Dari Botol Bekas Menjadi Berkah: Sedekah Sampah di SDN 4 Syamsudin Noor
waktu baca 3 menit
Jumat, 10 Apr 2026 05:48 425 Banjarbaru Emas 2
Foto : Kepala SDN 4 Syamsudin Noor, Rahmita Sari SPd, memantau kegiatan sedekah botol yang digelar setiap Jumat di halaman sekolah, Jumat (10/4/2026).(BE)
BANJARBARUEMAS.COM – Transformasi pengelolaan sampah di Banjarbaru terus bergerak dari hulu. Jika sebelumnya perubahan dimulai dari rumah-rumah warga melalui inisiatif sejumlah rukun tetangga, kini gelombang kesadaran itu menjalar ke sekolah. Anak-anak tak lagi sekadar diajak membuang sampah pada tempatnya, tetapi dilibatkan langsung dalam praktik memilah dan mengelolanya.
Salah satu contoh nyata terlihat di SDN 4 Syamsudin Noor. Sejak setahun terakhir, sekolah ini menjalankan gerakan “sedekah botol” yang bekerja sama dengan Bank Sampah Markissa, RT 33 Kelurahan Syamsudin Noor.
Setiap Jumat, siswa diminta membawa minimal dua botol plastik bekas dari rumah. Botol-botol itu bukan sekadar dikumpulkan, tetapi dipilah, ditimbang, lalu disalurkan melalui bank sampah untuk dijual kembali.
Kepala sekolah, Rahmita Sari SPd, mengatakan program tersebut sempat jeda selama libur puasa dan Lebaran, dan kembali dimulai pada Jumat (10/04/2026).
“Hari ini perdana kami lakukan setelah libur puasa dan lebaran. Masing-masing anak dua botol, kalau lebih boleh karena prinsipnya sumbangan. Intinya adalah barang berupa botol yang sudah tidak terpakai atau menjadi sampah di rumah, dan ini dilakukan setiap hari Jumat,” ujarnya seusai kegiatan.
Menurut Rahmita, gerakan ini bukan sekadar pengumpulan sampah plastik. Ada nilai pendidikan yang ingin ditanamkan: kepedulian lingkungan sekaligus empati sosial. Botol yang terkumpul diambil oleh Bank Sampah Markissa, hasil penjualannya dibelikan sembako, lalu disalurkan kepada siswa yang membutuhkan, termasuk yatim piatu.
“Sedekah sampah ini sebenarnya salah satu pembelajaran bagi siswa untuk peduli dan juga sarana memilah sampah di masyarakat. Hasil dari penjualan itu kami belikan sembako, kami berikan kepada siswa yatim piatu. Secara tidak langsung siswa kami belajar untuk beramal,” katanya.
Arya, siswa kelas enam, mengaku senang dengan kegiatan tersebut. Di rumahnya, botol plastik kerap menumpuk dibuang begitu saja.
“Sampah botol sekarang ada di mana-mana, termasuk di rumah saya. Jadi dengan kegiatan ini kami bisa sedekah ke sekolah. Apalagi setelah dijual, uangnya dibelikan sembako oleh guru dan disumbangkan kepada teman kami yang membutuhkan,” ucapnya.
Ia bahkan secara khusus meminta orang tuanya untuk tidak langsung membuang botol plastik bekas di rumah.
“Di rumah Arya sering mengingatkan Ayah atau Ibu, kalau ada botol plastik bekas harus disimpan. Nanti bisa Arya bawa ke sekolah untuk disedekahkan, supaya bisa bantu kawan-kawan yang kurang mampu,” tambahnya polos.
Gerakan ini tak berdiri sendiri. Di baliknya ada inisiatif warga yang lebih dulu menggulirkan pemilahan sampah dari lingkungan tempat tinggal. Yoni Setiawan, Ketua RT 33 RW 07 Kelurahan Syamsudin Noor sekaligus inisiator program MARKISSA, melihat peluang membangun kolaborasi dengan sekolah. Ia mengajukan izin untuk meletakkan satu kotak penampung botol plastik di sekolah dan mendapat sambutan terbuka.
Menurut Yoni, sekolah adalah ruang paling strategis untuk menanamkan kesadaran sejak dini. Ia optimistis, anak-anak yang hari ini belajar memilah sampah akan tumbuh dengan cara pandang berbeda terhadap sampah.
Ia bahkan menyebut, kini sudah ada siswa yang spontan memungut botol plastik yang tercecer untuk dimasukkan ke kotak sedekah. Bagi Yoni, perubahan perilaku kecil itu adalah indikator keberhasilan pendidikan lingkungan.
“Kalau sejak kecil mereka sudah terbiasa memilah dan melihat bahwa sampah bisa menjadi sedekah, maka ketika dewasa mereka tidak lagi memandang sampah sebagai masalah semata. Ini cara menanamkan kesadaran tanpa memaksa. Kami ingin anak-anak Banjarbaru tumbuh dengan kebiasaan memilah dari rumah,” pungkas Yoni.
Tidak ada komentar