Iklan — 728×90
Zona Iklan
Iklan — 728×90

Posyandu Tanpa Dinding, Strategi Banjarbaru Membangun Layanan Dasar Terpadu Menuju Banjarbaru Emas

17 Desember 2025
05:39 WIB
4 mnt baca
14 tayangan
Bagikan: Facebook X

BANJARBARUEMAS.COM — Tantangan pelayanan kesehatan dasar di Indonesia kian kompleks seiring besarnya jumlah penduduk dan ketimpangan akses layanan. Di tengah kondisi tersebut, Posyandu kembali menemukan relevansinya melalui inovasi “Posyandu Tanpa Dinding”, sebuah pendekatan pelayanan berbasis komunitas yang adaptif terhadap kebutuhan zaman.

Gagasan tersebut disampaikan Prof. Dr. Husaini, M.Kes, Staf Ahli Posyandu Kota Banjarbaru, saat memaparkan materi bertajuk “Integrasi Layanan Dasar dalam Posyandu 6 Bidang Standar Pelayanan Minimal (SPM) di Kota Banjarbaru” dalam Temu Kader Posyandu dan Tim Pembina Posyandu se-Kota Banjarbaru, Rabu (17/12/2025).

Dalam paparannya, Prof. Husaini menegaskan bahwa Indonesia dengan populasi lebih dari 270 juta jiwa masih menghadapi persoalan serius di sektor kesehatan ibu dan anak. Angka Kematian Ibu (AKI) tercatat 189 per 100.000 kelahiran hidup, tertinggi kedua di ASEAN setelah Kamboja. Artinya, sekitar 9.450 ibu meninggal setiap tahun dari kurang lebih lima juta persalinan.

“Masalahnya bukan semata ketersediaan layanan, tetapi akses, kesadaran, dan kesinambungan pelayanan. Di sinilah Posyandu harus bertransformasi,” ujar Husaini.

Jejak Sejarah dan Esensi Posyandu

Posyandu bukanlah konsep baru. Cikal bakalnya bermula dari Program Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa (PKMD) tahun 1975, yang saat itu masih terfragmentasi dalam berbagai pos layanan seperti pos gizi, pos KB, dan pos imunisasi. Fragmentasi tersebut menyulitkan koordinasi dan membebani sumber daya.

Melalui Instruksi Bersama Menteri Kesehatan, Menteri Dalam Negeri, dan Kepala BKKBN tahun 1984, berbagai layanan tersebut dilebur menjadi Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu). Pencanangan massal Posyandu oleh Presiden Soeharto pada Hari Kesehatan Nasional 1986 di Yogyakarta menandai perluasan Posyandu secara nasional, dengan dukungan kuat dari Gerakan PKK yang digerakkan Ibu Tien Soeharto.

Sejak itu, Posyandu berkembang sebagai sistem pelayanan kesehatan berbasis masyarakat yang dijalankan dari, oleh, untuk, dan bersama masyarakat, dengan fokus pada ibu, bayi, balita, hingga lansia.

Keterbatasan Posyandu Konvensional

Namun, Prof. Husaini menilai model Posyandu konvensional menghadapi sejumlah hambatan struktural. Tidak semua wilayah memiliki infrastruktur memadai, jarak geografis kerap menyulitkan ibu hamil dan lansia, serta kesadaran masyarakat terhadap pemeriksaan rutin masih relatif rendah.

Kondisi ini berdampak pada tingginya Angka Kematian Bayi (AKB) sebesar 16,85 per 1.000 kelahiran hidup, serta prevalensi stunting nasional mencapai 21,6 persen, jauh dari target 14 persen pada 2024. Penurunan stunting pun dinilai sangat lambat, rata-rata hanya 0,8 persen per tahun.

Posyandu Tanpa Dinding: Layanan Mendekat ke Warga

Sebagai respons, diperkenalkanlah konsep Posyandu Tanpa Dinding, yakni layanan yang tidak lagi bergantung pada satu bangunan fisik. Pelayanan dapat dilakukan melalui kunjungan rumah, layanan mobile, pemanfaatan ruang publik seperti taman dan balai warga, hingga penggunaan teknologi digital melalui E-Posyandu.

“Posyandu harus hadir di mana masyarakat berada, bukan menunggu masyarakat datang,” kata Husaini.

Pendekatan ini memungkinkan deteksi dini masalah kesehatan, edukasi yang lebih personal sesuai kondisi keluarga, serta rujukan yang terintegrasi dengan puskesmas dan rumah sakit.

Integrasi 6 Bidang SPM: Posyandu sebagai Satu Pintu Layanan

Lebih jauh, Prof. Husaini menekankan pentingnya Integrasi 6 Bidang Standar Pelayanan Minimal (SPM) dalam Posyandu. Keenam bidang tersebut meliputi kesehatan, pendidikan, pekerjaan umum, perumahan rakyat, ketentraman dan ketertiban umum (Trantibum), serta perlindungan masyarakat (Linmas), dan kesejahteraan sosial.

Dengan integrasi ini, Posyandu tidak lagi hanya melayani urusan kesehatan ibu dan anak, tetapi menjadi pusat pelayanan terpadu dan pengaduan masyarakat di tingkat kelurahan. Model ini memungkinkan pelayanan komprehensif, responsif terhadap kebutuhan lokal, efisiensi sumber daya, serta koordinasi lintas sektor dengan organisasi perangkat daerah (OPD).

Posyandu ILP dan Teknologi Digital

Transformasi tersebut diperkuat melalui pengembangan Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) yang melayani seluruh siklus kehidupan—mulai dari ibu hamil hingga lansia. Layanannya mencakup skrining penyakit tidak menular, imunisasi, konseling gizi, deteksi dini stunting, hingga promosi Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas).

Pemanfaatan E-Posyandu memungkinkan pencatatan digital, monitoring real-time, serta integrasi data hingga tingkat nasional. “Data yang akurat adalah fondasi kebijakan yang tepat,” ujar Husaini.

Menurut Prof. Dr. Husaini, M.Kes, Posyandu Tanpa Dinding merepresentasikan paradigma baru pelayanan dasar yang inklusif, proaktif, dan berkelanjutan, sekaligus menegaskan bahwa investasi pada layanan berbasis masyarakat adalah investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia, pertumbuhan ekonomi, dan keadilan sosial. Ia menekankan bahwa Posyandu tidak lagi dapat dipahami semata sebagai tempat penimbangan balita, melainkan sebagai simpul strategis pembangunan manusia. “Posyandu bukan sekadar tempat timbang balita, tetapi garda terdepan pembangunan sumber daya manusia. Ketika layanan kesehatan, pendidikan, sosial, dan perlindungan masyarakat hadir lebih dekat dan terintegrasi, di situlah fondasi Banjarbaru Emas dibangun—dari keluarga, oleh masyarakat, dan untuk masa depan kota serta Indonesia yang sehat dan berdaya,” pungkasnya.(be)

Artikel ini bermanfaat? Bagikan: Facebook X

Banjarbaru Emas 2

Jurnalis — Meridian News
Iklan — 728×90
Zona Iklan
Iklan — 728×90

💬 Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.