandirian warga dalam mengelola sampah sekaligus mengurangi ketergantungan pada TPS.

Menurut Murjani, berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup Kota Banjarbaru, volume sampah yang masuk ke TPS Pinus Mentaos dan dibuang ke TPA Regional mencapai 5.000 hingga 6.000 kilogram per hari. Melalui program MESRA, pemerintah kelurahan menargetkan pengurangan hingga 40 persen dalam tahun pertama.

Target tersebut dinilai realistis jika seluruh RT konsisten menjalankan sistem pemilahan dan pengolahan di lingkungan masing-masing.

“Kalau ini berjalan konsisten, kita bukan hanya mengurangi sampah, tapi juga mengubah pola pikir masyarakat tentang nilai sampah itu sendiri,” ujarnya.

Dengan semangat gotong royong dan dukungan infrastruktur sederhana, MESRA diharapkan menjadi model pengelolaan sampah berbasis warga yang dapat direplikasi di berbagai wilayah di Banjarbaru. Murjani, menegaskan bahwa kunci keberhasilan program ini terletak pada konsistensi dan keterlibatan masyarakat.

“Jika warga disiplin memilah dan mengelola sampah dari rumah, maka persoalan sampah bisa selesai dari hulunya. Inilah gerakan bersama yang harus terus kita jaga,” pungkasnya.(be)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA