BANJARBARUEMAS.COM – Di Kelurahan Guntung Paikat, kerja sosial tumbuh dari kepekaan, dari kemampuan membaca satu persoalan kecil, lalu memilih untuk tidak membiarkannya lewat begitu saja.
Nama anak itu Riski.
Kisahnya datang dari sebuah pesan singkat yang diterima Lurah Reza.
Tentang seorang anak yang berhenti sekolah, membantu orang tuanya berjualan kerupuk keliling. Sebuah cerita yang, di banyak tempat, mungkin akan berlalu sebagai kabar biasa. Namun di Guntung Paikat, kabar itu ditindaklanjuti.
Tim kelurahan bergerak mencari alamatnya.
Tidak berhenti sampai menemukan, Riski dan orang tuanya kemudian dihadirkan ke kantor kelurahan. Pertemuan itu berlangsung tanpa tekanan, tanpa bahasa yang menggurui. Hanya percakapan pelan tentang masa depan, tentang pilihan yang sempat terhenti.
Di ruang sederhana itu, Lurah Guntung Paikat, Reza Pahlevi, tidak berdiri sebagai pejabat. Ia duduk sebagai penghubung, menyatukan realitas ekonomi keluarga dengan hak seorang anak untuk tetap belajar.
“Pemimpin yang bijak tidak selalu benar, tetapi selalu mau belajar. Pemimpin sejati hadir bukan untuk dilayani, tetapi untuk memberdayakan dan menguatkan dalam melayani.”
Apa yang ia ucapkan, terlihat dalam apa yang ia kerjakan.
Melalui LUMRAH (Lurah Menyapa Dengan Ramah), pendekatan dilakukan tanpa jarak. Bukan sekadar mendata, tetapi mendatangi. Bukan sekadar mencatat, tetapi memahami.
Bersama kader PKK, Bhabinkamtibmas, ketua RT, dan perangkat kelurahan, mereka datang ke rumah Riski, melihat langsung, mendengar langsung, memastikan tidak ada yang terlewat.
Di sana, kenyataan menjadi lebih jelas.
Riski berhenti sekolah sejak kelas 4 SD. Ia masih bisa membaca, tetapi mulai kehilangan kemampuan menulis. Di usianya, ia sudah ikut menanggung beban keluarga.
Namun yang lebih sunyi dari itu adalah satu hal lain: keluarganya belum tercatat dalam sistem.
Mereka belum masuk dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN), pintu masuk bagi berbagai bantuan sosial. Keluarga ini merupakan pendatang dari Banjarmasin, yang sempat tidak menyelesaikan proses administrasi saat berpindah.
Bagi banyak orang, itu mungkin alasan untuk menunda.
Di Guntung Paikat, itu menjadi alasan untuk bergerak lebih cepat.
Data langsung dikumpulkan. Diverifikasi. Diusulkan. Tidak ada jeda yang dibiarkan terlalu lama.
Di saat yang sama, kebutuhan paling dasar pun tidak diabaikan. Riski tidak memiliki sepatu. Tidak memiliki pakaian sekolah. Hal-hal kecil yang sering kali justru menjadi penghalang terbesar. Semua itu dipenuhi, sebagian dari lurah, sebagian dari gerakan PKK.
Lalu pendampingan berlanjut.
Riski tidak hanya diminta kembali sekolah. Ia diantar. Didaftarkan. Dipastikan siap. Bahkan ketika pilihan sekolah harus disesuaikan dengan keinginan keluarga yang menginginkan lokasi dekat rumah, kelurahan tetap mencari jalan.
Pilihan akhirnya jatuh pada Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) di sekitar Guntung Paikat. Di sana, Riski akan melanjutkan pendidikan setara kelas 6 SD.
Jika tidak ada perubahan, Juni ini ia kembali belajar.
Sederhana. Tetapi tidak ringan.
Karena yang dihadapi bukan hanya soal sekolah, melainkan soal keadaan, kemiskinan, keterbatasan, dan sistem yang sempat tidak menjangkau.
Di titik itu, kerja sosial menemukan maknanya.
Bukan pada seberapa banyak program dijalankan, tetapi pada seberapa jauh satu persoalan diikuti sampai tuntas.
Dari satu pesan singkat, menjadi satu gerakan.
Dari satu anak yang sempat berhenti, menjadi satu masa depan yang diselamatkan.
Dan di antara semua itu, kepemimpinan tidak berdiri di depan untuk terlihat.
Ia berjalan di tengah, menyapa, mendengar, dan memastikan tidak ada yang tertinggal.(be)

Tinggalkan Balasan