DLH Banjarbaru Masifkan Pemilahan Sampah dari Rumah, Ratusan Losida hingga Tong Organik Disebar ke Permukiman Warga

waktu baca 5 menit
Senin, 25 Mei 2026 01:49 362 Banjarbaru Emas 2

BANJARBARUEMAS.COM – Persoalan sampah perkotaan perlahan mulai dihadapi dengan pendekatan baru di Banjarbaru. Tidak lagi semata bertumpu pada pengangkutan sampah ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), Pemerintah Kota Banjarbaru kini mendorong penyelesaian sampah langsung dari sumbernya—yakni dari rumah tangga warga.

Melalui Dinas Lingkungan Hidup Kota Banjarbaru, gerakan pemilahan sampah berbasis sumber terus dimasifkan dengan mendistribusikan berbagai sarana pengelolaan sampah organik ke tingkat kelurahan, kecamatan, RT, hingga RW.

Tong drop point sampah organik berwarna biru mulai terlihat ditempatkan di sejumlah kawasan permukiman. Di sisi lain, warga juga mulai menerima bantuan losida, komposter, ember sampah, hingga sumur kompos atau teba sebagai bagian dari perubahan pola pengelolaan sampah rumah tangga.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Banjarbaru, Shanty Eka Septiani, Jumat (22/5/2026), mengatakan program tersebut merupakan langkah konkret membangun budaya memilah sampah sejak dari rumah.

“Penyelesaian sampah berbasis sumber adalah strategi menangani sampah langsung dari tempat asalnya, seperti rumah tangga, kantor, maupun sekolah, dengan prinsip utama memilah, mengompos, dan mendaur ulang,” ujar Shanty.

Menurut dia, pendekatan ini menjadi penting karena volume sampah perkotaan terus meningkat, sementara kapasitas pengolahan di hilir memiliki keterbatasan.

Karena itu, pengurangan sampah harus dimulai sejak awal melalui perubahan perilaku masyarakat.

“Dengan diberikannya sarana pengelolaan sampah baik berupa losida, komposter, drop point sampah, ember sampah, dan lainnya, harapannya masyarakat bisa ikut terlibat dan berpartisipasi dalam pengelolaan sampah dari sumber sampah atau rumah tangga,” katanya.

Ia menegaskan, kendati jumlah sarana yang dibagikan saat ini masih terbatas, gerakan pemilahan sampah tidak boleh berhenti menunggu seluruh fasilitas tersedia sempurna.

“Pemko Banjarbaru dalam hal ini akan terus memberikan bimbingan dan dukungan kepada masyarakat untuk terus melakukan pilah sampah dari rumah. DLH melakukan pendampingan terus-menerus,” ujar Shanty.

Distribusi Menyasar Permukiman Warga

Data DLH Banjarbaru menunjukkan distribusi sarana pengelolaan sampah sudah mulai menjangkau banyak titik permukiman warga.

Hingga Mei 2026, tercatat sebanyak 419 unit losida telah disalurkan kepada masyarakat. Selain itu, terdapat 56 unit tong drop point sampah organik, 942 ember sampah, 56 komposter, dan 10 unit sumur kompos atau teba yang telah dibagikan.

Distribusi dilakukan ke berbagai kawasan, di antaranya Kelurahan Guntung Paikat, Mentaos, Syamsudin Noor, Sungai Ulin, Loktabat Utara, Landasan Ulin Tengah, hingga kawasan Pasar Bauntung.

Untuk losida, bantuan disalurkan ke sejumlah titik seperti Kompleks Rina Karya RT 003 RW 004 Kelurahan Guntung Paikat, Kompleks Palapa RT 002 RW 004 Kelurahan Mentaos, Kelurahan Komet, kawasan Sungai Ulin, hingga lingkungan warga di Kelurahan Syamsudin Noor.

Sementara tong drop point sampah organik juga mulai ditempatkan di kawasan permukiman padat penduduk dan titik aktivitas masyarakat, seperti Pasar Bauntung, Kelurahan Palam, hingga kawasan Syamsudin Noor.

Tong khusus itu diperuntukkan bagi sampah organik seperti sisa sayuran, kulit buah, nasi, ampas kopi, daun kering, dan limbah dapur lainnya yang mudah terurai.

