Dari Instruksi Wali Kota, Lahir “Tersenyum”: Gerakan Sedekah Minyak Jelantah di Banjarbaru Utara

waktu baca 3 menit
Senin, 13 Apr 2026 23:38 341 Banjarbaru Emas 2

BANJARBARUEMAS.COM — Instruksi Wali Kota Banjarbaru, Hj. Erna Lisa Halaby, agar para lurah dan camat serius menangani persoalan sampah melalui penguatan pengelolaan berbasis pemilahan dari sumber rumah tangga, mulai bergerak dari tataran kebijakan menuju aksi nyata di lapangan.

Penanganan sampah tidak lagi dipandang semata sebagai urusan hilir, mengangkut dan membuang melainkan ditarik ke hulu: dapur dan halaman rumah warga. Di sejumlah kelurahan dan kecamatan, berbagai rencana inovasi mulai disusun. Tujuannya seragam, mengurangi timbulan sampah sejak dari sumbernya, sekaligus membangun kesadaran kolektif bahwa pengelolaan lingkungan adalah tanggung jawab bersama.

Di Kecamatan Banjarbaru Utara, langkah itu diterjemahkan melalui inovasi bertajuk “Tersenyum” (Terima Sedekah Minyak Jelantah) yang digagas Camat Banjarbaru Utara, Taufik Purwanto. Program ini secara khusus menyasar limbah minyak goreng bekas pakai atau minyak jelantah yang selama ini kerap dibuang sembarangan ke saluran air maupun tanah.

Padahal, minyak jelantah bukan limbah biasa. Sifatnya yang sulit larut dalam air membuatnya membentuk lapisan di permukaan perairan, menghambat penetrasi oksigen, dan mengganggu kehidupan biota air.

Jika meresap ke tanah, limbah ini dapat menurunkan kesuburan serta mencemari sumber air tanah. Dalam jangka panjang, kebiasaan membuang minyak jelantah sembarangan menjadi ancaman tersembunyi bagi kualitas lingkungan permukiman.

Berangkat dari persoalan tersebut, Taufik memilih pendekatan yang sederhana namun menyentuh kesadaran sosial dan spiritual masyarakat. Alih-alih sekadar mengimbau, ia mengemasnya dalam konsep sedekah.

Melalui “Tersenyum”, warga didorong untuk mengumpulkan minyak jelantah di rumah masing-masing, lalu menyerahkannya pada titik pengumpulan yang telah ditentukan.

Minyak yang terkumpul kemudian dikelola dan dimanfaatkan kembali melalui kerja sama dengan pihak pengolah, sehingga memiliki nilai guna dan tidak mencemari lingkungan.

“Kami ingin mengubah pola pikir. Jangan lagi melihat minyak jelantah sebagai sampah yang harus dibuang, tetapi sebagai sesuatu yang bisa dimanfaatkan dan bahkan menjadi amal,” ujar Taufik.

Taufik menegaskan, instruksi Wali Kota tentang pengelolaan sampah berbasis sumber menjadi landasan kuat lahirnya inovasi tersebut. Kecamatan, menurut dia, memiliki peran strategis sebagai penghubung antara kebijakan pemerintah kota dan praktik nyata di tingkat warga.

“Ketika Ibu Wali Kota menekankan pentingnya pemilahan dan pengelolaan sampah dari rumah tangga, kami di kecamatan harus menerjemahkannya dalam bentuk gerakan yang konkret dan mudah dijalankan masyarakat,” katanya.

Menurut Taufik, sedekah tidak selalu identik dengan uang atau barang bernilai tinggi. Minyak jelantah yang sering dianggap tidak berguna justru dapat menjadi sarana kebaikan berlipat.

“Kami ingin masyarakat memahami bahwa sedekah itu luas maknanya. Bahkan minyak jelantah pun bisa menjadi jalan ibadah sekaligus upaya menjaga bumi. Kalau ini dilakukan bersama-sama, dampaknya bukan hanya bagi lingkungan, tetapi juga mempererat hubungan sosial antarwarga,” ujarnya.

Di tengah tantangan pengelolaan sampah perkotaan yang semakin kompleks, langkah kecil dari dapur rumah tangga di Banjarbaru Utara menjadi pesan kuat: perubahan besar bisa tumbuh dari kesadaran sederhana bahwa limbah yang dikelola dengan bijak bukan lagi sumber masalah, melainkan sumber kebermanfaatan.

“Gerakan ini mungkin sederhana, tetapi jika konsisten dilakukan, kami yakin Banjarbaru Utara bisa menjadi contoh bahwa menjaga lingkungan dan berbuat kebaikan bisa berjalan beriringan,” kata Taufik.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA