BANJARBARUEMAS.COM – Program prioritas Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banjarbaru terus diarahkan untuk mendukung perwujudan visi misi Wali Kota, khususnya pada Misi 2 yakni membentuk sumber daya manusia (SDM) yang berakhlak mulia dan berdaya saing.
Fokus utama Dinkes adalah meningkatkan kualitas SDM yang sehat dan cerdas, yang tercermin dari indikator usia harapan hidup masyarakat.
Kepala Dinas Kesehatan Banjarbaru, dr Juhai Tri Agustina menegaskan, sektor kesehatan memegang peran strategis dalam menciptakan SDM unggul. Berbagai program pun digulirkan, mulai dari penguatan sarana prasarana, inovasi layanan kesehatan, hingga intervensi percepatan penurunan stunting.
“Di bidang sarana dan prasarana, Dinkes melakukan penyediaan ambulans di lima kecamatan guna mempercepat penanganan ibu hamil berisiko tinggi dan balita. Selain itu, pemenuhan alat antropometri untuk pemantauan tumbuh kembang anak dilakukan di seluruh Posyandu, rumah sakit, hingga PAUD dan TK,”ungkapnya, Senin (3/05/2026).
Peningkatan layanan kesehatan juga diperkuat dengan penyediaan alat USG di 10 puskesmas, oksimeter untuk deteksi dini penyakit jantung bawaan pada bayi, pembangunan Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas) tingkat kota, pembangunan Pustu Komet, serta penambahan dan perbaikan fasilitas puskesmas.
Tak hanya infrastruktur, Dinkes juga menghadirkan berbagai inovasi kesehatan. Di antaranya EDUMIL (edukasi ibu hamil berbasis video), Germil Emas (Gerakan Ibu Hamil Sehat Menuju Generasi Emas), Gema Siaga Sehat, Rambai Emas, hingga Si Paman (Sistem Informasi Pemeriksaan Kualitas Air Minum Aman).
Dalam upaya menekan angka stunting, Banjarbaru mencatat prevalensi sebesar 15,4 persen berdasarkan SSGI 2024, dan 10,2 persen berdasarkan data SIGIZI KESGA. Angka ini tergolong rendah di Kalimantan Selatan, bahkan menjadi yang terendah kedua dari 13 kabupaten dan kota.
“Berbagai intervensi dilakukan secara menyeluruh, mulai dari remaja putri hingga balita. Untuk remaja dan ibu hamil, dilakukan skrining anemia, pemberian tablet tambah darah, pemeriksaan kehamilan rutin, hingga pemberian makanan tambahan. Sementara untuk balita, dilakukan pemantauan tumbuh kembang, pemberian ASI eksklusif, MPASI, imunisasi lengkap, hingga pemberian makanan tambahan berbasis pangan lokal,” bebernya.
Selain itu, intervensi lintas siklus hidup juga diperkuat, termasuk keberhasilan Banjarbaru sebagai daerah Open Defecation Free (ODF) sejak 2021, Dinkes juga mencatat angka kematian ibu (AKI) tahun 2025 sebesar 65 per 100.000 kelahiran hidup (3 kasus), dan angka kematian bayi (AKB) sebesar 6,5 per 1.000 kelahiran hidup (30 kasus). Upaya penanganan terus dilakukan melalui peningkatan layanan kesehatan ibu dan anak.
“Dalam penanganan gizi buruk, seluruh balita yang terdiagnosis akan dirawat di RS Idaman Banjarbaru. Pada 2025 tercatat 39 kasus balita gizi buruk tanpa komplikasi, yang seluruhnya mendapatkan intervensi berupa pemberian makanan tambahan pemulihan,” tegas Juhai.
Dengan berbagai program tersebut, Dinas Kesehatan optimistis dapat terus meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, sekaligus menjadi fondasi kuat dalam mewujudkan SDM Banjarbaru yang unggul, sehat, dan berdaya saing.
Untuk diketahui sepuluh penyakit terbanyak di Banjarbaru antara lain hipertensi, diabetes melitus, gangguan lambung, penyakit paru kronis, hingga gangguan saraf. Untuk mengatasinya, Dinkes mengedepankan deteksi dini melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG), penguatan promotif dan preventif seperti vaksinasi dan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas), serta edukasi kesehatan secara masif.(be)