Warga diminta tidak mencampurkan sampah organik dengan plastik pembungkus, kertas berlapis plastik, maupun sampah residu lain agar proses pengolahan dapat berjalan optimal.

Losida Dipasang Gotong Royong

Salah satu kawasan yang mulai aktif menjalankan program ini berada di RW 07 Kelurahan Syamsudin Noor.

Di kawasan tersebut, warga menerima bantuan 100 unit losida dari DLH Banjarbaru. Hingga kini, sekitar 80 persen di antaranya telah terpasang di lingkungan warga.

Ketua RW 07 Kelurahan Syamsudin Noor, Suyono, mengatakan pemasangan losida dilakukan secara mandiri dan gotong royong oleh masyarakat.

“Ini dipasang di RT 31, 32, 33, 34, dan 35 RW 07. Dipasang secara mandiri dan gotong royong oleh warga disaksikan ketua RT masing-masing,” ujar Suyono.

Menurut dia, pemasangan dimulai sejak 10 Mei 2026 dengan target seluruh bantuan terpasang di lingkungan warga.

Antusiasme masyarakat, kata dia, cukup tinggi karena losida dianggap sederhana dan mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Pak Suyono selaku Ketua RW mengucapkan banyak terima kasih kepada DLH yang telah membantu alat losida. Losida tersebut dipasang mulai tanggal 10 Mei dengan target pemasangan 100 biji. Warga antusias memasang,” katanya.

Ia berharap program serupa dapat diperluas ke wilayah RW lain agar pengelolaan sampah berbasis rumah tangga semakin merata.

“Harapan saya semoga ke depannya losida ini terpasang merata di RW lainnya di Kelurahan Syamsudin Noor,” ujarnya.

Mengolah Sampah dari Pekarangan Rumah

Program yang dijalankan DLH Banjarbaru pada dasarnya mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah rumah tangga.

Jika sebelumnya sampah dianggap barang buangan yang harus segera diangkut ke TPS atau TPA, kini masyarakat didorong mengolah sebagian besar sampah langsung dari rumah.

Sampah organik seperti sisa makanan, kulit buah, daun kering, dan sisa sayuran diarahkan untuk diproses melalui losida, komposter, maupun sumur kompos.

Losida atau Lodong Sesa Dapur menjadi salah satu metode yang kini banyak diperkenalkan kepada masyarakat. Teknologi sederhana ini menggunakan pipa paralon atau bambu berlubang yang ditanam ke tanah sebagai media penguraian sampah organik.

Cara kerjanya relatif praktis. Warga cukup memasukkan sisa dapur setiap hari ke dalam pipa tersebut. Sampah kemudian terurai secara alami dan menghasilkan unsur hara yang menyuburkan tanah di sekitarnya.

Metode ini dinilai efektif karena tidak membutuhkan lahan luas serta mampu mengurangi timbulan sampah organik rumah tangga secara signifikan.

Selain losida, DLH juga mulai memperkenalkan sumur kompos atau teba. Konsep ini mengadaptasi kearifan lokal Bali dalam mengolah sampah organik melalui lubang kompos berkedalaman sekitar dua meter.

Selain berfungsi sebagai tempat penguraian sampah, teba juga dapat menjadi sumur resapan air saat musim hujan sehingga membantu menjaga cadangan air tanah.

Membangun Budaya Baru

Bagi Pemerintah Kota Banjarbaru, program ini bukan sekadar distribusi alat pengolahan sampah. Lebih jauh, pemerintah ingin membangun budaya baru di tengah masyarakat bahwa pengelolaan sampah merupakan tanggung jawab bersama.

Sistem pengelolaan sampah berbasis sumber menempatkan rumah tangga sebagai titik paling penting dalam rantai pengurangan sampah kota.

Dari rumah tangga itulah proses pemilahan dimulai: sampah organik dipisahkan untuk diolah, sampah anorganik didaur ulang melalui bank sampah, sedangkan residu dibuang secara terbatas sesuai penanganannya.

Pendekatan tersebut diyakini mampu menekan volume sampah yang masuk ke TPA sekaligus memperkuat partisipasi warga dalam menjaga lingkungan.

Banjarbaru kini mencoba membangun kesadaran baru: bahwa penyelesaian persoalan sampah tidak selalu harus dimulai dari tempat pembuangan akhir, melainkan dari dapur dan pekarangan rumah masing-masing.(be)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA