Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby Sampaikan Selamat atas Pengukuhan Profesor Kehormatan Fadli Zon

waktu baca 3 menit
Rabu, 11 Feb 2026 02:14 289 Banjarbaru Emas 2

BANJARBARUEMAS.COM – Siang ini, di sebuah sidang terbuka Senat Universitas Nasional, Jakarta, Selasa, 11 Februari 2026, gagasan besar tentang Indonesia kembali disuarakan, tentang peradaban. Universitas Nasional secara resmi mengukuhkan Dr. Fadli Zon, M.Sc sebagai Profesor Kehormatan Prof. (Hon), disertai orasi kebudayaan bertajuk “Megadiversitas Budaya Indonesia sebagai Pusat Peradaban Dunia.”

Ucapan selamat dan apresiasi pun datang dari berbagai penjuru negeri. Dari Banjarbaru, Wali Kota Hj. Erna Lisa Halaby menyampaikan penghormatan dan harapannya atas pengukuhan tersebut. Baginya, orasi kebudayaan itu penegasan arah masa depan Indonesia.

“Selamat dan sukses atas pengukuhan Profesor Kehormatan kepada Dr. Fadli Zon. Orasi tentang megadiversitas budaya Indonesia adalah pengingat bahwa kekuatan bangsa ini tidak hanya terletak pada sumber daya alam, tetapi pada kekayaan nilai, tradisi, dan sejarah yang hidup,” ujar Erna Lisa Halaby.

Apresiasi itu bukan tanpa latar. Erna Lisa Halaby secara langsung bertemu dan berdialog dengan Fadli Zon di Jakarta, saat dirinya mendampingi Komite Ekonomi Kreatif (KEK) Banjarbaru melakukan audiensi dengan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Dalam pertemuan tersebut, percakapan tidak berhenti pada isu kebijakan pusat, tetapi mengalir pada bagaimana kebudayaan hidup di daerah dan menjadi fondasi pembangunan.

Salah satu pesan penting yang disampaikan dalam audiensi itu adalah gagasan menjadikan kawasan Cempaka, Banjarbaru, sebagai Living Museum, ruang hidup kebudayaan yang tidak membekukan tradisi sebagai benda mati, tetapi merawatnya sebagai praktik sosial yang terus tumbuh. Cempaka, dengan sejarah pertambangan intan, tradisi masyarakatnya, serta lanskap budaya yang khas, dinilai memiliki modal kuat untuk menjadi etalase kebudayaan Banjarbaru dan Kalimantan Selatan.

Orasi kebudayaan Fadli Zon di Universitas Nasional seolah menguatkan gagasan tersebut. Indonesia, menurutnya, bukan sekadar negara majemuk. Dengan lebih dari 13.000 pulau, sekitar 300 kelompok etnis, dan lebih dari 200 bahasa, Indonesia adalah peradaban megadiversitas, keragaman dalam skala besar yang terbentuk dan bertahan selama ribuan tahun.

Para ahli menyebut Indonesia sebagai salah satu peradaban tertua yang masih hidup. Temuan fosil Homo sapiens berusia 100.000 hingga 300.000 tahun, serta lukisan purba di Gua Leang-leang, Sulawesi, yang diperkirakan berusia 40.000 hingga 52.000 tahun, menjadi penanda bahwa Nusantara telah lama menjadi ruang hidup manusia dan kebudayaannya.

Megadiversitas itu hadir dalam keseharian: pada makanan, musik, seni, arsitektur, hingga sistem sosial yang berbeda dari satu daerah ke daerah lain. Dunia pun mengakuinya melalui sembilan situs warisan UNESCO, baik budaya maupun alam, serta pengakuan terhadap kebudayaan takbenda seperti wayang, batik, dan keris.

Dan bagi Wali Kota Lisa, pesan tersebut relevan hingga ke tingkat kota. “Megadiversitas budaya adalah modal sosial. Ia membentuk identitas bangsa yang kokoh sekaligus menjadi keunggulan kompetitif Indonesia di panggung global. Di Banjarbaru, kami berupaya menerjemahkannya ke dalam kebijakan nyata, salah satunya melalui pengembangan Cempaka sebagai Living Museum,” katanya.

Dari Jakarta, gagasan tentang Indonesia sebagai pusat peradaban dunia kembali dipantulkan ke daerah-daerah. Dari Banjarbaru, pesan itu disambut sebagai komitmen: bahwa pembangunan juga tentang merawat ingatan, kebudayaan, dan jati diri bangsa.(be)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA