Rambai Emas di Kelurahan Loktabat Selatan, Merawat Sungai Kemuning dan Jejak Kepemimpinan

waktu baca 3 menit
Sabtu, 17 Jan 2026 11:38 337 Banjarbaru Emas 2

BANJARBARUEMAS — Gerakan Rambai Emas di Kota Banjarbaru terus bergerak dan meluas. Tidak lagi berhenti di tingkat kecamatan, inisiatif kebersihan lingkungan yang digagas Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby ikini menyentuh langsung wilayah kelurahan, menghadirkan kembali semangat gotong royong warga sekaligus merawat sungai sebagai ruang hidup bersama.

Di Kecamatan Banjarbaru Selatan, Rambai Emas sebelumnya digelar pada Sabtu (10/1/2026) di Jalan Karamunting Ujung, Kelurahan Guntung Paikat. Kegiatan yang dipimpin langsung Camat Banjarbaru Selatan Muhammad Firmansyah itu menjadi penanda komitmen bersama untuk menjaga kebersihan dan kenyamanan lingkungan permukiman warga.

Semangat tersebut berlanjut pada Sabtu (17/1/2026) di Kelurahan Loktabat Selatan. Sejak pagi, Lurah Loktabat Selatan Astri Mayasari bersama seluruh karyawan dan karyawati kelurahan, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), para ketua RT/RW, Bhabinkamtibmas, MPB, warga setempat, hingga komunitas Green n Clean (GnC) Kota Banjarbaru bergotong royong membersihkan bantaran Sungai Kemuning di kawasan Kampung Sultan, tepatnya di belakang Kantor Pajak.

Bagi warga Banjarbaru, Sungai ini menyimpan jejak panjang kebijakan dan kepemimpinan kota. Pada periode 2015–2020, almarhum Nadjmi Adhani, Wali Kota Banjarbaru saat itu, telah merancang penataan Sungai Kemuning melalui sejumlah fase yang terukur.

Nadjmi Adhani kala itu menegaskan bahwa penataan sungai tidak bisa dilakukan secara instan. Fase pertama adalah normalisasi sungai agar aliran air kembali lancar. Fase kedua, yang tidak kalah penting, adalah menyelesaikan persoalan bantaran sungai dengan mengubah pola pikir masyarakat—dari memandang sungai sebagai “belakang rumah” yang identik dengan tempat pembuangan sampah, menjadi “depan rumah” yang harus dijaga kebersihan dan keindahannya.

“Kalau mindset masyarakat sudah berubah, sungai akan terjaga dengan sendirinya,” demikian pesan yang kerap disampaikan almarhum Nadjmi Adhani dalam berbagai kesempatan.

Perubahan itu kini mulai terlihat. Sungai Kemuning relatif bebas dari sampah, dan kesadaran warga bantaran sungai untuk tidak lagi menjadikan sungai sebagai lokasi pembuangan limbah rumah tangga semakin menguat. Gerakan Rambai Emas hari ini seolah menjadi pengingat bahwa upaya tersebut harus terus dirawat dan dilanjutkan.

Tahap berikutnya, sebagaimana dirancang sejak awal, adalah pemberdayaan ekonomi masyarakat. Potensi inilah yang kini kembali coba dihidupkan. Camat Banjarbaru Selatan Muhammad Firmansyah melihat kawasan Sungai Kemuning memiliki kekuatan ekonomi kreatif yang besar.

Menurut Firmansyah, banyak warga di sekitar Sungai Kemuning yang telah lama menekuni usaha pembuatan kue dan wadai tradisional yang dipasarkan ke berbagai penjuru Banjarbaru.

“Potensi ini ingin kita munculkan kembali sebagai kampung wadai. Lingkungan yang bersih akan mendukung ekonomi warga, dan ekonomi yang tumbuh akan memperkuat kepedulian terhadap lingkungan,” ujarnya.

Sedangkan kawasan Kampung Sultan sendiri dikenal sebagai kampung tematik di Banjarbaru. Nama Sultan merupakan singkatan dari KAmpung SULam TANgan, sentra kerajinan sulam pita tangan yang berlokasi di Gang Keluarga, Loktabat Selatan. Kebersihan sungai dan lingkungan menjadi prasyarat penting bagi keberlanjutan kampung tematik dan aktivitas ekonomi kreatif di sekitarnya.(be)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA