Creative Talk #11 Komite Ekraf Banjarbaru Menyusuri Jejak Cempaka Menuju Living Museum

waktu baca 5 menit
Kamis, 5 Mar 2026 15:27 211 Banjarbaru Emas 2

BANJARBARUEMAS.COM – Lapangan Murjani kembali menjadi ruang percakapan publik yang hangat pada Kamis malam (5/3/2026). Di tengah suasana Ramadan dan keramaian pengunjung yang memadati kawasan pusat kota, Stand Komite Ekonomi Kreatif (Ekraf) Banjarbaru menghadirkan Creative Talk #11 bertema “Menuju Cempaka Living Museum”. Diskusi yang dimulai pukul 21.00 WITA itu berlangsung hidup dan disambut antusias pengunjung yang banyak baru pertama kali mendengar kisah-kisah sejarah dan budaya dari kawasan Cempaka.

Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber, yakni Lurah Palam Zulhulaifah, SE., MM serta Ruslan, petutur budaya dari Kelurahan Sungai Tiung, Kecamatan Cempaka. Percakapan dipandu oleh Harie Insanie Putra dalam format dialog terbuka yang mengajak publik menyusuri jejak sejarah lokal, cerita lisan masyarakat, hingga potensi kebudayaan yang selama ini hidup di tengah warga.

Creative Talk ini digelar oleh Komite Ekraf Banjarbaru sebagai bagian dari upaya membuka ruang diskusi mengenai identitas budaya Banjarbaru, khususnya kawasan Cempaka yang selama ini dikenal sebagai wilayah tambang intan tradisional. Melalui diskusi publik, gagasan menjadikan Cempaka sebagai living museum, ruang hidup kebudayaan yang terus berinteraksi dengan masyarakat, diharapkan dapat dipahami dan didukung bersama.

Gagasan tersebut bukanlah wacana baru. Pada Februari lalu, Komite Ekraf Banjarbaru bersama Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby telah menyampaikan konsep pengembangan Cempaka sebagai living museum dalam audiensi dengan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon di Jakarta. Dalam pertemuan itu, Cempaka diproyeksikan sebagai kawasan yang tidak sekadar menyimpan artefak sejarah, tetapi menghadirkan tradisi, cerita rakyat, dan praktik budaya yang tetap hidup di tengah masyarakat.

“Cempaka itu sebenarnya sangat kaya cerita. Ia bukan hanya tentang tambang intan, tetapi juga tentang sejarah kampung, tradisi masyarakat, dan kearifan lokal yang masih terjaga,” ujar Ruslan di hadapan pengunjung.
Ruslan, yang sejak 2009 dipercaya sebagai ketua kelompok sadar wisata (pokdarwis) di kawasan Pumpung, menuturkan bahwa generasi muda kini mulai jauh dari tradisi mendulang intan secara tradisional. Padahal, menurutnya, aktivitas tersebut dahulu menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat.

“Sekarang mungkin hanya satu dua orang yang masih tahu bagaimana cara mendulang. Anak-anak muda banyak yang sudah tidak mengenalnya lagi,” katanya.

Ia kemudian menjelaskan berbagai istilah dan praktik tradisional dalam aktivitas mendulang. Intan, misalnya, tidak pernah disebut secara langsung oleh para pendulang, melainkan disebut dengan istilah “galuh”. Dalam proses mendulang, para pekerja juga menjaga sikap dan ucapan, karena dipercaya kata-kata ceroboh dapat memengaruhi keberuntungan.

Peralatan mendulang yang disebut linggangan juga memiliki filosofi tersendiri. Alat ini biasanya dibuat dari kayu jingga yang dibelah dua dan dipilih karena seratnya dianggap mampu “mengikat” intan. Bahkan proses melubangi linggang secara tradisional dilakukan oleh perempuan yang sedang mengandung anak pertama, sebuah praktik yang dipercaya membawa keberuntungan.

Selain tradisi mendulang, Ruslan juga memaparkan asal-usul penamaan sejumlah wilayah di Cempaka. Nama Cempaka, menurut cerita lisan masyarakat, berasal dari banyaknya pohon cempaka yang dahulu tumbuh di kawasan tersebut. Sementara Sungai Tiung dinamai karena banyaknya burung tiung di sepanjang aliran sungai, dan Bangkal merujuk pada keberadaan pohon bangkal yang tumbuh di wilayah itu.

Cerita itu juga berkaitan dengan masa kolonial ketika masyarakat berusaha menghindari kejaran tentara Belanda. Warga yang melarikan diri ke hutan membuat penanda tempat berkumpul dengan menyebut lokasi-lokasi tersebut.

“Orang-orang dulu saling memberi kode penanda tempat, kalau lari dari kejaran Belanda, kita bertemu di Cempaka, Sungai Tiung, atau Bangkal,” tutur Ruslan.

Sementara itu, Lurah Palam Zulhulaifah menyoroti kekayaan sejarah dan kearifan lokal yang berada di wilayahnya, salah satunya Kompleks Makam Asam Janar, situs makam tua yang diyakini masyarakat telah berusia ratusan tahun. Kawasan itu juga dikenal dengan berbagai cerita rakyat yang berkembang di tengah masyarakat.

Menurut Zulhulaifah, di sekitar lokasi makam terdapat sejumlah titik penting, termasuk Sumur Sembilan, sumber mata air yang tidak pernah kering meski berada di kawasan dataran tinggi yang sering mengalami kekeringan.

“Di Palam banyak sekali potensi yang bisa digali. Kami sudah menyampaikan gagasan living museum ini hingga tingkat RT karena wilayah kami memiliki sejarah yang penting untuk dimunculkan,” ujarnya.

Ia juga menyinggung tradisi haul Asam Janar yang digelar setiap bulan Syaban, sebuah kegiatan keagamaan yang terus dijaga masyarakat sebagai bagian dari identitas lokal.

Selain situs sejarah, kawasan Palam juga dikenal dengan tanaman purun, tanaman rawa yang tumbuh subur di bekas danau tambang. Tanaman ini menjadi bahan baku kerajinan tradisional masyarakat yang memiliki nilai ekonomi sekaligus budaya.

Bagi Komite Ekraf Banjarbaru, cerita-cerita semacam ini merupakan fondasi penting dalam membangun konsep living museum. Bukan sekadar menampilkan benda sejarah, tetapi menghadirkan pengalaman hidup dari tradisi, pengetahuan lokal, dan ingatan kolektif masyarakat.

Ketua Komite Umum Ekraf Banjarbaru H. Riandy Hidayat menyebut diskusi publik semacam ini penting agar masyarakat mulai melihat Cempaka sebagai ruang kebudayaan yang hidup.

“Cempaka itu sebenarnya sangat ‘seksi’ dari sisi sejarah dan budaya. Yang kita lakukan malam ini adalah membuka percakapan agar masyarakat kembali menghargai sejarah lokal dan kearifan yang kita miliki,” ujarnya.

Creative Talk #11 pun berakhir menjelang larut malam dengan diskusi yang masih berlanjut di antara pengunjung. Bagi banyak orang yang hadir, malam itu menjadi pengalaman pertama mendengar langsung kisah-kisah lama dari Cempaka, sebuah kawasan yang selama ini hanya dikenal sebagai tempat penambangan intan tradisional, tetapi ternyata menyimpan lapisan sejarah dan budaya yang jauh lebih dalam.(be)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA